Menjemput Magis di Tanah Tengger: Bukan Sekadar Mengejar Matahari Terbit

Oleh: Zakiya

Halo, Sahabat Zakiya! Apa kabar kalian semua? Semoga semangat petualangan di hati kalian tidak pernah padam, ya.

Jujur saja, sudah lama sekali jari-jemari ini gatal ingin menarikan kisah di atas keyboard, membagikan satu potongan mozaik perjalanan yang baru saja aku selesaikan minggu lalu. Kalau biasanya aku bercerita tentang café hopping di tengah kota atau staycation manja di hotel berbintang, kali ini aku menantang diriku sendiri. Aku keluar dari zona nyaman, melawan dingin yang menusuk tulang, demi menyapa salah satu ikon paling megah di Jawa Timur. Ya, benar sekali tebakan kalian. Aku baru saja pulang dari Gunung Bromo.



Mungkin kalian berpikir, "Ah, Bromo lagi. Sudah biasa, Zak!" Tunggu dulu. Ini bukan sekadar cerita tentang naik Jeep dan foto-foto cantik. Ini adalah cerita tentang debu, tentang napas yang tersengal, tentang keramahan yang hangat di tengah suhu 10 derajat, dan tentang perasaan kerdil saat berhadapan dengan alam. Yuk, seduh kopi kalian, dan biarkan aku membawa kalian kembali ke sana.

Perjalanan Menembus Kabut Dini Hari

Perjalananku dimulai dari Malang tepat pukul 00.30 WIB. Ya, tengah malam buta! Rasanya aneh harus bangun dan mandi (atau sekadar cuci muka, ssst!) di saat orang lain sedang nyenyak-nyenyaknya tidur. Aku menggunakan jasa Open Trip yang menjemputku dengan mobil MPV sebelum akhirnya dioper ke basecamp Jeep di daerah Tumpang.

Di sinilah sensasi itu dimulai. Pindah ke Toyota Land Cruiser FJ40 alias Jeep Hardtop tua itu rasanya seperti masuk ke mesin waktu. Suara mesinnya yang menderu kasar, bau solar yang menyengat namun khas, dan guncangan suspensi yang keras justru menjadi "kopi" pertamaku. Kami menembus kegelapan hutan, jalanan berkelok tajam, dengan hanya ditemani sorot lampu kuning Jeep dan jutaan bintang di langit yang—Masya Allah—terlihat sangat jelas karena minimnya polusi cahaya. Rasanya seperti sedang diculik menuju dunia lain.

King Kong Hill: Drama Menunggu Sang Surya

Banyak orang bilang Penanjakan 1 adalah spot terbaik, tapi sopir Jeep kami, Pak Budi, menyarankan ke King Kong Hill. Katanya, view-nya lebih luas meski jalurnya sedikit lebih menantang. Dan benar saja, tantangannya bukan pada medannya, tapi pada dinginnya!

Saat turun dari Jeep sekitar pukul 04.00 pagi, angin langsung menampar wajahku. Dinginnya bukan main, Sahabat Zakiya. Jaket tebal, sarung tangan, dan kupluk rasanya belum cukup. Tapi, di sinilah letak keseruannya. Ratusan orang berkumpul, berdiri berhimpitan di pagar pembatas tebing, semua menatap ke arah timur dengan penuh harap. Ada rasa persaudaraan yang aneh di sana; kami semua sama-sama kedinginan, sama-sama mengantuk, tapi sama-sama optimis.

Ketika semburat jingga mulai muncul malu-malu di ufuk timur, suasana yang tadinya riuh mendadak hening. Perlahan, siluet Gunung Batok yang bergerigi, Gunung Semeru yang gagah di kejauhan dengan asapnya, dan kawah Bromo yang menganga mulai terlihat. Momen ketika matahari benar-benar pecah menyinari kaldera itu... speechless. Aku merasa sangat kecil. Segala masalah pekerjaan dan deadline di kota rasanya hilang ditelan lautan awan yang bergulung di bawah sana. Itu bukan sekadar pemandangan, itu adalah terapi jiwa.

Lautan Pasir Berbisik: Mars di Jawa Timur

Setelah puas (dan beku) di sunrise point, kami turun ke kaldera, menuju area yang sering disebut "Pasir Berbisik". Pengalaman di sini sangat berbeda. Jika di atas tadi rasanya spiritual, di bawah sini rasanya seperti berada di film Mad Max atau sedang mendarat di Planet Mars.

Hamparan pasir vulkanik abu-abu membentang sejauh mata memandang. Angin di sini kencang sekali, menerbangkan butiran pasir yang kalau tidak hati-hati bisa masuk ke mata dan mulut (catatan penting: bawa kacamata hitam dan masker!). Suara angin yang bergesekan dengan pasir memang terdengar seperti bisikan, memberikan nuansa mistis namun eksotis.

Yang unik di sini adalah deretan Jeep warna-warni yang parkir berjejer. Kontras warna Jeep yang merah, hijau, kuning, beradu dengan latar belakang pasir abu-abu dan langit biru tua, menciptakan komposisi visual yang aesthetic banget. Aku sempat berlari-lari kecil di sana, merasakan tekstur pasir yang padat namun lembut. Rasanya bebas, lepas!

Kawah Bromo: Ujian Fisik dan Bau Belerang

Ini bagian yang paling menguras tenaga. Untuk melihat kawah aktif Bromo dari dekat, kita harus berjalan kaki sekitar 1,5 km dari parkiran Jeep, lalu menaiki sekitar 250 anak tangga. Terdengar mudah? Coba lakukan itu di ketinggian 2.300 mdpl dengan kadar oksigen yang lebih tipis dan masker yang menutupi hidung karena debu.

Napas rasanya pendek sekali. Tiap sepuluh langkah, aku harus berhenti. Tapi, melihat orang-orang tua Suku Tengger yang dengan santainya berjalan naik-turun, aku jadi malu kalau menyerah.

Sesampainya di bibir kawah, bau belerang langsung menyergap. Baunya memang seperti telur busuk, tapi pemandangannya membayar lunas segalanya. Suara gemuruh dari dalam perut bumi terdengar jelas, asap putih mengepul tebal. Mengerikan sekaligus memukau. Di sini, aku benar-benar merasakan bahwa bumi ini hidup, bernapas, dan bergejolak. Hati-hati ya, pagar pembatas di bibir kawah tidak terlalu tinggi, jadi jangan terlalu asyik selfie sampai lupa keselamatan.

Realita Keramaian: Antara Manusia dan Kuda

Aku harus jujur pada kalian, Sahabat Zakiya. Kalau kalian membayangkan Bromo itu sepi dan tenang seperti di foto kartu pos, kalian salah. Bromo itu ramai. Sangat ramai.

Di jalur menuju kawah, kita harus berbagi jalan dengan ratusan pejalan kaki lain, motor trail yang berseliweran, dan—ini yang paling ikonik—kuda-kuda yang disewakan. Debu beterbangan di mana-mana akibat kaki kuda. Kita harus pintar-pintar bermanuver agar tidak tertabrak atau terinjak kotoran kuda (ya, ini risiko nyata!).

Namun, keramaian ini justru punya pesonanya sendiri. Melihat antusiasme turis asing, melihat keluarga yang membawa anak balita, hingga fotografer dengan lensa segede gaban, semuanya menciptakan energi yang dinamis. Bromo bukan tempat untuk menyepi, tapi tempat untuk merayakan alam bersama-sama.

Kearifan Lokal: Senyum Hangat Suku Tengger

Satu hal yang membuatku jatuh cinta selain alamnya adalah penduduk lokalnya, Suku Tengger. Mereka mudah dikenali, biasanya mengenakan sarung yang dikalungkan di leher atau diselimpangkan di badan. Fungsi sarung ini bukan cuma fashion, tapi memang untuk menahan dingin.

Aku sempat mengobrol dengan Pak Slamet, seorang penyewa kuda. Awalnya aku menolak naik kuda karena ingin berhemat dan merasa kuat (sombong, ya?). Tapi Pak Slamet tidak memaksa dengan kasar. Dia justru menemani berjalan beberapa meter sambil bercerita tentang kudanya yang bernama "Joko".

Keramahan mereka tulus. Mereka tidak terlihat seperti pedagang yang agresif, melainkan seperti tuan rumah yang ingin tamunya nyaman. Di tengah kerasnya alam Bromo, kelembutan tutur kata orang Tengger adalah penyeimbang yang manis.

Fasilitas: Toilet "Mahal" dan Warung Penyelamat

Bicara soal fasilitas, jangan berharap kemewahan. Toilet umum tersedia di beberapa titik pemberhentian Jeep dan di area parkir Pura Luhur Poten, tapi kondisinya... yah, "standar petualang". Bersih seadanya, dan seringkali antre. Oh ya, siapkan uang receh Rp2.000 sampai Rp5.000, karena di sini tidak ada yang gratis.

Tapi, pahlawan sesungguhnya adalah warung-warung tenda di sekitar area parkir Jeep. Setelah kedinginan di sunrise point, secangkir kopi panas, teh manis, atau mie instan rebus (dengan irisan cabai rawit gunung!) rasanya lebih nikmat daripada fine dining di restoran mewah manapun. Aku juga mencoba Pisang Goreng panas dan Jagung Bakar. Makan jagung bakar di tengah dinginnya kabut Bromo? Nikmat mana lagi yang kau dustakan, kawan!

Bedah Budget: Worth It Nggak?

Untuk masuk ke kawasan ini, harga tiketnya cukup masuk akal. Untuk wisatawan domestik saat weekend, tiket masuknya sekitar Rp34.000 (belum termasuk asuransi dan retribusi kendaraan). Tapi pengeluaran terbesar tentu ada di sewa Jeep yang berkisar antara Rp700.000 – Rp1.250.000 per mobil (bisa diisi 5-6 orang), tergantung rute dan titik jemput.

Ada juga biaya tak terduga. Misalnya sewa jaket (Rp20.000), sewa kuda (Rp150.000 – Rp200.000 PP, pintar-pintarlah menawar), atau ojek jika kalian malas jalan dari parkiran bus ke titik shuttle Jeep.

Apakah worth it? Sangat. Dengan total pengeluaran per orang (jika share cost Jeep) yang mungkin hanya berkisar Rp300.000 - Rp500.000, pengalaman yang didapat jauh melebihi nominal uangnya.

Testimoni Si 'Anak Mal': Aza dan 250 Anak Tangga

Oh iya, perjalanan ini rasanya kurang lengkap kalau aku tidak menceritakan sedikit drama dari partner kriminalku, Aza. Kalian yang sudah lama mengikuti blog ini pasti tahu kalau Aza itu definisi sejati "Anak Mal" yang lebih akrab dengan AC dingin daripada angin gunung. Sepanjang perjalanan menaiki tangga menuju kawah, wajahnya sudah ditekuk macam kertas ujian matematika yang gagal, napasnya senin-kamis, dan mulutnya tak berhenti mengomel, "Zak, awas ya kalau view-nya biasa aja, aku minta gendong turun!" Tapi, keajaiban terjadi begitu kami sampai di bibir kawah. Dia mendadak diam, matanya terpaku menatap kedalaman kawah yang berasap. Sambil membenarkan letak kupluknya yang miring, dia berbisik dengan mata berbinar, "Gila ya, Zak. Capekku rasanya kayak dicabut gitu aja. Ini definisi cantik yang menyakitkan, tapi sumpah, ini nagih banget. Besok-besok ajak aku lagi, ya?" Mendengar pengakuan itu dari seorang Aza yang biasanya alergi keringat, aku tahu misi racun traveling-ku kali ini sukses besar!


Penutup: Sepotong Hati Tertinggal di Bromo

Perjalanan ditutup dengan kunjungan ke Bukit Teletubbies (Padang Savana). Kontras sekali dengan lautan pasir. Di sini semuanya hijau, tenang, dan menyegarkan mata. Rasanya seperti dessert manis setelah kita menyantap hidangan utama yang berat.

Sahabat Zakiya, Bromo bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah guru. Ia mengajarkan tentang kesabaran saat menunggu matahari, tentang kekuatan saat mendaki kawah, dan tentang kerendahan hati saat melihat betapa megahnya ciptaan Tuhan.

Pulang dari sana, badanku pegal linu, kulitku agak gosong, dan sepatuku penuh debu yang susah hilang. Tapi hatiku? Hatiku penuh. Bateraiku terisi penuh kembali.

Jadi, kapan kalian mau menyusul jejakku ke sana? Jangan cuma di-wacana-kan di grup WhatsApp ya!