Pengalamanku Berwisata ke Pantai Pasir Putih - Situbondo, Jatim

Melarung Penat di Tepi Jalan Raya Pos: Sebuah Ode untuk Pasir Putih Situbondo

Oleh: Zakiya

Halo, Assalamu’alaikum, teman-teman pembaca setia blog Zakiya! Apa kabar semesta kecil kalian hari ini? Semoga hari-hari kalian tidak sedang abu-abu seperti langit kota yang tertutup polusi, ya.

Jujur saja, belakangan ini isi kepala saya rasanya seperti browser yang membuka 100 tab sekaligus. Lagging, panas, dan butuh refresh. Rutinitas harian yang itu-itu saja—bangun, macet, kerja, macet lagi, tidur—lama-lama membuat jiwa petualang saya meronta-ronta minta "asupan gizi". Dan seperti biasa, ketika panggilan alam itu datang, saya adalah orang yang paling lemah untuk menolaknya.

Akhir pekan kemarin, tanpa rencana yang terlalu njelimet, saya dan Sheila—sahabat saya yang kadar spontanitasnya setara dengan saya—memutuskan untuk menyusuri jalur legendaris Pantai Utara (Pantura) Jawa Timur. Tujuan kami bukan Bali, bukan juga Banyuwangi. Kami mengarahkan kemudi ke sebuah tempat yang seringkali hanya dianggap sebagai "tempat mampir pipis" atau sekadar rest area oleh para pelancong jarak jauh. Padahal, tempat ini menyimpan magisnya sendiri.



Ya, kami berlabuh di Pantai Pasir Putih, Situbondo.

Bagi kalian yang berpikir pantai ini "biasa saja", izinkan Zakiya mengubah perspektif kalian lewat tulisan ini. Siapkan es teh manis kalian, sandarkan punggung, dan mari ikut saya merasakan butiran pasir dan asinnya angin laut Situbondo.

Romantisme Jalur Daendels dan Laut yang Memanggil

Perjalanan menuju ke sana adalah sebuah petualangan tersendiri. Kami berangkat dari Surabaya, menyusuri aspal panas Pantura yang tak pernah tidur. Truk-truk besar menjadi teman seperjalanan. Namun, lelah menyetir seketika terbayar lunas ketika kami memasuki wilayah Kecamatan Bungatan.

Ada satu hal unik yang selalu membuat saya kagum pada Pasir Putih Situbondo, dan ini jarang ditemukan di pantai lain. Letaknya yang benar-benar "menempel" dengan jalan raya. Bayangkan, kalian sedang menyetir, dan di sisi kiri kaca jendela mobil, hamparan laut biru membentang luas tanpa penghalang.

Begitu turun dari mobil, hal pertama yang menyambut saya bukanlah suara klakson, melainkan aroma garam yang pekat bercampur dengan bau ikan bakar yang menggoda iman. Angin di sini bertiup kencang tapi hangat, khas pesisir utara. Rasanya seperti dipeluk oleh kawan lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.



Lengkung Teluk yang Menenangkan Jiwa

Kami masuk ke area pantai saat matahari sedang gagah-gagahnya di atas kepala. Tapi anehnya, saya tidak merasa kepanasan yang menyiksa. Mungkin karena rimbunnya pepohonan yang memagari bibir pantai.

Pantai Pasir Putih ini memiliki topografi yang unik berupa teluk yang melengkung. Karena bentuknya yang cekung inilah, ombak di sini sangat tenang. Berbeda dengan pantai selatan (seperti di Malang atau Pacitan) yang ombaknya galak dan mematikan, ombak di Pasir Putih Situbondo itu sopan sekali. Dia hanya berdesir pelan, menjilati bibir pantai dengan lembut. Ssshhh... ssshhh... begitu suaranya, seperti nyanyian pengantar tidur.

Saya melepas sandal, membiarkan telapak kaki saya bersentuhan langsung dengan pasirnya. Sesuai namanya, pasir di sini memang putih, meski tidak sehalus tepung. Ada tekstur kasar dari pecahan karang kecil dan cangkang kerang yang justru memberikan sensasi pijatan alami di kaki.

Saya berjalan perlahan menyusuri garis pantai. Di kejauhan, terlihat deretan perahu layar tradisional dengan warna-warna mencolok—merah, biru, kuning, hijau—terombang-ambing pelan di tengah laut. Pemandangan ini sangat pictursque, seperti lukisan cat minyak yang hidup. Bukan pemandangan mewah ala beach club di Bali, tapi pemandangan "ndeso" yang jujur dan bersahaja.



Menengok "Akuarium" Tanpa Basah

"Zak, naik perahu yuk!" ajak Sheila sambil menunjuk bapak-bapak nelayan yang melambaikan tangan.

Awalnya saya ragu. Saya bukan perenang handal, dan ide berada di tengah laut dengan perahu kayu kecil agak membuat nyali ciut. Tapi, hei, kapan lagi?

Kami pun menyewa sebuah perahu layar. Dan ini adalah bagian terbaiknya: Perahu wisata di Pasir Putih Situbondo itu punya kearifan lokal yang unik bernama "Kotak Kaca".

Jadi, kita tidak perlu snorkeling atau diving ribet-ribet untuk melihat keindahan bawah lautnya. Di dasar perahu, ada sebuah kotak kaca semacam teropong yang menembus ke air. Lewat kotak itulah, saat perahu melaju ke tengah, kami bisa mengintip kehidupan di dasar laut.

Rasanya seperti menonton televisi, tapi salurannya adalah National Geographic live! Saya melihat terumbu karang yang masih terjaga (meski beberapa ada yang rusak, tapi banyak yang masih cantik), ikan-ikan kecil berwarna neon yang berenang lincah, dan lamun yang bergoyang mengikuti arus.

Sang bapak nelayan—yang kulitnya legam terbakar matahari namun senyumnya secerah pagi—dengan ramah menjelaskan spot-spot karang terbaik. "Di sini ikannya banyak, Neng. Coba lihat," katanya antusias.

Ada kedamaian yang aneh saat berada di tengah teluk itu. Perahu kami dimatikan mesinnya, hanya mengandalkan layar dan angin. Suara bising truk di jalan raya terdengar sayup-sayup, kalah oleh suara kecipak air. Saya memejamkan mata, membiarkan perahu mengayun-ayun tubuh saya. Rasanya semua beban deadline dan ekspektasi orang lain luruh, tenggelam ke dasar laut Situbondo.



Terapi Air Laut dan Nostalgia Masa Kecil

Setelah puas berkeliling dengan perahu, tidak afdal rasanya kalau tidak "nyemplung". Karena ombaknya yang sangat tenang, berenang di sini aman sekali, bahkan untuk anak-anak atau orang dewasa yang kemampuan renangnya pas-pasan seperti saya.

Air lautnya menyegarkan. Tidak terlalu dingin, pas di kulit. Saya dan Sheila bermain air seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat laut. Kami saling ciprat, mengapung telentang menatap langit biru, dan tertawa lepas tanpa takut dihakimi orang.

Kalian tahu? Ada riset yang bilang kalau air laut itu punya kandungan mineral yang bagus untuk detoksifikasi. Entah itu sugesti atau fakta medis, yang jelas setelah berendam selama satu jam, badan saya terasa jauh lebih ringan. Pegal-pegal di pundak hilang, berganti dengan rasa lapar yang luar biasa.

Pesta Ikan Bakar di Bawah Nyiur

Nah, bicara soal lapar, wisata ke Pasir Putih Situbondo adalah dosa besar jika tidak mencicipi kuliner lautnya. Di sepanjang pinggir pantai, berjejer warung-warung sederhana yang menawarkan menu andalan: Ikan Bakar.

Kami memilih sebuah warung lesehan di bawah pohon rindang. Kami memesan ikan kakap merah bakar, cumi asam manis, dan tentu saja, es kelapa muda utuh.

Saat pesanan datang, aromanya saja sudah bikin air liur menetes. Ikan bakarnya dibumbui dengan rempah kuning khas Jawa Timuran yang medok, lalu dibakar di atas arang batok kelapa. Rasanya? Ambyar! Daging ikannya manis dan lembut, berpadu dengan sambal terasi dan sambal kecap yang pedas nendang.

Makan siang di pinggir pantai, dengan tangan telanjang (tanpa sendok garpu, karena makan pakai tangan itu koentji kenikmatan), ditemani angin sepoi-sepoi dan pemandangan laut biru... Sumpah, makanan restoran Michelin Star pun lewat rasanya. Di momen itu, saya merasa menjadi orang paling kaya di dunia. Kaya rasa, kaya suasana.

Senja yang Mengajarkan Keikhlasan

Waktu berjalan begitu cepat jika kita sedang bahagia. Matahari mulai condong ke barat. Langit Situbondo mulai bersolek. Warna biru terang perlahan memudar, digantikan oleh semburat jingga, ungu, dan merah muda.

Momen matahari terbenam atau sunset di Pasir Putih ini punya vibe yang melankolis tapi indah. Karena posisi pantai yang menghadap ke utara, kita bisa melihat matahari turun menyamping, menciptakan siluet perahu-perahu nelayan yang mulai menepi atau justru baru akan berangkat melaut malam.

Saya duduk diam di atas tanggul pembatas, menatap bola api raksasa itu perlahan "ditelan" oleh garis cakrawala. Ada perasaan haru yang tiba-tiba menyeruak. Alam selalu mengajarkan kita tentang siklus. Bahwa ada saatnya bersinar terang, dan ada saatnya untuk pamit undur diri, memberi kesempatan pada bulan dan bintang untuk tampil. Bahwa istirahat (seperti matahari yang terbenam) adalah bagian penting dari kehidupan, bukan tanda kelemahan.

Pengalaman ke Pasir Putih Situbondo kali ini bukan sekadar liburan. Ini adalah perjalanan spiritual kecil-kecilan bagi saya. Tempat ini mengingatkan saya bahwa bahagia itu sederhana. Tidak perlu tiket pesawat mahal ke luar negeri. Cukup perjalanan darat beberapa jam, deburan ombak tenang, dan ikan bakar yang lezat.

Bagi teman-teman yang selama ini hanya menjadikan Pasir Putih Situbondo sebagai tempat lewat saat menuju Bali, cobalah berhenti sejenak. Luangkan waktu barang setengah hari. Sewalah perahunya, bicaralah dengan nelayannya, dan rasakan ritme lambat yang ditawarkan tempat ini. Percayalah, jiwa kalian yang lelah itu akan berterima kasih.



Ramah di Kantong, Lengkap di Hati

Nah, buat teman-teman yang mulai hitung-hitungan budget (karena kita tim liburan hemat tapi mau selamat), tenang saja, dompet kalian aman kok. Tiket masuk ke surga kecil ini sangat terjangkau, hanya dipatok sekitar Rp10.000 saja per orang—lebih murah daripada segelas es kopi susu kekinian di Jakarta, kan? Dengan harga "receh" begitu, fasilitas yang disediakan pengelola sudah sangat memadai dan bikin nyaman. Area parkirnya luas (jadi mobil kita nggak perlu dempet-dempetan mesra sama bus pariwisata), toilet dan kamar bilas air tawarnya berderet banyak dan cukup bersih untuk membilas sisa air asin, serta tersedia mushola yang layak untuk kita menunaikan kewajiban. Bahkan, kalau kalian memutuskan untuk tidak langsung pulang, di seberang jalan raya berjejer penginapan mulai dari kelas melati yang homey sampai hotel yang agak fancy, jadi opsi untuk staycation dadakan sangat terbuka lebar di sini.

Sampai jumpa di cerita petualangan Zakiya selanjutnya. Jangan lupa piknik, dan jangan lupa bahagia!

Salam sayang dari tepi Pantura.


Komentar Sheila (Partner Perjalanan & Penyelamat Sisa Cumi Bakar):

"Heh, Zak! Tulisannya bagus banget sih, padahal aslinya kita di sana rusuh banget! Hahaha. Tapi beneran deh gaes, apa yang dibilang Zakiya itu valid no debat. Pasir Putih Situbondo itu 'underrated' banget. Aku yang awalnya males karena mikir bakal panas dan lengket, malah jadi orang yang paling susah diajak pulang. Highlight perjalananku sih jelas pas naik perahu kotak kaca itu. Awalnya aku teriak-teriak ngeri perahunya kebalik, eh pas udah liat ikan badut di bawah sana, aku malah heboh sendiri sampe diketawain bapak nelayannya. Terus, ikannya... tolong ya, itu sambal pencit (mangga muda)-nya masih kebayang-bayang sampe sekarang. Zak, tanggung jawab! Kapan kita balik ke sana lagi? Aku traktir es kelapa muda deh!"

Lebih baru Lebih lama