Menjemput Kabut dan Belerang: Kisah Tak Terlupakan di Atap Arjuno-Welirang

 

Menjemput Kabut dan Belerang: Kisah Tak Terlupakan di Atap Arjuno-Welirang

Halo, Sahabat Petualang Zakiya!

Apa kabar kalian semua? Semoga semangat kalian masih menyala-nyala, sehangat kopi pagi yang baru diseduh, ya! Senang rasanya bisa kembali menyapa kalian di blog kesayangan kita ini. Jujur, jari-jari Zakiya rasanya sudah gatal sekali ingin menari di atas keyboard. Kenapa? Karena aku baru saja pulang dari sebuah perjalanan yang... wow, susah dijabarkan dengan kata-kata sederhana. Kalau biasanya aku cerita soal pantai yang santai atau staycation cantik di pinggir kota, kali ini Zakiya nekat menantang diri sendiri. Ya, aku baru saja turun dari atap Jawa Timur yang legendaris: Gunung Arjuno-Welirang.

Ini bukan sekadar cerita tentang lelah dan keringat, tapi tentang dialog diam-diam antara manusia kecil ini dengan kemegahan alam yang sedikit mengintimidasi namun memikat. Siapkan camilan kalian, dan yuk, ikut Zakiya mendaki kembali lewat tulisan ini!


Mengapa Arjuno-Welirang?

Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja nama "Arjuno-Welirang" terngiang di kepala. Mungkin karena aku terlalu sering melihat siluet gagahnya saat melintas di jalan tol Pandaan-Malang. Dua puncak yang berdiri berdampingan itu seolah memanggil-manggil. Arjuno dengan ketinggian 3.339 mdpl dan Welirang di 3.156 mdpl.

Banyak yang bilang, gunung ini "berat". Treknya berbatu, panjang, dan katanya punya aura mistis yang kental. Tapi justru itu yang bikin aku penasaran. Aku memilih jalur Tretes, Pasuruan. Kenapa? Karena katanya ini adalah jalur "tulang punggung" yang sesungguhnya. Jalur yang memaksa kita akrab dengan bebatuan cadas tanpa jeda. Dan benar saja, keputusan ini adalah awal dari siksaan yang indah.

Sambutan "Karpet Batu" di Jalur Tretes

Perjalanan dimulai dari Basecamp Tretes. Udara dingin langsung menampar pipi begitu aku turun dari mobil jip. Suasana di pos perizinan cukup ramai, tapi ada ketenangan yang aneh. Setelah mengurus administrasi dan berdoa (ini wajib banget!), kami mulai melangkah.

Awal pendakian, aku pikir akan disuguhi tanah padat atau setidaknya jalan setapak yang "manusiawi". Ternyata? Salah besar, Kawan! Tretes menyambut kami dengan makadam—susunan batu-batu keras yang tertata rapi tapi tak berujung. Pendaki senior sering menyebut jalur ini sebagai "jalur penyiksaan lutut". Tidak ada tanah empuk, yang ada hanya duk, duk, duk, suara sepatu boots menghantam batu.

Namun, di sela-sela nafas yang mulai memburu ("ngos-ngosan" parah sih, aslinya), pemandangannya mulai membius. Hutan pinus menjulang tinggi di kanan-kiri, menciptakan lorong angin yang sejuk. Cahaya matahari sore menerobos celah-celah daun, menciptakan efek ray of light yang magis. Di sini aku belajar satu hal: jangan lihat ke atas untuk mencari ujung jalan, tapi nikmati setiap langkah kakimu. Kalau lihat ke atas terus, rasanya mau putar balik saja!

Bertemu Pahlawan Belerang

Satu hal yang membuat jalur Arjuno-Welirang ini unik dan tidak aku temukan di gunung lain adalah kehadiran para penambang belerang. Di tengah jalur yang bagi aku—hiker amatir dengan tas carrier 60 liter—sudah terasa berat, aku berpapasan dengan bapak-bapak luar biasa.

Mereka memikul keranjang bambu berisi bongkahan belerang kuning pekat. Baunya menyengat. Bebannya? Bisa sampai 70-80 kilogram! Bayangkan, Kawan. Kita yang bawa baju ganti dan sleeping bag saja mengeluh pegal linu, mereka memikul beban seberat motor bebek dengan sandal jepit atau sepatu boot karet sederhana, naik-turun gunung setiap hari.

Aku sempat berhenti dan menyapa, "Monggo, Pak." Bapak itu tersenyum, peluh membasahi wajah tuanya yang guratannya tegas. "Nggih, Mbak. Ati-ati," jawabnya ramah. Senyum itu... ah, rasanya menampar egoku. Di situ aku sadar, bagi Zakiya ini adalah wisata dan pencarian jati diri, tapi bagi mereka, gunung ini adalah kantor dan ladang rezeki. Rasa lelahku mendadak terasa tidak valid lagi. Semangatku terpompa kembali.

Kokopan dan Pondokan: Bermalam di Antara Kabut

Kami memutuskan untuk berkemah di area Pondokan. Ini adalah titik pertemuan sebelum memecah jalur ke puncak Welirang atau Arjuno. Sampai di sana, hari sudah gelap gulita. Kabut tebal turun memeluk tenda-tenda pendaki.

Suasana di Pondokan itu... syahdu tapi mencekam. Angin bertiup kencang, membawa aroma belerang yang samar-samar. Di kejauhan, kadang terdengar suara musik dangdut sayup-sayup dari radio para penambang yang menginap di gubuk-gubuk sederhana mereka.

Malam itu, kami masak mie instan (menu wajib anak gunung, kan?) dan kopi panas. Langit sempat terbuka sebentar, memamerkan ribuan bintang yang rasanya dekat sekali, seolah bisa dipetik. Di momen seperti ini, sinyal HP yang hilang total justru jadi berkah. Kami mengobrol, tertawa lepas tanpa gangguan notifikasi work chat. Zakiya merasa benar-benar "hidup". Dingin yang menusuk tulang (sekitar 10 derajat celcius, brrr!) dikalahkan oleh hangatnya kebersamaan.

Welirang: Negeri di Atas Awan yang Berasap

Pukul 03.00 dini hari, alarm berbunyi. Summit attack! Target pertama: Puncak Welirang. Perjalanan menuju puncak ini benar-benar menguji mental. Jalurnya bukan lagi batu makadam, tapi tanah berpasir dan bebatuan lepas. Semakin ke atas, vegetasi semakin menipis. Pohon-pohon cantigi mulai menghilang, digantikan oleh hamparan batu gersang.

Saat matahari mulai mengintip di ufuk timur, pemandangannya... Masya Allah. Lautan awan terhampar di bawah kaki kami. Dan yang paling ikonik dari Welirang adalah kawahnya. Asap putih tebal mengepul dari perut bumi, membawa bau belerang yang menusuk hidung (masker adalah koentji!).

Berdiri di bibir kawah Welirang rasanya seperti berada di planet lain. Tanahnya berwarna kekuningan dan putih kapur. Tidak ada kehidupan hijau di puncak ini, hanya kesunyian yang agung. Angin di sini kencang sekali, sampai-sampai Zakiya harus berdiri kuda-kuda supaya tidak oleng. Tapi, melihat matahari terbit menyinari asap belerang itu, rasanya semua sakit kaki terbayar lunas. Lunas, nas!

Menyeberang ke Arjuno: Ujian Kesabaran

Belum puas "disiksa" Welirang, kami melanjutkan perjalanan lintas menuju Puncak Arjuno. Kami harus turun dulu, lalu naik lagi melewati area yang dikenal dengan Lembah Kidang dan Alas Lali Jiwo.

Jujur, ini bagian terberat buatku. Kakiku sudah lecet, tenagaku sudah sisa separuh. Jalur menuju Arjuno via Pasar Dieng penuh dengan batu-batu besar yang menuntut kita untuk sedikit memanjat (scrambling). Di sini, mental benar-benar diuji. Ada momen di mana aku duduk di atas batu, menatap puncak yang rasanya kok nggak sampai-sampai, dan hampir menangis.

"Ngapain sih aku capek-capek ke sini? Enakan juga rebahan di kasur," bisik setan kemalasan di kepalaku.

Tapi kemudian, aku melihat bunga Edelweis. Bunga abadi itu tumbuh liar di sela-sela batu cadas. Mereka bertahan hidup di tempat sekeras ini. Masa Zakiya kalah sama bunga?

Dengan sisa tenaga (dan bantuan sebatang cokelat snickers), aku merangkak naik. Dan akhirnya... Puncak Ogal-Agil! Puncak tertinggi Arjuno yang ditandai dengan susunan batu-batu besar yang terlihat tidak seimbang tapi kokoh.

Pemandangannya? 360 derajat keindahan Jawa Timur. Gunung Semeru yang gagah dengan letupan asapnya terlihat jelas di kejauhan, Gunung Kawi, Gunung Penanggungan, semuanya terlihat kecil. Di titik tertinggi itu, aku merasa kerdil. Segala masalah pekerjaan, drama kehidupan, rasanya tidak ada artinya dibandingkan kebesaran alam di depan mata ini. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyeruak di dada. Zakiya berhasil. Aku berhasil mengalahkan diriku sendiri.

Perjalanan Pulang yang Tak Kalah Dramatis

Orang bilang, "puncak adalah bonus, tujuan utama adalah pulang dengan selamat." Dan perjalanan turun dari Arjuno-Welirang via Tretes adalah definisi "lutut bergetar". Turunan batu yang curam memaksa kami harus sangat berhati-hati. Salah injak, bisa tergelincir.

Kaki rasanya sudah seperti agar-agar. Jari-jari kaki terasa perih karena terus-menerus menahan beban tubuh saat mengerem langkah. Tapi, sepanjang jalan pulang, kami ditemani oleh kabut sore yang mistis namun cantik. Hutan cemara yang tadi pagi terlihat cerah, kini berubah menjadi siluet gelap yang misterius.

Kami sampai kembali di basecamp saat malam sudah larut. Kotor, bau keringat campur belerang, muka kucel, tapi hati penuh. Ada kepuasan batin yang tidak bisa dibeli dengan tiket pesawat first class sekalipun.


Perjalanan ke Arjuno-Welirang ini mengajarkan Zakiya banyak hal. Tentang kesabaran, tentang menghargai setiap langkah kecil, dan tentang betapa hebatnya tubuh manusia beradaptasi jika pikiran kita tidak menyerah duluan. Ini bukan gunung untuk pemula yang hanya ingin foto-foto cantik tanpa persiapan fisik, tapi ini adalah gunung bagi mereka yang ingin merenung dan menemukan kekuatan baru dalam diri.

Bagi kalian yang ingin ke sini, pesanku cuma satu: Hormati alam, dan alam akan menjagamu. Jangan lupa bawa sampahmu turun, ya!

Oh iya, dalam perjalanan "gila" ini, Zakiya tidak sendirian. Ada teman seperjuangan yang setia menemani (dan sama-sama menderita), namanya Evelin. Waktu kami sudah sampai di mobil jip untuk pulang, sambil memijat betisnya yang keras kayak batu, dia sempat nyeletuk begini:

"Sumpah ya, Zak! Tadi pas di tanjakan 'Asu' rasanya aku mau pingsan, mau nangis, mau minta dijemput helikopter aja rasanya. Kakiku rasanya mau copot, nafasku kayak mau putus. Aku sempet mikir, 'ngapain sih kita nyiksa diri begini?'. Tapi... pas barusan lihat foto-foto kita di puncak Ogal-Agil, kok mendadak rasa sakitnya ilang semua ya? Cantik banget, gila. Kayaknya bulan depan kalau diajak nanjak lagi, aku bakal bilang 'iya' deh. Dasar manusia nggak kapok-kapok!"

Lebih baru Lebih lama