Raung: Lebih dari Sekadar Mendaki, Ini Adalah Pertaruhan Nyali di Atas Kaldera Raksasa

 

Raung: Lebih dari Sekadar Mendaki, Ini Adalah Pertaruhan Nyali di Atas Kaldera Raksasa

Halo, Sobat Jalan Zakiya! Apa kabar kalian semua?

Semoga kalian masih tetap bersemangat menjalani rutinitas, ya. Jujur, saat jemari ini mulai menari di atas keyboard, lututku rasanya masih sedikit gemetar. Bukan, bukan karena kedinginan AC di kamar, tapi karena sisa-sisa adrenalin dari perjalanan gilaku minggu lalu masih belum sepenuhnya luntur. Sudah lama rasanya aku tidak menyapa kalian dengan cerita yang benar-benar menguras emosi dan fisik seperti ini. Biasanya, aku bercerita tentang pantai yang tenang atau staycation lucu di pinggir kota. Tapi kali ini beda. Kali ini, Zakiya membawa kalian ke atap Jawa Timur yang paling "sadis" namun memikat hati: Gunung Raung via Kalibaru. Siapkan kopi kalian, karena cerita ini bakal panjang, berdebu, dan sedikit memacu jantung.



Sambutan Debu dan Ojek "Maut" Menuju Pos 1

Perjalanan ini dimulai bukan dengan langkah kaki yang heroik, melainkan dengan teriakan tertahan di jok belakang motor ojek. Jalur pendakian Gunung Raung via Kalibaru, Banyuwangi, memang terkenal dengan aksesnya yang unik. Kami—aku dan rombongan kecilku—harus menumpang ojek perkebunan untuk memangkas waktu menuju Pos 1.

Bayangkan saja, motor bebek yang dimodifikasi dengan ban tahu (ban trail) melaju kencang di jalanan berbatu di tengah perkebunan kopi dan pinus. Abang ojeknya? Santai luar biasa, sambil merokok pula. Sementara aku di belakang sudah merapal doa keselamatan. Debu beterbangan ke mana-mana, masuk ke sela-sela masker, menempel di bulu mata. Ini baru permulaan, tapi Raung sudah memberikan "salam tempel" berupa lapisan debu cokelat di seluruh carrier kami.

Sesampainya di Pos 1, suasana berubah drastis. Hening. Hanya suara gesekan daun kopi dan angin yang mulai terasa dingin. Di sini, mental kami mulai diuji. Guide kami, Mas Budi, tersenyum penuh arti saat melihat wajah-wajah kami yang masih segar bugar. "Simpan senyumnya buat nanti di Puncak Sejati, Mbak," candanya. Dan benar saja, ucapan itu seperti ramalan.

Hutan yang Tak Pernah Tidur dan Tanjakan Tanpa Ampun

Masuk ke jalur pendakian, Raung tidak memberikan bonus landai yang berarti. Dari Pos 1 menuju Camp 1 hingga Camp 7 (Pondok Motor hingga Pondok Angin), jalurnya adalah definisi dari "siksaan perlahan". Vegetasinya rapat, khas hutan hujan tropis yang lembap dan gelap. Cahaya matahari seperti kesulitan menembus kanopi pohon yang raksasa.

Ada satu hal yang membuat Raung berbeda dari gunung lain yang pernah kudaki, seperti Semeru atau Prau. Di sini, suasananya terasa lebih "purba". Akar-akar pohon menyembul keluar tanah seperti ular raksasa yang siap menjegal kaki. Kami berjalan dalam diam, mengatur napas yang mulai Senin-Kamis.

Yang paling membekas adalah perjalanan dari Camp 3 ke Camp 4. Tanjakannya curam, tanahnya gembur. Setiap melangkah dua kali, rasanya kami merosot satu langkah ke belakang. Debu vulkanik mulai mendominasi. Di sini aku belajar untuk berdamai dengan kotor. Tidak ada gunanya menjaga pakaian tetap bersih. Wajahku dan teman-teman sudah cemong, seperti tentara yang gagal menyamar. Tapi anehnya, di tengah kelelahan itu, ada momen magis. Saat kami istirahat sejenak, suara burung-burung hutan terdengar sangat jernih, bersahutan dengan suara napas kami yang berat. Itu adalah jenis keheningan yang mahal, yang tidak akan pernah bisa kalian beli di tengah hiruk-pikuk Jakarta.

Bermalam di Batas Vegetasi: Dingin yang Menusuk Tulang

Kami mendirikan tenda di Camp 7, titik terakhir sebelum vegetasi menghilang dan digantikan oleh batuan cadas. Malam di Raung itu jahat, tapi indah. Angin bertiup kencang, membawa suara gemuruh dari kejauhan. Konon, nama "Raung" diambil dari suara gemuruh kawahnya yang terdengar seperti raungan harimau atau suara alam yang marah. Dan malam itu, aku mendengarnya.

Sayup-sayup, suara wuuussshhh panjang terdengar dari arah puncak. Antara ngeri dan takjub. Kami makan malam dengan menu sederhana—nasi liwet dan sarden—tapi rasanya seperti makanan hotel bintang lima karena dimakan dalam kondisi kelaparan akut. Langit malam itu bersih, bertabur bintang (Milky Way terlihat samar!), tapi dinginnya minta ampun. Jaket tebal, sleeping bag, dan kaos kaki rangkap tiga seolah tak mempan.

Tidurku tidak nyenyak. Pikiran tentang "Summit Attack" esok pagi terus menghantui. Besok bukan sekadar trekking, besok adalah climbing.



Puncak Bendera dan Selamat Datang di Jalur Neraka

Pukul 02.00 dini hari, alarm berbunyi. Ini dia saatnya. Kami mengenakan harness, helm, dan carabiner. Ya, kalian tidak salah baca. Mendaki Raung via Kalibaru wajib menggunakan peralatan panjat tebing standar keamanan.

Perjalanan dimulai dalam gelap. Headlamp menyorot jalanan yang kini sepenuhnya batu kerikil dan pasir. Target pertama adalah Puncak Bendera. Begitu sampai di sana saat fajar menyingsing, mataku terbelalak. Di depan sana, jalur punggungan tipis membentang seperti tulang punggung naga yang tidur. Kanan dan kiri adalah jurang menganga yang kedalamannya tidak mau kutebak.

"Zakiya, fokus. Tali pengaman dipasang, jangan bengong!" teriak Mas Budi menyadarkanku.

Inilah yang disebut jalur ekstrem Raung. Kami harus meniti bebatuan tajam. Ada bagian di mana kami harus merayap, memeluk batu karena angin yang berhembus cukup kencang untuk membuat tubuh terhuyung. Rasa takut? Tentu saja ada. Bohong kalau aku bilang aku berani 100%. Lututku lemas saat melihat ke bawah. Tapi di situlah seninya. Rasa takut itu membuatku super waspada. Setiap pijakan kaki, setiap cengkeraman tangan, semuanya diperhitungkan dengan matang. Aku merasa benar-benar "hidup" saat itu. Seluruh indraku bekerja maksimal.

Meniti Jembatan Sirotol Mustaqim

Ini adalah highlight horor sekaligus kebanggaan dari pendakian ini. Jembatan Sirotol Mustaqim. Nama yang diambil dari konsep jembatan akhirat saking sempit dan mengerikannya jalur ini.

Lebarnya mungkin hanya setapak kaki orang dewasa. Kanan jurang, kiri jurang. Bebatuannya rapuh. Kami harus berjalan satu per satu, dikaitkan pada tali statis yang dipasang oleh guide. Angin di titik ini tidak main-main. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang ingin mendorongmu jatuh.

Saat giliranku tiba, aku menahan napas. Aku fokus pada sepatu trekking-ku. Satu langkah. Dua langkah. Jangan lihat bawah, Zakiya. Jangan lihat bawah. Jantungku berdetak sangat kencang sampai rasanya telingaku berdenging. Tapi begitu aku berhasil melewati titik paling kritis itu dan menapakkan kaki di tanah yang lebih lebar, rasanya ingin menangis. Menangis lega, menangis bangga. Kami saling berpelukan sebentar (dengan tetap terikat tali, tentu saja). Momen itu mengajarkanku bahwa batasan diri kita itu seringkali hanya ada di kepala. Fisik mungkin lelah, tapi mental yang membawa kita menyeberang.

Puncak Sejati: Kaldera yang Menghipnotis

Setelah perjuangan merayap, memanjat, dan meniti tebing selama berjam-jam, akhirnya kami tiba di Puncak Sejati 3.344 MDPL.

Pemandangan di depan mata membuat semua lecet, memar, dan ketakutan tadi lenyap seketika. Kaldera Gunung Raung adalah kaldera kering terbesar di Pulau Jawa, dan kedua terbesar di Indonesia setelah Tambora. Diameternya sekitar 2 kilometer dengan kedalaman 500 meter.

Itu bukan sekadar lubang besar. Itu adalah kawah raksasa yang agung, berwarna abu-abu gelap, dengan asap belerang yang mengepul pelan dari dasarnya. Dinding-dinding kaldera itu curam dan bergerigi, tampak gagah sekaligus mengintimidasi. Berdiri di tepiannya membuatku merasa sangat kecil. Bukan klise, tapi benar-benar kerdil. Alam semesta ini begitu megah, dan kita manusia hanyalah butiran debu yang kebetulan sedang mampir.

Kami duduk di sana cukup lama, menikmati roti sobek yang rasanya jadi luar biasa enak, sambil memandangi lautan awan yang bergulung di bawah kami. Gunung Argopuro terlihat samar di kejauhan, begitu juga Gunung Ijen. Ada rasa damai yang aneh saat berada di tempat yang begitu berbahaya. Mungkin karena di atas sini, masalah duniawi—deadline pekerjaan, cicilan, drama percintaan—terasa tidak relevan lagi. Yang ada hanya aku, langit, dan kawah purba ini.

Perjalanan Turun yang Tak Kalah Menyiksa

Orang bilang, mendaki itu seni menderita. Dan penderitaan sesungguhnya seringkali terjadi saat turun. Perjalanan pulang dari Puncak Sejati kembali ke Camp 7, lalu lanjut turun ke Basecamp, adalah ujian dengkul yang sebenarnya.

Jalur berpasir dan berbatu membuat kami sering terpeleset. Jempol kaki rasanya sudah menjerit-jerit minta pensiun di dalam sepatu. Air persediaan menipis, dan debu kembali menjadi musuh utama. Kami sampai di Basecamp Kalibaru saat hari sudah gelap, dengan tubuh yang remuk redam dan wajah yang nyaris tidak bisa dikenali karena tertutup debu hitam bercampur keringat.

Tapi, saat aku mandi dan air dingin membasuh semua kotoran itu, ada senyum yang tidak bisa aku tahan. Aku berhasil. Zakiya berhasil menaklukkan ketakutannya sendiri di punggung naga Jawa Timur. Raung bukan gunung untuk pemula, dan bukan gunung untuk orang yang sombong. Ia mengajarkan kerendahan hati lewat setiap tebing curamnya dan angin kencangnya.


Sebagai penutup cerita panjang ini, aku ingin mengutip celotehan teman seperjalananku, Catlin. Dia adalah sahabatku yang biasanya paling fashionable kalau kami hangout di kafe, tapi kali ini dia berubah jadi petarung tangguh meski sempat menangis di tebing. Saat kami sedang meluruskan kaki yang bengkak di teras basecamp, sambil menyeruput teh hangat, Catlin berkata dengan tatapan kosong tapi bibir tersenyum, "Zak, sumpah ya. Pas di jembatan setan tadi gue udah mikir mau wasiat apa buat kucing-kucing gue di rumah. Lutut gue rasanya udah kopong, nggak ada isinya. Gue nyesel banget ikut lo pas nanjak tadi. Tapi... pas liat kawahnya, kok gue jadi lupa ya sama capeknya? Gila, keren banget sih. Tapi kalau lo ngajak gue naik lagi minggu depan, gue bakal pura-pura pingsan. Tahun depan aja, oke?"

Dan kami pun tertawa lepas, menutup petualangan Raung dengan janji-janji perjalanan gila lainnya. Sampai jumpa di cerita selanjutnya, Sobat Jalan!

Lebih baru Lebih lama