Argopuro: Menguji Kewarasan dan Menemukan Surga Tersembunyi di Trek Terpanjang Pulau Jawa
Halo, Sahabat Setia Zakiya! Apa kabar hati dan kaki kalian hari ini?
Sudah lama rasanya aku tidak menyapa kalian lewat tulisan panjang yang ngalor-ngidul seperti ini. Biasanya, aku cuma sempat update instastory kilat karena sinyal yang timbul tenggelam. Tapi kali ini, aku merasa berhutang cerita. Sebuah cerita yang tidak cukup hanya diwakili oleh potongan video 15 detik. Zakiya baru saja kembali dari sebuah "dimensi lain". Bukan, bukan ke luar negeri, tapi ke sebuah tempat di mana waktu rasanya berjalan melambat, di mana kaki dipaksa melangkah lebih dari 40 kilometer, dan di mana sabana luas membentang seolah tanpa ujung. Ya, aku baru saja menyelesaikan misi gila mendaki Gunung Argopuro, sang pemilik trek terpanjang di Pulau Jawa. Siapkan camilan dan posisi duduk ternyaman kalian, karena ini bukan sekadar cerita tentang menancapkan bendera di puncak, tapi tentang berdamai dengan jarak dan kesunyian.
Selamat Datang di "Kuliah" Kesabaran: Jalur Baderan
Banyak orang bilang, Argopuro itu bukan soal seberapa tinggi kamu mendaki, tapi seberapa tabah kamu berjalan. Dan "kuliah" kesabaran itu langsung dimulai begitu kami tiba di Baderan, Situbondo.
Jalur pendakian ini tidak langsung menyuguhi tanjakan yang membuat dengkul bertemu dagu. Tidak. Argopuro bermain cantik. Ia menyiksa kami perlahan dengan jarak. Sebelum benar-benar masuk hutan, kami memutuskan menggunakan jasa ojek makadam. Bayangkan, motor bebek tua yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk melibas jalanan berbatu besar yang licin.
Sepanjang perjalanan di atas motor, aku cuma bisa berpegangan erat pada pinggang Bapak Ojek sambil menahan napas setiap kali ban motor tergelincir. Rasanya organ dalam tubuhku seperti dikocok ulang. Tapi, ini adalah strategi penting. Menghemat tenaga di awal adalah kunci, karena "monster" sesungguhnya adalah panjangnya jalur yang menanti di depan. Begitu turun di batas makadam, hutan menyambut kami dengan keheningan yang absolut. Tidak ada hiruk-pikuk pendaki lain seperti di Semeru atau Prau. Di sini, hanya ada kami, suara gesekan daun, dan jalan setapak yang terlihat samar-samar tertutup semak.
Hutan Hujan Tropis dan Teror Jelatang
Masuk ke area hutan damar dan hutan hujan tropis, nuansanya berubah mistis. Pohon-pohon di sini besar-besar, berlumut, dan meliuk-liuk dengan bentuk yang aneh. Cahaya matahari hanya masuk berupa berkas-berkas tipis yang menerobos celah dedaunan. Indah, tapi juga mengintimidasi.
Satu hal yang aku pelajari dengan cara keras di jalur ini: hati-hati dengan jelatang! Tanaman ini ada di mana-mana. Daunnya terlihat tidak berdosa, tapi begitu menyentuh kulit, sensasinya seperti disengat tawon bercampur gatal yang panasnya minta ampun. Aku sempat terserempet sedikit di bagian lengan, dan rasanya nyut-nyutan sepanjang perjalanan menuju pos Mata Air 1.
Namun, di tengah rasa perih dan lelah itu, aku menemukan kedamaian yang aneh. Berjalan berjam-jam tanpa melihat ujung membuat pikiran melayang ke mana-mana. Aku jadi punya banyak waktu untuk berdialog dengan diri sendiri. Tentang mimpi-mimpi yang belum tercapai, tentang kekhawatiran yang sebenarnya sepele, dan tentang betapa kecilnya aku di tengah belantara Hyang ini. Argopuro memaksaku untuk berhenti overthinking dan hanya fokus pada satu hal: satu langkah ke depan.
Cikasur: Potongan Surga yang Jatuh di Jawa Timur
Inilah highlight utama, alasan kenapa kaki yang sudah melepuh ini mau diajak terus berjalan. Cikasur.
Sampai di Cikasur, rasanya seperti keluar dari hutan gelap dan masuk ke set film Jurassic Park. Sebuah sabana luas membentang sejauh mata memandang, dikelilingi bukit-bukit hijau yang lembut. Di tengahnya mengalir sungai kecil dengan air yang jernih—saking jernihnya, kami bisa langsung meminumnya (setelah dimasak tentu saja, cari aman!).
Tapi yang bikin aku merinding (dalam artian positif) adalah sejarah tempat ini. Konon, Cikasur adalah bekas landasan pesawat terbang zaman Belanda. Melihat hamparan rumput yang begitu rata di ketinggian ini, rasanya masuk akal. Dan coba tebak? Kami melihat burung merak! Ya, merak liar. Awalnya aku kira itu cuma halusinasi karena kelelahan, tapi kemudian Fatin menunjuk ke arah semak-semak. Seekor merak jantan dengan bulu hijau kebiruan yang mengilap sedang berjalan anggun. Momen itu magis sekali. Kami semua diam, takut gerakan sedikit saja akan membuat makhluk cantik itu kabur.
Di sungai Cikasur juga tumbuh selada air liar yang subur. Malam itu, menu makan malam kami mewah sekali: nasi liwet hangat, ikan asin, sambal terasi, dan tumis selada air segar yang baru dipetik dari sungai. Rasanya? Manis, renyah, dan fresh banget. Makan di bawah langit yang bertabur bintang (Milky Way terlihat sangat jelas tanpa polusi cahaya), ditemani suara aliran sungai dan angin sabana... Ah, rasanya aku ingin membekukan waktu di situ. Semua lelah akibat berjalan seharian terbayar lunas. Lunas tanpa sisa.
Cisentor dan Tanjakan Penyesalan Menuju Rengganis
Setelah dimanjakan oleh Cikasur, perjalanan berlanjut ke Cisentor, pertemuan dua jalur dari Baderan dan Bremi. Dari sini, tantangan sesungguhnya menuju puncak dimulai.
Target kami bukan hanya Puncak Argopuro, tapi Puncak Rengganis. Jalurnya? Jangan tanya. Terjal, berpasir, dan penuh debu. Napas rasanya sudah di ujung tenggorokan. Tapi semangatku kembali terbakar karena rasa penasaran akan legenda Dewi Rengganis.
Begitu sampai di Puncak Rengganis, suasananya berbeda 180 derajat dari Cikasur. Di sini didominasi batuan kapur putih dan bau belerang yang menyengat. Ada sisa-sisa reruntuhan bangunan kuno yang katanya merupakan petilasan atau istana Dewi Rengganis. Suasananya sakral. Angin bertiup kencang sekali, membuat jaket windbreaker-ku berkibar-kibar berisik.
Pemandangannya? Gokil. Dari sini aku bisa melihat Puncak Argopuro di kejauhan, dan hamparan pegunungan Hyang yang berlapis-lapis tertutup kabut tipis. Rasanya seperti berdiri di atas awan. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyeruak. Bukan karena aku berhasil menaklukannya, tapi karena gunung ini mengizinkanku untuk sampai di sini dengan selamat. Aku menyempatkan diri duduk di salah satu batu, memejamkan mata, dan meresapi energi tempat ini. Ada kesedihan yang tersirat dari reruntuhan batu-batu itu, tapi juga ada kekuatan yang besar.
Puncak Argopuro (3.088 MDPL): Arca yang Hilang
Tak jauh dari Rengganis, kami melanjutkan ke Puncak Argopuro. Puncaknya sendiri sebenarnya tidak seluas atau "semeriah" Rengganis. Hanya ada tumpukan batu dan plakat penanda ketinggian 3.088 MDPL.
Dulu katanya ada arca di sini, tapi sekarang sudah tidak ada. Meski begitu, berdiri di titik tertinggi pegunungan Hyang memberikan kepuasan tersendiri. Kami berpelukan, saling memberi selamat. Wajah-wajah yang tadinya kusam, penuh debu, dan berminyak, kini dihiasi senyum paling lebar. Kami sadar, perjalanan pulang masih jauh (sangat jauh, karena kami turun via Bremi), tapi setidaknya setengah misi sudah selesai.
Jalan Pulang via Bremi: Ujian Lutut dan Hutan Lumut
Jika kalian pikir perjalanan turun itu mudah, coba pikir lagi. Jalur turun via Bremi adalah kebalikan dari Baderan. Jika Baderan landai tapi panjang (sangat panjang), Bremi itu lebih pendek tapi curam dan licin.
Kami melewati Hutan Taman Hidup yang terkenal dengan Danau Taman Hidup-nya. Hutan di sini sangat rapat, lembap, dan dipenuhi lumut yang menggantung di pohon-pohon. Suasananya seperti di film Lord of The Rings. Indah, tapi agak spooky kalau jalan sendirian.
Danau Taman Hidup menjadi pelipur lara terakhir. Airnya tenang, seringkali tertutup kabut yang turun tiba-tiba. Ada dermaga kayu tua yang sangat instagramable (tetap ya, jiwa konten kreator tidak bisa bohong). Kami istirahat sebentar di sana, merendam kaki yang sudah bengkak ke dalam air danau yang dingin. Rasanya nyesss, sakitnya hilang sejenak.
Perjalanan dari danau ke desa Bremi masih memakan waktu beberapa jam lagi. Di fase ini, obrolan sudah mulai habis. Kami berjalan seperti zombie. Fokus hanya satu: kasur, kasur, dan kasur.
Epilog: Apa yang Tertinggal di Hyang
Mendaki Argopuro itu bukan sekadar liburan. Itu adalah perjalanan spiritual bagi fisik dan mental. Aku belajar bahwa "panjang" itu relatif. Aku belajar bahwa air sungai mentah bisa terasa lebih enak daripada minuman boba mahal manapun. Dan aku belajar bahwa Indonesia itu gila indahnya.
Sabana Cikasur, mistisnya Rengganis, dan tenangnya Taman Hidup adalah kombinasi yang tidak akan aku temukan di tempat lain. Argopuro mungkin tidak sepopuler Semeru atau se-megah Rinjani, tapi dia punya jiwa. Dia punya karakter yang kuat, tenang, dan memikat siapa saja yang berani menyusuri punggungnya yang panjang.
Buat kalian yang mau ke sini, saran Zakiya cuma satu: Jangan remehkan jarak. Latihan fisik (terutama endurance) itu wajib. Dan yang terpenting, bawa hati yang lapang. Karena di trek sepanjang itu, musuh terbesarmu bukan tanjakan, tapi pikiranmu sendiri.
Nah, sebelum menutup cerita panjang kali ini, aku mau membagikan curhatan fresh from the oven dari teman seperjalananku, Fatin. Dia ini anaknya jarang naik gunung, biasanya cuma glamping cantik, jadi ngajak dia ke Argopuro itu sebenernya agak 'jebakan batman'. Saat kami sudah duduk manis di warung bakso di desa Bremi, sambil memijat betisnya yang ditempel koyo lima lembar, Fatin nyeletuk dengan muka memelas tapi kocak, "Zak, sumpah ya, ini pertama dan terakhir gue percaya sama omongan lo soal 'jalan santai'. Kaki gue rasanya bukan punya gue lagi, kayak udah mau resign dari badan! Tapi... pas liat merak di Cikasur sama pas kita makan selada air di sungai itu, gue ngerasa kayak lagi di dongeng-dongeng gitu. Cantik banget sih parah. Cuma ya itu, kalau lo ngajak gue nanjak lagi, tolong yang treknya nggak seumur hidup gini ya. Gue butuh spa seminggu abis ini!" Kami pun tertawa ngakak, menertawakan penderitaan yang entah kenapa, terasa sangat manis untuk dikenang.