Mengetuk Pintu Langit di Mahameru: Sebuah Ziarah Diri di Atap Pulau Jawa
Oleh: Zakiya
Halo, Sahabat Zakiya yang luar biasa! Assalamu’alaikum dan salam lestari untuk kalian semua.
Masih ingat dengan janjiku tempo hari setelah kita pulang dengan lutut gemetar dari Ijen? Waktu itu, sambil memijat betis yang kram, aku sempat bergumam, "Kayaknya istirahat dulu deh naik gunungnya." Tapi, ya namanya juga manusia, kadang lupa sama rasa sakit kalau sudah ingat indahnya. Setelah Bromo yang eksotis dan Ijen yang magis, rasanya ada satu kepingan puzzle yang hilang jika aku tidak menyapa "Sang Bapak" di Jawa Timur ini. Benar, kali ini aku nekat. Aku menantang diriku sendiri untuk mendaki Gunung Semeru.
Ini bukan sekadar jalan-jalan santai. Ini adalah perjalanan menuju Puncak Mahameru, titik tertinggi di Pulau Jawa (3.676 mdpl). Kalau Bromo itu wisata keluarga, dan Ijen itu wisata petualangan, maka Semeru... ah, Semeru adalah sebuah peziarahan fisik dan mental. Siapkan camilan kalian, duduk yang nyaman, karena cerita ini akan panjang, penuh debu, keringat, dan mungkin sedikit air mata.
Ranu Pani: Gerbang Menuju Dunia Lain
Perjalanan dimulai dari Desa Ranu Pani. Berbeda dengan Bromo yang hiruk-pikuk Jeep-nya terasa seperti festival, Ranu Pani punya aura yang lebih tenang namun intimidating. Di sini, hawa dinginnya berbeda. Ada aroma tanah basah dan kabut tipis yang seolah membisikkan pesan: "Hati-hati, kamu memasuki wilayah sakral."
Setelah urusan administrasi (SIMAKSI) yang super ketat—termasuk pengecekan barang bawaan agar tidak membawa sampah plastik berpotensi tertinggal—kami mulai melangkah. Tim kali ini cukup kecil, aku ditemani oleh Nadine, sahabatku sejak kuliah yang fisiknya jauh lebih prima dariku, dan dua orang porter lokal yang kami panggil Cak Man dan Cak Di. Kehadiran porter ini bukan tanda manja ya, teman-teman, tapi strategi bertahan hidup. Membawa logistik untuk 3 hari 2 malam di punggung sendiri? Wah, bisa-bisa aku pingsan di pos pertama!
Jalur awal menuju Ranu Kumbolo masih terbilang "manusiawi". Kami melewati hutan tropis yang lebat. Pohon-pohon raksasa berlumut memayungi jalan setapak, akar-akarnya menjalar seperti ular naga yang tertidur. Sesekali kami berhenti, bukan cuma karena capek, tapi karena terpesona melihat lutung Jawa yang melompat malu-malu di kejauhan. Napas mulai berat, tapi semangat masih di angka 100.
Ranu Kumbolo: Surga yang Menipu
Empat jam berjalan, tibalah kami di Ranu Kumbolo. Sahabat Zakiya, kalian pasti sering lihat fotonya di internet, kan? Percayalah, aslinya seribu kali lebih indah.
Saat keluar dari rimbunnya hutan dan melihat danau seluas 15 hektar itu terhampar di depan mata, rasanya... magical. Air danau yang tenang memantulkan bayangan bukit dan langit sore dengan sempurna. Tenda warna-warni berjejer rapi di tepiannya. Tapi, jangan tertipu dengan keindahannya. Ranu Kumbolo saat malam hari adalah kulkas raksasa!
Suhu malam itu anjlok hingga mungkin 5 derajat Celcius, atau bahkan kurang. Jaket tebal, sleeping bag, dan kaus kaki rangkap tiga rasanya tidak mempan. Kami makan malam dengan menu sederhana: nasi liwet, sop sayur, dan tempe goreng buatan Cak Man. Rasanya? Lebih enak dari restoran bintang lima manapun! Makan sambil menatap jutaan bintang yang bertaburan di langit (Milky Way terlihat jelas dengan mata telanjang!) adalah momen yang membuatku lupa kalau besok aku harus menghadapi tantangan sesungguhnya.
Tanjakan Cinta dan Hamparan Ungu Oro-Oro Ombo
Pagi hari di Ranu Kumbolo diawali dengan sunrise yang muncul dari celah dua bukit. Setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan melewati "Tanjakan Cinta". Mitosnya, kalau kita nanjak tanpa menoleh ke belakang sambil memikirkan orang yang dicintai, cinta kita bakal abadi.
Jujur saja, aku gagal total. Bukan karena tergoda menoleh, tapi karena napasku habis di tengah jalan! Tanjakannya curam banget, Sahabat Zakiya! Jadi daripada mikirin cinta, aku lebih sibuk mikirin "Kapan tanjakan ini kelar, Ya Allah?"
Begitu sampai di ujung tanjakan, lelah itu terbayar lunas. Di depan mata terhampar Oro-Oro Ombo. Padang savana luas yang saat itu sedang ditumbuhi bunga Verbena Brasiliensis yang mekar. Warnanya ungu sejauh mata memandang. Sekilas mirip padang Lavender di Eropa, padahal ini di Lumajang! Kami berjalan membelah lautan ungu itu, merasa seperti tokoh di film fantasi. Tapi hati-hati, debu di sini mulai tebal. Masker atau buff sudah wajib dipakai.
Cemoro Kandang ke Kalimati: Ujian Kesabaran
Lepas dari Oro-Oro Ombo, kami masuk ke Cemoro Kandang dan Jambangan. Jalurnya mulai sadis. Hutan pinus yang indah tapi treknya naik-turun tiada henti. Di Jambangan, mental kami diuji. Kenapa? Karena dari sini Puncak Mahameru sudah terlihat jelas. Gagah, besar, menjulang tinggi, dan mengeluarkan asap letupan vulkanik (Wedhus Gembel) setiap beberapa menit.
Melihat puncaknya yang begitu tinggi, nyaliku sempat ciut. "Yakin Zak, mau naik ke situ?" bisik hatiku.
Kami sampai di Pos Kalimati sore hari. Ini adalah batas akhir mendirikan tenda sebelum serangan puncak (summit attack). Angin di sini kencang sekali. Debu beterbangan. Suasananya tegang. Wajah-wajah pendaki di sini tidak ada yang santai; semuanya menyimpan kekhawatiran dan harapan untuk pendakian nanti malam. Kami tidur cepat (lebih tepatnya memaksakan tidur) karena jam 11 malam kami harus bangun.
Summit Attack: 6 Jam Menuju Batas Kemampuan
Pukul 23.30 WIB. Setelah doa bersama dan minum teh hangat, kami mulai bergerak. Hanya berbekal headlamp, kami menembus gelap hutan Arcopodo. Di sini, jalurnya masih tanah padat. Tapi begitu keluar dari batas vegetasi... selamat datang di neraka pasir.
Ini adalah bagian tersulit dalam hidupku. Jalur menuju puncak Mahameru adalah pasir bercampur kerikil labil dengan kemiringan nyaris 45-60 derajat. Rumusnya menyakitkan: Maju dua langkah, merosot satu langkah.
Satu jam pertama, aku masih semangat. Dua jam berlalu, kakiku mulai terasa bukan milikku lagi. Dinginnya menusuk tulang, tapi keringat bercucuran. Tiga jam berlalu, mental mulai kena. Aku melihat ke atas, lampu senter pendaki lain terlihat berderet vertikal seolah menyambung ke bintang di langit. Jauh sekali. Rasanya tidak sampai-sampai.
Ada momen di mana aku duduk bersimpuh di atas pasir, menangis. Serius, aku menangis. Rasanya ingin menyerah. "Ngapain sih aku nyiksa diri begini?" Pikiranku kacau. Air minum menipis, cokelat batangan rasanya seret di tenggorokan. Angin malam menampar-nampar wajah. Di titik inilah ego manusia dihancurkan. Di hadapan gunung sebesar ini, Zakiya si travel blogger tidak ada apa-apanya.
Puncak Mahameru: Tangis di Atas Awan
"Ayo Zak, dikit lagi! Liat itu langit udah mulai merah!" teriak Nadine yang sudah 5 meter di depanku.
Dengan sisa tenaga terakhir, merangkak, kadang menggunakan tangan untuk menarik badan, aku terus bergerak. Dan benar saja, perlahan kontur tanah mulai mendatar. Bau belerang tercium kuat.
Pukul 05.15 WIB. Aku menapakkan kaki di Jonggring Saloko, kawah puncak Mahameru.
Tangisku pecah lagi, tapi kali ini tangis bahagia. Aku berdiri di tanah tertinggi Pulau Jawa. Di bawah sana, hamparan awan putih bergulung-gulung seperti samudra kapas. Puncak-puncak gunung lain—Arjuno, Welirang, Raung, Argopuro—terlihat kecil menyembul dari balik awan.
Dan momen yang paling ditunggu tiba: Sang Matahari terbit. Sinar emasnya menyinari kawah yang sesekali menyemburkan asap kelabu pekat dengan suara gemuruh yang menggetarkan dada. Ada rasa takut, ada rasa takjub. Subhanallah. Rasanya sangat dekat dengan Tuhan. Kami sujud syukur di sana. Lelah, sakit kaki, dingin, semuanya hilang seketika digantikan rasa haru yang membuncah.
Kami tidak bisa lama-lama di puncak. Aturannya, sebelum jam 9 pagi harus sudah turun karena arah angin bisa berubah membawa gas beracun dari kawah ke jalur pendakian. Kami berfoto sebentar di plakat "Puncak Mahameru", lalu segera turun.
Perjalanan Pulang: Ski Pasir dan Lutut Kopong
Turun dari puncak adalah keseruan tersendiri. Kalau naiknya butuh 6 jam, turunnya cuma butuh 1 jam! Kami melakukan "prosotan" atau lari kecil di atas pasir tebal (sand skiing). Debu mengepul di mana-mana (kacamata goggle sangat berguna di sini!). Seru, tapi harus hati-hati agar tidak tersandung batu.
Sampai kembali di Kalimati, barulah terasa efeknya. Kaki gemetar hebat, lutut rasanya kopong. Perjalanan pulang ke Ranu Pani terasa jauh lebih panjang dan menyiksa daripada saat berangkat. Tapi anehnya, senyum tidak pernah lepas dari wajahku.
Budget & Tips Realistis
Mendaki Semeru butuh modal lumayan. Biaya tiket masuk, surat dokter, logistik, dan transportasi (Jeep dari Tumpang/Malang ke Ranu Pani sekitar Rp 150.000 - Rp 200.000 per orang jika sharing). Jika pakai jasa Porter, siapkan dana ekstra sekitar Rp 250.000 - Rp 300.000 per hari/porter.
Tips dariku: Latihan fisik! Jangan nekat ke Semeru cuma modal nekat (seperti aku, jangan ditiru ya!). Jogging rutin sebulan sebelum hari H itu wajib. Bawa gaiter (pelindung sepatu) biar pasir nggak masuk sepatu. Dan yang terpenting: bawa turun sampahmu! Gunung bukan tempat sampah.
Epilog: Lebih dari Sekadar Mendaki
Semeru mengajarkanku bahwa puncak hanyalah bonus. Tujuan utamanya adalah pulang dengan selamat dan pelajaran tentang kerendahan hati. Di jalur pasir Mahameru, aku belajar bahwa ketika kita merasa tidak sanggup lagi, sebenarnya kita hanya dibatasi oleh pikiran kita sendiri. Satu langkah kecil, asal konsisten, akan membawa kita ke tempat tinggi.
Terima kasih, Semeru, sudah mengizinkan Zakiya yang kecil ini menapak di punggung gagahmu.
Nadine: Si 'Kompor' Berhati Emas
Oh iya, aku harus kasih kredit khusus buat partner pendakianku kali ini, Nadine. Kalau Aza (di cerita Bromo & Ijen) adalah tipe yang suka ngomel lucu, Nadine ini kebalikannya. Dia itu tipe yang stoic banget, tenang tapi menghanyutkan. Ada satu momen pas aku nangis putus asa di tengah jalur pasir (track letter E), Nadine nggak marah atau nyuruh buru-buru. Dia cuma duduk di sebelahku, ngasih sepotong cokelat, terus bilang dengan nada datar tapi nusuk, "Zak, gunungnya nggak bakal lari. Dia nungguin lo. Nangis aja habisin air matanya, biar beban lo enteng. Nanti kita jalan lagi pelan-pelan. Gue tungguin sampe lo siap." Sumpah, itu kalimat sederhana tapi powerful banget. Pas kita sampai puncak, aku liat dia diam-diam ngusap matanya juga sambil natap kawah. Pas aku tanya kenapa, dia cuma jawab sambil ketawa kecil, "Gue terharu liat lo nggak jadi nyerah, Zak. Kita keren banget ya hari ini?" Fix, tanpa 'kompor' positif dari Nadine, mungkin aku cuma sampai Arcopodo doang!

.png)
.png)
.png)
.png)