Kecil-Kecil Cabe Rawit: Menjemput Golden Sunrise dan Tempe Mendoan di Puncak Gunung Andong

 

Kecil-Kecil Cabe Rawit: Menjemput Golden Sunrise dan Tempe Mendoan di Puncak Gunung Andong

Oleh: Zakiya

Halo, Sahabat Zakiya yang budiman! Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Selamat pagi, siang, sore, atau malam di manapun kalian sedang rebahan sambil scroll layar. Apa kabar semangat dan isi dompet? Semoga dua-duanya masih tebal ya! Hahaha. Peluk hangat dari Zakiya yang kali ini menulis dengan hati gembira dan perut kenyang (nanti aku ceritakan kenapa).

Kali ini, Zakiya ingin mengajak kalian ke Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tapi, kita lupakan sejenak Candi Borobudur yang megah itu. Kita akan menengadah sedikit ke atas, ke sebuah gunung yang tingginya "cuma" 1.726 MDPL (Meter Di atas Permukaan Laut). Namanya Gunung Andong. Mungkin bagi para pendaki senior yang sudah menaklukkan Semeru atau Rinjani, Andong itu cuma "bukit pemanasan". Tapi eits, jangan salah! Gunung yang mungil ini punya julukan "Hotel Bintang Lima Alam Semesta". Kenapa? Karena dari puncaknya, kita disuguhi pemandangan 360 derajat yang mewah tanpa harus menyiksa diri berhari-hari. Penasaran gimana rasanya mendaki santai bareng sahabatku, Nafiza? Yuk, simak catatan perjalananku kali ini!



Kenapa Harus Andong?

Pertanyaan ini muncul di kepala Nafiza saat aku ajak dia. "Zak, gunung lagi? Kakiku baru sembuh dari trip kemarin!" protesnya. Aku cuma nyengir. "Tenang, Za. Ini gunung ramah lutut. Cuma 2 jam sampai puncak, terus di atas ada warung pecel!"

Ya, itulah daya tarik utama Andong. Gunung ini adalah definisi low effort, high reward. Cocok banget buat kita-kita yang pengen healing tipis-tipis di akhir pekan, pengen lihat sunrise, tapi males ribet bawa logistik segunung. Lokasinya ada di Kecamatan Ngablak, Magelang. Dikelilingi oleh hamparan ladang sayur yang hijau, suasana di kaki gunungnya saja sudah bikin adem.

Basecamp Sawit: Gerbang Ramah Pendaki

Kami memilih jalur pendakian via Basecamp Taruna Jayagiri (Sawit). Ini adalah jalur paling populer dan "resmi". Begitu sampai di basecamp, kesan pertamaku adalah: Rapi banget!

Pengelola basecamp di sini sangat profesional. Parkirannya luas, toiletnya banyak dan bersih (ini penting banget buat Zakiya!), dan tempat istirahatnya nyaman. Ada banyak warung warga yang menjual perlengkapan logistik kalau-kalau kita lupa bawa baterai atau sarung tangan.

Aroma di sini khas banget: Campuran antara bau tanah basah, sayuran segar (karena kanan-kirinya ladang warga), dan aroma balsam otot dari pendaki yang baru turun. Hahaha. Suasananya hangat. Pendaki dari berbagai kota berkumpul, saling sapa, "Mas, Mbak, muncak jam berapa?" adalah kalimat pembuka percakapan paling standar tapi mengakrabkan.

Tiket Masuk: Bahagia Itu Murah

Sebelum mulai menanjak, tentu kita harus registrasi dulu. Dan lagi-lagi, Andong membuktikan bahwa bahagia itu murah. Tiket masuknya (Simaksi) cuma sekitar Rp20.000 - Rp25.000 per orang, sudah termasuk asuransi dan fasilitas basecamp (harga bisa berubah sewaktu-waktu ya). Parkir motor juga standar.

Proses registrasinya cepat. Kita diberi peta jalur sederhana (meskipun jalurnya sangat jelas dan mustahil nyasar) dan kantong plastik sampah. "Sampahnya wajib dibawa turun ya, Mbak. Nanti dicek pas pulang," kata Mas Petugas yang ramah. Aku suka ketegasan ini. Gunung cantik harus tetap cantik, kan?



Perjalanan Dimulai: Hutan Pinus yang Syahdu

Start pendakian dimulai santai. Kami melewati gerbang pendakian yang ikonik dengan tulisan "Gunung Andong". Awalnya, jalurnya berupa jalan setapak yang sudah disemen di tengah ladang sayur penduduk. Kita bisa melihat kol, wortel, dan cabai tumbuh subur.

Setelah ladang habis, kita masuk ke Hutan Pinus. Ini adalah etape favorit Zakiya. Pohon pinusnya tinggi menjulang, udaranya sejuk, dan cahaya matahari sore yang menembus sela-sela pohon bikin suasananya romantis (sayang perginya sama Nafiza, bukan sama jodoh. Ups!).

Jalurnya di sini masih tanah padat yang landai. Belum ada drama napas ngik-ngik. Kami masih bisa jalan sambil ngobrolin gosip terkini. Di Pos 1 (Kemuning), terdapat shelter yang cukup luas. Banyak pendaki yang istirahat sejenak di sini sekadar minum seteguk air.

Ujian Mental di Pos 2: Tangga Cinta atau Tangga Derita?

Nah, lepas dari Pos 1 menuju Pos 2 (Dewandaru), "wajah asli" Andong mulai terlihat. Jalur tanah landai berubah menjadi tangga-tangga tanah dan bebatuan yang disusun rapi.

Meskipun rapi, tapi nanjaknya lumayan, Bestie! Lutut mulai dipaksa bekerja. Napas mulai berat. Keringat sebesar biji jagung mulai menetes. Nafiza yang tadinya cerewet mulai diam seribu bahasa. "Katanya ramah lutut, Zak?" sindirnya sambil ngos-ngosan. "Ramah kok, cuma ini lagi ngajak kenalan agak intens aja," jawabku ngeles.

Tapi enaknya di Andong, jarak antar pos itu dekat. Nggak sampai bikin putus asa. Di sepanjang jalur juga ada sumber mata air yang jernih banget. Aku sempat cuci muka di sana, segarnya Masya Allah! Langsung melek lagi matanya.

Puncak Andong: Negeri di Atas Awan yang Ramai

Setelah perjuangan sekitar 1,5 jam (kami jalan santai banget), akhirnya pepohonan mulai terbuka. Angin kencang langsung menyambut. Sampailah kami di punggungan puncak.

Gunung Andong ini unik karena puncaknya memanjang seperti punggung naga. Ada 4 puncak berderet: Puncak Makam, Puncak Jiwa, Puncak Andong, dan Puncak Alap-alap.

Begitu sampai di Puncak Jiwa... SPEECHLESS. Pemandangannya gila banget! Di depan mata, Gunung Merbabu berdiri gagah luar biasa besar, seolah-olah bisa disentuh. Di sebelahnya ada Gunung Merapi yang mengeluarkan asap tipis. Di kejauhan, si kembar Sindoro-Sumbing terlihat malu-malu tertutup awan. Di sisi lain, ada Gunung Telomoyo dan Ungaran.

Benar kata orang, ini view bintang lima! Kita dikepung oleh gunung-gunung raksasa Jawa Tengah. Rasanya kita berdiri di tengah-tengah amfiteater alam yang megah.

Dan satu hal yang bikin Andong beda dari gunung lain: WARUNG DI PUNCAK! Iya, kalian nggak salah baca. Di puncak Andong itu ada warung kelontong milik warga lokal. Mereka menjual gorengan hangat, mie instan, teh panas, kopi, bahkan nasi pecel! Bayangkan, dingin-dingin di puncak gunung, makan tempe mendoan panas yang baru diangkat dari wajan. Itu kenikmatan hakiki yang susah dijelaskan dengan kata-kata. Aku dan Nafiza langsung pesan teh manis panas dan gorengan. "Surga dunia," gumam Nafiza sambil mengunyah bakwan.



Golden Sunrise: Momen Magis

Kami mendirikan tenda di area Puncak Jiwa (pastikan datang agak awal kalau weekend, karena lapaknya rebutan kayak pasar malam!). Malamnya, kami menikmati kelap-kelip lampu kota Magelang dari atas. Anginnya? Dingin banget, menusuk tulang! Jaket tebal dan sleeping bag adalah penyelamat.

Subuh harinya, momen yang ditunggu tiba. Golden Sunrise. Langit perlahan berubah warna. Dari biru gelap, ungu, lalu semburat oranye muncul dari balik Gunung Merbabu dan Lawu di kejauhan.

Saat matahari bulat sempurna muncul, semua pendaki bersorak pelan atau sekadar diam terpaku. Cahaya emas itu menyinari lautan awan yang bergulung-gulung di bawah kami. Puncak-puncak gunung lain menyembul seperti pulau di tengah samudra kapas. Aku merasa sangat kecil, tapi juga sangat bersyukur. Di momen seperti inilah baterai jiwaku terisi penuh.

Jembatan Setan: Uji Adrenalin Tipis-tipis

Sebelum turun, aku sempat mencoba melintasi jalur punggungan menuju Puncak Alap-alap yang sering disebut "Jembatan Setan" (versi mininya Merbabu). Jalurnya sempit, kanan-kiri jurang yang cukup dalam. Tapi pemandangannya luar biasa. Angin bertiup kencang, membuat adrenalin terpacu.

Di sini harus hati-hati dan fokus ya. Jangan kebanyakan gaya demi konten kalau nyawa taruhannya. Cukup jalan pelan, nikmati sensasi berjalan di titian langit.

Refleksi Zakiya: Gunung untuk Semua

Perjalanan ke Andong ini menyadarkanku satu hal. Bahwa gunung itu inklusif. Di sini aku melihat pendaki dari segala usia. Ada anak balita yang digendong ayahnya, ada anak muda yang galau, sampai kakek-nenek yang masih bugar.

Andong memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk mencicipi keindahan atap langit tanpa harus menjadi atlet profesional. Dia mengajarkan bahwa keindahan alam itu hak segala bangsa (dan segala fisik).

Memang, saat akhir pekan Andong bisa sangat ramai. Tenda berdempetan, suara orang ngobrol terdengar jelas. Mungkin bagi pencari kesunyian sejati, ini agak mengganggu. Tapi bagiku, justru di situlah kehangatannya. Melihat orang-orang berbagi api unggun, berbagi makanan, berbagi tawa. Itu adalah sisi humanis pendakian yang indah.

Terima kasih Andong, si kecil yang perkasa. Terima kasih untuk mendoan hangat dan sunrise emasnya.



Tips Kecil dari Zakiya

  1. Bawa Jaket Windbreaker: Angin di puncak kencang banget karena area terbuka.

  2. Uang Tunai: Bawa uang receh buat jajan di warung puncak. Sinyal QRIS kadang moody.

  3. Sampah: Bawa turun sampahmu, sekecil apapun (termasuk puntung rokok!).

  4. Waktu: Kalau mau sepi, datanglah weekday. Kalau weekend, siap-siap "Cendol Dawet" alias ramai.

Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya! Tetap sehat, tetap jalan-jalan, dan jangan lupa bahagia!


Apa Kata Nafiza? (Sahabat Zakiya yang Kaget Ada Warung di Puncak)

"Sumpah ya Zak, aku tuh masih takjub lho sampai sekarang. Awalnya aku udah mau marah-marah pas di tangga batu itu, rasanya betisku kondean semua. Aku udah nyiapin omelan panjang kali lebar buat kamu. TAPI... pas nyampe atas dan liat ada ibu-ibu goreng tempe mendoan, aku langsung 'shock culture'! Hahaha. Gila sih, makan mendoan anget sambil liat Gunung Merbabu segede gaban di depan mata itu pengalaman paling absurd tapi paling enak! Dinginnya emang nggak ngotak sih, aku pake jaket dua lapis masih gemeteran, tapi pas liat sunrise-nya... oke lah, dimaafkan. Bener kata kamu, ini hotel bintang lima, tapi versi atap langit. Besok-besok ajak aku lagi ya, tapi traktir mendoannya 10 biji!"

Lebih baru Lebih lama