Muncak Tanpa Capek? Menembus Samudra Awan dengan Motor di Gunung Telomoyo
Oleh: Zakiya
Halo, Sahabat Zakiya yang budiman! Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Selamat pagi, siang, atau malam di manapun kalian sedang membaca tulisan ini. Apa kabar semangat kalian? Masih membara atau lagi mode hemat daya alias mager parah? Hahaha. Peluk hangat dari Zakiya untuk kalian semua!
Jujur saja, minggu ini Zakiya lagi dilanda penyakit malas gerak yang akut. Ingin melihat awan, ingin menghirup udara dingin gunung, tapi ngebayangin harus trekking berjam-jam, bawa keril berat, dan tidur di tenda yang alasnya keras... aduh, rasanya punggung ini langsung protes duluan. Tapi, hasrat healing ini tak bisa dibendung. Akhirnya, setelah riset sana-sini, aku menemukan satu destinasi ajaib di perbatasan Kabupaten Semarang dan Magelang yang menawarkan solusi win-win solution. Sebuah gunung di mana kita bisa sampai ke puncaknya tanpa harus melangkahkan kaki setapak pun (kecuali buat ke toilet atau beli cilok). Ya, selamat datang di Gunung Telomoyo! Gunung satu-satunya di Indonesia yang bisa didaki menggunakan kendaraan sampai titik tertinggi. Penasaran gimana sensasi "mendaki" sambil nge-gas motor bareng temanku, Fitria? Yuk, simak catatan perjalananku yang penuh adrenalin dan angin kencang ini!
Telomoyo: Anomali Indah di Tanah Jawa
Gunung Telomoyo ini unik banget, Sahabat Zakiya. Tingginya sekitar 1.894 MDPL (Meter Di atas Permukaan Laut). Bukan yang tertinggi memang, tapi lokasinya yang strategis membuat dia punya view kelas kakap.
Kenapa bisa naik kendaraan sampai puncak? Konon, dulu infrastruktur jalan aspal ini dibangun untuk akses pemeliharaan menara pemancar (BTS) yang banyak banget di puncaknya. Tapi lama-kelamaan, warga sadar potensi wisatanya. Jadilah sekarang Telomoyo primadona buat para pemburu sunrise yang (maaf) agak manja kayak aku kali ini. Hahaha.
Akses utamanya biasanya lewat Pintu Masuk Dalangan, Ngablak, Magelang. Tapi secara administratif, gunung ini berdiri gagah membelah Semarang dan Magelang.
Persiapan: Cek Rem atau Nyawa Melayang!
Ini bukan clickbait, tapi peringatan serius. Sebelum berangkat, aku memastikan motor sewaan kami dalam kondisi prima, terutama REM.
Perjalanan mendaki Telomoyo itu bukan lewat jalan tanah, tapi jalan aspal yang mulus namun sempit dan nanjaknya... Nauzubillah! Curam banget, Bestie! Motor matic sebenarnya boleh naik, tapi harus ekstra hati-hati karena rawan rem blong saat turunan nanti.
Kami berangkat subuh buta sekitar jam 04.00 pagi dari penginapan di sekitar Kopeng. Udara dinginnya sudah menusuk tulang, padahal belum naik. Jaket tebal, sarung tangan, dan masker adalah perlengkapan wajib fardu ain. Jangan coba-coba naik cuma pake kaos oblong kalau nggak mau pulang jadi es loli.
Tiket Masuk: Murah Meriah Menuju Angkasa
Sampai di gerbang loket Dalangan, antrean motor sudah terlihat mengular tipis. Ternyata banyak juga kaum mager yang berburu sunrise pagi ini.
Harga tiketnya sangat bersahabat. Sekitar Rp15.000 per orang (bisa berubah pas weekend atau hari libur). Murah banget kan? Dengan harga semurah nasi padang, kita dapat akses VIP menuju atap Jawa Tengah.
Setelah bayar tiket, petualangan sesungguhnya dimulai. "Siap, Fit?" tanyaku ke Fitria yang duduk di boncengan sambil menggigil. "Gas, Zak! Tapi pelan-pelan ya, ngeri jurang!" jawabnya.
Sensasi "Mendaki" dengan Gas Motor
Inilah pengalaman yang nggak bakal kalian temukan di gunung lain. Biasanya, naik gunung itu kita mendengar suara napas sendiri yang ngik-ngik. Di Telomoyo, yang terdengar adalah raungan mesin motor yang berjuang melawan gravitasi.
Jalanannya berkelok-kelok tajam membelah hutan pinus dan pakis. Gelap, hanya diterangi lampu motor. Ada sensasi ngeri-ngeri sedap. Di sebelah kiri tebing, di sebelah kanan jurang gelap yang entah sedalam apa. Kabut tebal sesekali turun menghalangi pandangan, membuat jarak pandang cuma 5 meter.
Rasanya seperti main game balapan di level paling susah. Tapi, setiap kali kami melihat celah pepohonan, terlihat kelap-kelip lampu kota di kejauhan yang mulai meredup. Indah banget!
Di tengah jalan, kami sempat berhenti sebentar karena mesin motor terasa panas dan bau kampas rem dari motor pengunjung lain menyengat tajam. Bau hangus kampas rem adalah aroma khas Telomoyo. Jadi kalau kalian mencium bau gosong, itu wajar, tapi tetap waspada ya!
Awang-Awang Sky View: Jeda Sejenak di Dek Kaca
Sebelum sampai puncak, kami melewati sebuah spot hits bernama Awang-Awang Sky View. Ini adalah dek kaca yang menjorok ke jurang, letaknya di pertengahan jalan menuju puncak.
Kami memutuskan mampir sebentar (bayar lagi sekitar Rp15.000). Berdiri di atas kaca tembus pandang dengan jurang menganga di bawah kaki itu bikin lutut lemas, Guys! Tapi view-nya... Masya Allah. Dari sini kita bisa melihat Gunung Andong yang bentuknya seperti punggung naga dengan sangat jelas.
Sinar matahari pagi mulai muncul, menciptakan gradasi warna ungu dan oranye di langit. Gunung Sumbing dan Sindoro terlihat gagah di kejauhan, seolah menyapa kami, "Selamat pagi, para pemalas yang naik motor!" Hahaha.
Puncak Telomoyo: Hutan Tower di Atas Awan
Lanjut gas lagi sekitar 15 menit, akhirnya sampailah kami di area puncak. Jangan bayangkan puncak gunung yang alami penuh Edelweiss ya. Puncak Telomoyo itu isinya tiang-tiang pemancar radio dan seluler yang menjulang tinggi. Vibe-nya industrial banget, tapi dikepung awan.
Begitu parkir motor (iya, parkir motor di puncak gunung!), angin kencang langsung menampar wajah. Dinginnya bukan main! Suhunya mungkin sekitar 10-15 derajat, tapi karena angin (wind chill), rasanya kayak di dalam freezer.
Tapi semua itu terbayar lunas saat melihat ke arah timur. Matahari terbit menyembul malu-malu. Lautan awan (sea of clouds) terhampar luas menutupi lembah. Gunung Merbabu dan Merapi berdiri berdampingan dengan gagahnya, menyembul dari balik selimut kapas putih itu. Gunung Ungaran di sisi utara juga terlihat jelas.
Kami benar-benar berada di "Negeri di Atas Awan". Bedanya, di sini kami menikmati pemandangan ini sambil duduk santai di atas jok motor, tanpa kaki pegal, tanpa napas habis. Rasanya curang, tapi nikmat!
Warung di Awan: Indomie Rasa Ketinggian
Salah satu fasilitas terbaik di Puncak Telomoyo adalah deretan warung warga. Bayangkan, di ketinggian hampir 2.000 meter, ada yang jual kopi panas, gorengan, dan tentu saja menu wajib anak gunung: Indomie Rebus Telur.
Aku dan Fitria langsung menyerbu salah satu warung. Memesan mie kuah panas dengan potongan cabai rawit. Dimakan saat uapnya masih ngebul, sambil melihat pemandangan gunung-gunung perkasa di depan mata. Rasanya? Bintang lima Michelin kalah! Kuah MSG yang hangat mengalir ke tenggorokan, melawan dinginnya angin Telomoyo. Itu adalah sarapan terbaik minggu ini.
Tantangan Turun: Rem Jangan Sampai Blong!
Puas foto-foto sampai memori HP penuh, sekitar jam 8 pagi kami memutuskan turun. Matahari sudah mulai tinggi dan kabut mulai naik menutupi pemandangan.
Nah, perjalanan turun ini justru lebih horor daripada naik. Gravitasi menarik motor kami ke bawah dengan kuat. Kami harus pintar-pintar memainkan rem. Kuncinya: Jangan tekan rem terus-menerus karena bisa bikin rem panas dan blong. Tekan-lepas-tekan-lepas (kocok rem). Dan kalau bisa, berhenti lah beberapa kali di pos-pos yang disediakan untuk mendinginkan mesin dan rem.
Sepanjang jalan turun, karena hari sudah terang, barulah terlihat jelas betapa indahnya jalur ini. Kami melihat air terjun kecil di tebing, melihat hutan pinus yang asri, dan melihat antrean pengunjung yang baru mau naik.
"Semangat Nanjak!" teriakku pada rombongan motor yang baru naik, padahal dalam hati membatin, "Awas remnya ya, Mas!"
Refleksi Zakiya: Cara Lain Menikmati Alam
Perjalanan ke Telomoyo ini mengajarkanku bahwa menikmati alam itu tidak harus selalu dengan cara yang sulit. Kadang, kita butuh kemudahan. Kadang, kita cuma butuh duduk diam melihat awan tanpa harus memikirkan trekking pole atau pasang tenda.
Telomoyo memberikan akses inklusif. Aku melihat banyak keluarga membawa anak kecil, bahkan orang tua, untuk menikmati pemandangan yang biasanya hanya bisa dinikmati oleh pendaki fisik prima. Ini adalah berkah tersendiri.
Meskipun "curang" karena naik motor, rasa kagum dan syukur saat melihat kebesaran Tuhan dari ketinggian itu rasanya sama besarnya dengan saat aku mendaki dengan kaki. Alam selalu punya cara untuk membuat kita merasa kecil dan bersyukur.
Buat Sahabat Zakiya yang pengen ngerasain sensasi di atas awan tapi "alergi" capek, Telomoyo adalah jawaban doa kalian.
Terima kasih Telomoyo, si gunung ramah yang mengizinkan roda motor kami mencium puncaknya. Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya! Tetap hati-hati di jalan dan jangan lupa cek rem!
Apa Kata Fitria? (Teman Perjalanan Zakiya yang Parnoan)
"Aduh Zak, sumpah ya! Jantungku rasanya ketinggalan di tikungan pertama tadi! Kamu bilang 'jalannya aspal mulus', iya bener aspal, tapi nanjaknya itu lho kayak mau ke langit ketujuh! Aku sepanjang jalan cuma bisa dzikir sambil pegangan jaket kamu kenceng-kenceng. Takut banget motornya nggak kuat nanjak atau malah mundur lagi. Hahaha. Tapi... pas udah nyampe atas dan makan mie rebus sambil liat Gunung Merbabu di depan mata, ilang semua takutnya. Gila, bagus banget view-nya! Kayak lukisan hidup. Cuma ya itu, dinginnya nggak santai, tanganku sampe beku susah megang sendok. Kapok nggak? Nggak sih, tapi next time kita sewa jeep aja ya, biar aku bisa merem pas tanjakan! Hahaha."
.png)
.png)
.png)
.png)