Mini Semeru yang Menguji Nyali: Napas Tua dan Sejarah Purba di Puncak Pawitra, Penanggungan

 

Mini Semeru yang Menguji Nyali: Napas Tua dan Sejarah Purba di Puncak Pawitra, Penanggungan

Oleh: Zakiya

Halo, Sahabat Zakiya yang luar biasa! Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Selamat pagi, siang, sore, atau malam di manapun kalian sedang menyempatkan waktu untuk membaca coretan perjalanan ini. Apa kabar raga dan jiwa kalian? Masih kuat menghadapi kenyataan atau sudah butuh pelarian sejenak ke pelukan alam? Hahaha. Peluk hangat dari Zakiya untuk kalian semua!

Kali ini, Zakiya ingin membawa kalian ke tanah Jawa Timur, tepatnya ke Kabupaten Mojokerto. Ada satu gunung yang unik banget. Dia tidak terlalu tinggi, hanya 1.653 MDPL (Meter Di atas Permukaan Laut), tapi reputasinya di kalangan pendaki Jawa Timur sangat legendaris. Orang sering menyebutnya sebagai "Mini Semeru" karena bentuk puncaknya yang kerucut sempurna mirip Mahameru, atau "Gunung Suci" karena ribuan tahun lalu gunung ini dianggap sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Ya, selamat datang di catatan perjalananku mendaki Gunung Penanggungan. Siapkan kopi hangat dan mental baja, karena cerita ini akan penuh dengan batu, debu, dan kekaguman yang tiada habisnya!



Panggilan Mendadak dari Mojokerto

Sebenarnya, pendakian ini adalah rencana impulsif. Aku dan sahabatku, Fitria, sedang butuh "obat stres" yang manjur tapi tidak memakan waktu berhari-hari. Pilihan kami jatuh ke Penanggungan.

Terletak di perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Pasuruan, gunung ini menawarkan paket lengkap: Trek yang menantang (serius, jangan remehkan tingginya!), pemandangan epik Gunung Arjuno-Welirang, dan situs sejarah candi-candi kuno yang tersebar di lerengnya.

Perjalanan kami dimulai dari Surabaya menuju kawasan Trawas. Udara panas kota perlahan berganti menjadi sejuk saat kami memasuki wilayah pegunungan. Hati rasanya langsung adem melihat hijaunya pepohonan di kanan-kiri jalan.

Basecamp Tamiajeng: Gerbang Para Petarung

Kami memilih jalur pendakian via Tamiajeng. Ini adalah jalur paling populer, paling ramai, dan katanya paling cepat sampai puncak (walaupun definisinya cepat itu relatif ya, tergantung kekuatan dengkul).

Sampai di Basecamp Tamiajeng, suasana sudah ramai oleh pendaki. Ada yang baru datang dengan wajah segar, ada yang baru turun dengan wajah kucel penuh debu tapi bahagia. Fasilitas di basecamp ini sangat lengkap. Parkiran luas, warung makan berjejer (wajib isi perut dulu pakai nasi rames!), toilet bersih, dan tempat istirahat yang memadai.

Satu hal yang menarik perhatianku adalah tawaran Ojek Gunung. "Mbak, ojek sampai Pos 1? Hemat tenaga lho," tawar seorang bapak dengan ramah. Zakiya dan Fitria saling pandang. Godaan setan memang nyata. Tapi dengan tekad bulat (dan demi konten blog ini), kami memutuskan untuk berjalan kaki dari bawah. "Nggak Pak, makasih. Mau cari keringat," tolakku halus. Padahal dalam hati, "Duh, nyesel nggak ya nanti?"



Tiket Masuk: Investasi Kesehatan Mental

Sebelum mulai, kami mendaftar di pos perizinan. Biaya retribusi pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng sangat terjangkau, sekitar Rp15.000 sampai Rp20.000 per orang (harga bisa berubah sewaktu-waktu). Murah banget kan? Lebih murah daripada tiket bioskop, tapi dramanya lebih real.

Petugas basecamp memberikan briefing singkat namun penting. "Hati-hati ya Mbak, jalur berbatu. Jangan buang sampah sembarangan, bawa turun lagi. Dan ingat, sopan santun dijaga karena ini gunung keramat," pesan Mas Petugas. Aku mengangguk mantap. Briefing soal sampah dan etika ini penting banget, karena Penanggungan adalah situs cagar budaya alam.

Etape Awal: Pemanasan yang Menipu

Perjalanan dimulai melewati jalan makadam (berbatu) di tengah perkebunan warga. Awalnya masih landai, masih bisa senyum-senyum sambil bikin Instagram Story. Kami melewati hutan produksi yang teduh.

Sampai di Pos 1, napas masih aman. Kami istirahat sebentar minum air. Namun, lepas dari Pos 1 menuju Pos 2, "wajah asli" Penanggungan mulai terlihat. Jalan tanah mulai berganti dengan bebatuan. Sudut kemiringan mulai naik. Tapi, ini belum seberapa. Ujian sesungguhnya ada di depan mata.

Pos 2 ke Pos 4: Selamat Datang di Jalur Tanpa Ampun

Sahabat Zakiya, kalau ada yang bilang Penanggungan itu "gunung kecil pasti gampang", tolong jangan dipercaya mentah-mentah. Dari Pos 2 menuju Pos 3 dan Pos 4, jalurnya adalah definisi "dengkul ketemu dagu".

Tanahnya kering dan berdebu (karena kami mendaki saat musim kemarau), ditambah dengan bongkahan batu-batu besar yang tidak beraturan. Kami harus melangkah lebar-lebar, memanjat batu, dan mencari pijakan yang stabil. Tidak ada "bonus" alias jalan datar. Semuanya nanjak!

Fitria yang ada di belakangku sudah mulai ngomel. "Zak, ini gunung apa tangga raksasa sih? Kok nggak abis-abis batunya?" Aku cuma bisa ketawa ngos-ngosan. "Nikmatin aja, Fit. Anggap aja lagi terapi kaki gratis."

Tapi di tengah kelelahan itu, pemandangan di belakang kami mulai terbuka. Kota Mojokerto dan Sidoarjo terlihat samar-samar dari ketinggian. Angin gunung yang semilir menjadi penyemangat satu-satunya.



Puncak Bayangan: Oase di Tengah Lelah

Setelah perjuangan sekitar 2,5 jam yang terasa seperti seharian, sampailah kami di Puncak Bayangan. Ini adalah area datar yang luas sebelum puncak utama. Di sinilah biasanya para pendaki mendirikan tenda.

Suasananya... Masya Allah, syahdu banget! Puluhan tenda warna-warni berdiri. Aroma kopi dan mie instan menguar di udara. Kami mencari lapak kosong untuk menggelar matras dan istirahat sejenak (kami tek-tok alias tidak menginap, tapi istirahat lama di sini wajib hukumnya).

Dari Puncak Bayangan, pemandangannya sudah juara. Di depan mata, Puncak Pawitra (puncak utama) menjulang gagah berbentuk kerucut, menantang kami untuk didaki. Jalurnya terlihat jelas: garis lurus vertikal yang membelah bukit. Melihatnya saja bikin mental ciut, tapi penasaran.

Di arah selatan, Gunung Arjuno dan Welirang terlihat sangat besar dan dekat. Asap belerang dari Welirang terlihat mengepul putih. Itu adalah view terbaik untuk difoto. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini, mengisi tenaga dengan cokelat batangan dan roti.

Summit Attack: Merangkak Menuju Pawitra

"Yuk, gas muncak!" ajakku setelah napas kembali teratur. Perjalanan dari Puncak Bayangan menuju Puncak Pawitra adalah etape terberat. Jalurnya bukan lagi tanah, tapi batu kerikil lepas dan pasir yang licin. Kemiringannya mungkin sekitar 60-70 derajat.

Di sini, kami benar-benar merangkak. Tangan harus aktif memegang batu atau akar rumput untuk menahan keseimbangan. Debu beterbangan setiap kali ada pendaki di depan yang melangkah. "Awas batu!" teriak pendaki di atas. Itu adalah peringatan yang sering terdengar. Solidaritas pendaki sangat terasa di sini. Kami saling bantu, saling semangati. "Semangat Mbak, dikit lagi!" kata seorang pendaki yang turun, padahal "dikit lagi"-nya itu masih 30 menit nanjak. Hahaha, kebohongan manis yang indah di gunung.

Vegetasi di sini didominasi oleh tanaman Cantigi dan rumput ilalang kering. Panas matahari terasa menyengat karena area terbuka, tapi angin kencang membuat dingin tetap terasa. Kombinasi yang aneh tapi bikin kangen.



Puncak Pawitra: Negeri di Atas Awan yang Sakral

Akhirnya, kaki kami menginjak tanah tertinggi. Puncak Pawitra 1.653 MDPL. Rasa capek, pegal, dan debu di wajah, semuanya terbayar lunas. LUNAS!

Puncak Penanggungan ini cukup luas. Di tengah-tengahnya ada bebatuan yang menyerupai altar kuno. Memang, gunung ini sarat akan sejarah. Konon, puncaknya adalah bagian dari Gunung Mahameru yang tercecer saat dipindahkan dari India ke Jawa.

Pemandangannya 360 derajat tanpa halangan. Ke utara, hamparan kota Surabaya dan laut Jawa terlihat berkilauan. Ke selatan, duo raksasa Arjuno-Welirang seolah menjadi benteng alam yang megah. Ke timur, terlihat Semeru dan Bromo di kejauhan. Ke barat, Gunung Wilis dan Lawu samar-samar terlihat.

Kami duduk di batu besar, membiarkan angin menerpa wajah. Ada rasa haru yang menyelinap. Gunung sekecil ini bisa memberikan pemandangan semegah ini. Kami merasa kecil, sangat kecil di hadapan ciptaan Tuhan.

Misteri Candi-Candi

Meskipun jalur Tamiajeng tidak melewati banyak candi (jalur Jolotundo lebih banyak candinya), tapi aura sakral tetap terasa. Di Puncak Pawitra, terdapat gua kecil dan susunan batu yang dipercaya sebagai tempat bertapa orang zaman dulu.

Zakiya sempat merenung. Bayangkan, ribuan tahun lalu, orang-orang sudah mendaki gunung terjal ini tanpa sepatu trekking canggih, tanpa jaket windbreaker, demi mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Semangat spiritual itulah yang mungkin membuat gunung ini terasa "hidup".

Refleksi Zakiya: Pelajaran dari Si Kecil Cabe Rawit

Turun dari Penanggungan jauh lebih sulit daripada naik. Lutut harus menahan beban tubuh di turunan curam berbatu. Kami beberapa kali terpeleset (untung tidak jatuh fatal), sepatu penuh debu sampai warnanya berubah jadi abu-abu.

Penanggungan mengajarkan Zakiya satu hal penting: Jangan pernah meremehkan sesuatu dari ukurannya. Gunung ini mungkin rendah secara angka MDPL, tapi tantangannya setara gunung besar. Ia mengajarkan ketahanan, fokus, dan rasa hormat.

Buat Sahabat Zakiya yang mau ke sini, tips dari aku:

  1. Sepatu: Pakai sepatu gunung yang grip-nya bagus. Jangan pakai flat shoes apalagi sandal jepit licin. Bahaya!

  2. Air: Bawa air yang cukup (minimal 2-3 liter). Tidak ada sumber air di jalur atas.

  3. Masker: Wajib bawa masker atau buff, debunya lumayan parah kalau kemarau.

  4. Waktu: Kalau mau sunrise, start pendakian jam 2 pagi. Kalau mau sunset, start jam 10 pagi.

Terima kasih Penanggungan, sudah menghajar kaki kami tapi mengisi hati kami dengan keindahan. Mojokerto, kamu keren!

Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya! Tetap lestari, bawa turun sampahmu, dan jangan lupa bahagia!


Apa Kata Fitria? (Sahabat Zakiya yang Kakinya Gemetar Hebat)

"Aduh Zak, ampun deh! Sumpah ya, aku ketipu banget sama kata-kata 'gunung pendek'. Ini mah bukan gunung pendek, tapi gunung padat karya! Isinya batu semua dari bawah sampe atas, nggak dikasih napas buat jalan datar dikit pun. Lututku rasanya mau copot pas turun, gemeteran kayak lagi goyang itik! Hahaha. Mana pas di Puncak Bayangan aku sempet mikir mau nyerah aja, ngeliat jalur ke puncaknya yang vertikal gitu bikin mental down. TAPI... pas udah di atas, liat Gunung Welirang yang gagah banget di depan mata, ilang semua capeknya. View-nya gila sih, bagus banget buat foto. Aku nggak nyesel ikut, tapi kalau disuruh naik lagi minggu depan? Nggak dulu deh, kasih kakiku libur sebulan! Makasih udah nyeret aku ke sini ya, Zak!"

Lebih baru Lebih lama