Memeluk Sunyi di Trek Terpanjang Jawa: Kisah Mistis dan Romantis di Sabana Cikasur, Gunung Argopuro

 

Memeluk Sunyi di Trek Terpanjang Jawa: Kisah Mistis dan Romantis di Sabana Cikasur, Gunung Argopuro

Oleh: Zakiya

Halo, Sahabat Zakiya yang berjiwa tangguh! Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Selamat pagi, siang, atau malam di manapun kalian sedang membaca tulisan ini. Apa kabar kaki dan punggung kalian? Masih aman atau sudah rindu berat dipijat oleh bebatuan gunung? Hahaha. Peluk hangat dan salam lestari dari Zakiya untuk kalian semua!

Kali ini, Zakiya tidak datang dengan cerita pendakian tektok (naik-turun sehari) atau camping ceria di bukit tetangga. Tidak, Teman-teman. Kali ini, izinkan aku membawa kalian masuk ke dalam sebuah ekspedisi—ya, aku menyebutnya ekspedisi karena durasinya yang panjang—menuju Pegunungan Hyang atau yang lebih dikenal dengan Gunung Argopuro. Terletak di antara Kabupaten Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, dan Jember, gunung ini memegang rekor sebagai pemilik jalur pendakian terpanjang di Pulau Jawa. Total lintasannya mencapai kurang lebih 40-60 kilometer! Bayangkan, kaki ini harus melangkah sejauh itu selama 4 hari 3 malam. Apakah Zakiya sanggup? Atau malah pulang tinggal nama (alias pingsan)? Siapkan camilan kalian, karena cerita kali ini bakal panjang, melelahkan, tapi indahnya... Masya Allah, bikin mau nangis!



Mengapa Argopuro? Sebuah Panggilan Jiwa (dan Nekat)

"Zak, kamu yakin mau ke Argopuro? Itu treknya bikin putus asa lho," kata banyak teman. Tapi, ada satu hal yang membuatku terobsesi: Cikasur.

Aku sering melihat foto-foto sabana luas dengan sungai jernih yang membelahnya, konon mirip suasana di luar negeri atau set film Jurassic Park. Ditambah lagi cerita tentang Dewi Rengganis yang mistis dan keberadaan Burung Merak Hijau yang liar. Rasanya, jiwa petualangku (dan jiwa konten kreatorku, hehe) meronta-ronta ingin membuktikannya sendiri.

Akhirnya, bersama Kamila (sahabatku yang fisiknya kecil tapi mentalnya baja), kami memutuskan mengambil cuti panjang dan berangkat menuju Jawa Timur.

Titik Mula: Ojek "Maut" Baderan

Kami memilih jalur lintas, yaitu naik lewat Baderan (Situbondo) dan turun lewat Bremi (Probolinggo). Jalur ini dipilih karena elevasinya lebih landai saat naik, meskipun jaraknya aduhai jauhnya.

Petualangan dimulai dari Basecamp Baderan. Setelah mengurus perizinan (Simaksi), kami dihadapkan pada tantangan pertama: Ojek. Untuk memangkas waktu jalan kaki melewati ladang warga dan hutan makadam yang membosankan, sangat disarankan naik ojek sampai batas hutan (Makadam).

Dan ya ampun, Sahabat Zakiya! Ojek Baderan itu skill-nya di luar nalar. Motor bebek dimodifikasi dengan ban tahu (ban trail), mengangkut kami plus tas carrier seberat 15 kg, melewati jalan batu yang menanjak curam dan licin. Aku memeluk tukang ojeknya kencang banget (maaf ya Pak, reflek takut jatuh!). Rasanya kayak naik roller coaster tanpa sabuk pengaman. Tapi berkat Bapak Ojek, kami hemat tenaga sekitar 2 jam jalan kaki. Tarifnya sekitar Rp50.000 - Rp75.000, tapi worth it banget demi menyelamatkan dengkul untuk menu utama nanti.



Hutan Lumut dan Mata Air yang Melimpah

Masuk ke jalur pendakian, kesan pertamaku adalah: Lembab dan Hijau. Argopuro via Baderan didominasi oleh hutan hujan tropis yang rapat. Berbeda dengan gunung-gunung di Jawa Tengah yang seringkali berdebu, di sini tanahnya gembur dan udaranya basah.

Kami berjalan santai (karena sadar perjalanan masih 4 hari). Yang aku suka dari Argopuro adalah ketersediaan air. Ada Mata Air 1 dan Mata Air 2 yang debitnya melimpah. Jadi kami tidak perlu bawa air bergalon-galon dari bawah.

Di hari pertama, kami camp di area Mata Air 1. Suasananya sunyi sekali. Tidak banyak pendaki di sini karena gunung ini bukan gunung "sejuta umat". Hanya ada suara serangga hutan dan gemercik air. Malam itu, kami tidur cepat, menyimpan tenaga untuk perjalanan panjang menuju surga Cikasur esok hari.

Cikasur: Potongan Surga yang Jatuh ke Bumi

Hari kedua adalah hari yang paling dinanti. Perjalanan dari Mata Air menuju Alun-Alun Cikasur. Begitu keluar dari rapatnya hutan dan semak berduri, mata kami terbelalak.

Di depan mata, terhampar padang rumput (sabana) yang luasnya tak berujung, dikelilingi oleh bukit-bukit hijau yang bergelombang. Dan di tengahnya, mengalir sungai kecil yang airnya jernih dan dingin. "Ini beneran di Jawa, Kam?" tanyaku pada Kamila yang cuma bisa bengong.

Cikasur bukan sekadar sabana. Ini adalah bekas landasan pesawat zaman Belanda! Konon, dulu tempat ini mau dijadikan bandara militer tersembunyi. Kami mendirikan tenda tepat di pinggir sungai. Dan tahukah kalian? Sungai di Cikasur itu dipenuhi oleh Selada Air liar! Tanaman selada air segar tumbuh subur di air yang mengalir. Kami memetiknya segenggam, mencucinya di sungai itu juga, lalu memakannya mentah-mentah pakai sambal bekal dan nasi liwet. Rasanya? Krenyes-krenyes segar, manis, dan dingin. Itu adalah salad termahal di dunia karena dimakan dengan view jutaan dolar.



Bertemu Sang Primadona: Merak Hijau

Sore harinya, saat suasana mulai sepi, kami mendengar suara aneh. Seperti suara kucing mengeong tapi lebih nyaring. "Itu suara Merak, Zak!" bisik Kamila.

Kami mengendap-endap keluar tenda. Dan benar saja! Di kejauhan, di antara ilalang tinggi, terlihat seekor Merak Hijau jantan dengan ekornya yang panjang menjuntai sedang berjalan anggun. Warnanya hijau zamrud berkilauan ditimpa matahari sore. Kami menahan napas. Takut dia kabur. Momen itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum dia menghilang ke balik semak, tapi rasanya magis banget. Argopuro adalah satu-satunya gunung di mana kita bisa melihat Merak liar di habitat aslinya.

Mistisnya Puncak Rengganis

Hari ketiga, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Di Argopuro, ada tiga puncak utama: Puncak Arca, Puncak Argopuro, dan Puncak Rengganis. Tapi yang paling ikonik adalah Puncak Rengganis.

Puncak ini berbeda dari puncak gunung lain. Tanahnya berwarna putih kapur, berbau belerang tipis, dan terdapat reruntuhan bangunan kuno yang tersusun dari batu. Konon, ini adalah bekas istana Dewi Rengganis, seorang putri dari Kerajaan Majapahit yang mengasingkan diri.

Aura di sini... berat. Zakiya bukan anak indigo, tapi aku bisa merasakan kesunyian yang berbeda. Angin bertiup kencang, tapi rasanya hening. Ada banyak petilasan dan makam-makam tua. Kami menjaga sikap, tidak berteriak-teriak, dan mengucapkan salam dalam hati. Meskipun mistis, pemandangannya luar biasa. Dari sini, kita bisa melihat hamparan Pegunungan Hyang yang berbukit-bukit seperti punggung naga raksasa.

Puncak Argopuro (3.088 MDPL): Atap Hyang

Tak jauh dari Rengganis, kami mampir ke Puncak Argopuro, titik tertingginya. Ada tugu triangulasi di sana. Kami berfoto sebentar sebagai bukti sah penaklukan. Tapi jujur, hatiku tertinggal di Cikasur dan Rengganis. Puncak Argopuro hanyalah bonus ketinggian, tapi "jiwa" dari gunung ini ada di sabana dan situs sejarahnya.

Danau Taman Hidup: Lukisan Kabut yang Menghanyutkan

Perjalanan pulang kami tempuh lewat jalur Bremi. Dan jangan salah, jalur turun ini adalah siksaan sesungguhnya. Jaraknya jauh, turunannya curam, dan hutan hujan tropisnya sangat lebat (banyak pohon tumbang yang harus dipanjat atau dicolongin).

Namun, sebelum sampai basecamp Bremi, kami disuguhi satu lagi keajaiban: Danau Taman Hidup. Sesuai namanya, danau ini benar-benar hidup. Airnya tenang, dikelilingi hutan lebat. Ada sebuah dermaga kayu tua yang menjorok ke tengah danau.

Saat kami sampai sana, kabut tebal sedang turun menyelimuti permukaan air. Suasananya gloomy, misterius, tapi sangat tenang. Kami duduk di ujung dermaga, mencelupkan kaki yang sudah lecet-lecet ini ke air dingin. Rasanya damai sekali. Konon, danau ini adalah tempat mandinya para dewi, dan kita dilarang berteriak di sini atau kabut akan datang makin tebal dan menyesatkan.



Tiket Masuk dan Perizinan: Murah tapi Ribet di Logistik

Untuk biaya masuk, Argopuro relatif murah. Simaksi sekitar Rp20.000 - Rp30.000 per hari (dikali jumlah hari pendakian). Tapi, biaya yang mahal ada di Logistik. Karena kita butuh makan untuk 4-5 hari, isi tas carrier benar-benar penuh dengan beras, telur, sarden, gas, dan camilan. Belum lagi biaya transportasi antar-jemput dari basecamp Bremi kembali ke Baderan (kalau bawa kendaraan sendiri) yang lumayan menguras kantong karena jaraknya jauh.

Saran Zakiya: Kalau mau ke sini, ajak rombongan minimal 4-5 orang biar bisa sharing cost transportasi dan logistik.

Refleksi Zakiya: Perjalanan Menemukan Diri

Empat hari di Argopuro bukan cuma soal jalan kaki. Itu adalah perjalanan meditasi. Di trek yang panjang dan sepi itu, aku punya banyak waktu untuk bicara dengan diri sendiri. Tentang mimpi, tentang rasa syukur, tentang batas kemampuan diri.

Argopuro mengajarkan kesabaran tingkat dewa. Saat kamu pikir "sudah sampai", ternyata masih ada bukit lain di depan. Saat kamu pikir "sudah kuat", ternyata alam masih punya cara untuk membuatmu merasa kecil.

Tapi, kenangan makan selada air di Cikasur, melihat merak, dan tidur di bawah jutaan bintang di sabana Lonceng, adalah memori yang akan aku ceritakan sampai tua nanti.

Terima kasih Argopuro, Sang Raksasa Hyang, sudah menerima Zakiya dan Kamila dengan segala keramahan dan misterimu.

Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya! Jangan lupa, alam bukan tempat sampah. Bawa turun sampahmu, atau Dewi Rengganis akan marah!


Apa Kata Kamila? (Partner Ekspedisi Zakiya yang Kehilangan Kuku Kaki)

"Aduh Zak, kalau inget Argopuro rasanya campur aduk! Antara pengen nangis bahagia sama nangis kesakitan. Jujur ya, pas hari ketiga menuju Bremi itu, aku udah jalan kayak zombie. Kuku jempol kakiku rasanya nyut-nyutan parah (dan beneran lepas pas nyampe rumah!), pundakku lecet kena carrier. Aku sempet mikir, 'Ngapain sih kita nyari penyakit jalan sejauh ini?'. TAPI... pas liat foto-foto kita di Cikasur, pas kita makan selada air sungai yang seger banget itu, terus liat danau Taman Hidup yang kayak lukisan... kok ya rasa sakitnya ilang semua? Hahaha. Itu pengalaman paling gila dan paling cantik seumur hidupku sih. Tapi kalau diajak balik lagi tahun depan? Ntar dulu deh, nunggu kuku kakiku tumbuh lagi ya! Makasih udah nyeret aku ke surga tersembunyi ini, Zak!"

Lebih baru Lebih lama