Menggapai Atap Sumatera: Drama Lutut Gemetar dan Pesona Magis di Puncak Kerinci (3.805 MDPL)
Oleh: Zakiya
Halo, Sahabat Zakiya yang bermental baja! Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Apa kabar kalian hari ini? Masih sibuk mengejar deadline atau sedang sibuk menyusun rencana kabur dari kenyataan? Hahaha. Semoga kalian selalu sehat, waras, dan dompetnya tebal ya! Peluk hangat dari Zakiya yang saat menulis ini masih sesekali memijat betis yang kencangnya ngalahin batu kali.
Kali ini, cerita Zakiya agak sedikit "hardcore". Kalau biasanya aku ajak kalian main ke pantai atau bukit-bukit lucu yang bisa didaki pakai sandal jepit, kali ini aku menantang diri sendiri (dan nasib) untuk mendaki gunung berapi tertinggi di Indonesia. Ya, kalian nggak salah baca. Gunung Kerinci. Sang Raksasa yang berdiri gagah di Provinsi Jambi dengan ketinggian 3.805 Meter Di atas Permukaan Laut (MDPL). Ini bukan sekadar hiking cantik, ini adalah ekspedisi fisik dan mental. Bersama sahabatku yang nekatnya sebelas dua belas, Gamila, kami mencoba menyentuh awan di tanah Sumatera. Siapkan teh hangat (kalau bisa Teh Kayu Aro biar menjiwai), dan simak kisah perjuangan kami yang penuh lumpur, akar, dan air mata bahagia ini!
Kayu Aro: Hamparan Karpet Hijau yang Menghipnotis
Perjalanan menuju Kerinci itu sendiri sudah merupakan petualangan. Kami mendarat di Padang, lalu menempuh perjalanan darat sekitar 7-8 jam menuju Desa Kersik Tuo, Kayu Aro. Capek? Banget. Pantat rasanya tepos duduk di mobil travel.
Tapi, begitu memasuki kawasan Kayu Aro... Masya Allah. Segala lelah itu luntur. Kami disambut oleh Kebun Teh Kayu Aro, perkebunan teh tertua di Indonesia dan tertinggi kedua di dunia setelah Darjeeling, India. Hamparan tehnya rapi sekali, seperti karpet hijau raksasa yang digelar untuk menyambut tamu agung. Dan di ujung sana, Gunung Kerinci berdiri menjulang, gelap, besar, dan mengintimidasi. Puncaknya tertutup topi awan lentikular.
"Gila, itu yang mau kita naikkin, Zak?" tanya Gamila dengan wajah pucat. "Iya, Gam. Kelihatan deket ya, padahal itu jauhnya minta ampun," jawabku sok tenang, padahal jantungku sudah dangdutan.
Udara di Kayu Aro dinginnya menusuk. Ini bukan dingin AC, tapi dingin alami yang segar. Kami menginap semalam di homestay warga, mengisi tenaga dengan Nasi Padang (wajib!) sebelum penyiksaan esok hari.
Birokrasi R10 dan Pintu Rimba
Pagi buta, kami bergerak menuju pos perizinan di R10. Urusan administrasi di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) ini sangat ketat, dan aku suka itu. Barang bawaan dicek, sampah dihitung (dan wajib dibawa turun, awas kalau kurang!), dan surat kesehatan itu mutlak. Biaya Simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) sekitar Rp20.000 - Rp30.000 per hari (untuk wisatawan nusantara). Cukup terjangkau untuk pengalaman sekelas "Seven Summits".
Setelah beres, kami diantar mobil bak terbuka (pickup) menuju Pintu Rimba. Di sinilah batas antara peradaban manusia dan kekuasaan alam liar dimulai. "Bismillah," ucapku lirih saat melangkah masuk ke dalam hutan hujan tropis yang lebat.
Terowongan Akar: Selamat Datang di "Gym" Alam Semesta
Sahabat Zakiya, kalau kalian pikir jalur Gunung Gede atau Prau itu sudah menantang, coba main ke Kerinci. Jalur dari Pintu Rimba menuju Pos 1, 2, dan 3 masih tergolong "sopan". Masih landai, tanah padat, dan dikelilingi pohon-pohon raksasa yang diameternya butuh pelukan 3 orang dewasa. Suara Siamang (sejenis kera hitam) bersahutan di kejauhan, menambah nuansa wild yang bikin merinding tapi takjub.
Nah, "pesta" sesungguhnya dimulai dari Shelter 1 menuju Shelter 2 dan 3. Jalurnya bukan lagi jalan setapak, melainkan Terowongan Akar. Iya, kami harus memanjat akar-akar pohon yang melintang tak beraturan, membentuk tangga alami yang curamnya minta ampun. Kadang lutut harus ketemu dagu saking tingginya pijakan.
Tanahnya? Lumpur, Bestie! Karena Kerinci adalah hutan hujan, tanahnya selalu basah dan licin. "Zak, ini kita mendaki gunung apa manjat pohon sih?" keluh Gamila yang nyangkut di antara dua akar besar. Aku cuma bisa ketawa ngos-ngosan. Tangan kami kotor penuh lumpur karena harus scrambling (merangkak menggunakan tangan dan kaki). Tapi di situlah serunya. Kita dipaksa "bersujud" dan memeluk bumi untuk bisa naik. Ego kita dihancurkan pelan-pelan oleh setiap tanjakan.
Shelter 3: Hotel Bintang Lima Tanpa Atap
Setelah perjuangan sekitar 7-8 jam (kami jalan santai karena beban carrier yang berat), sampailah kami di Shelter 3 (3.291 MDPL). Ini adalah batas vegetasi. Pohon-pohon besar sudah hilang, berganti dengan semak cantigi kerdil.
Angin di sini... Brutal. Tenda kami berguncang hebat diterpa angin kencang. Tapi begitu aku membuka pintu tenda... Di bawah sana, hamparan kebun teh Kayu Aro terlihat kecil, dan Danau Gunung Tujuh terlihat berkilauan seperti cermin raksasa yang ditaruh di tengah hutan. Indah. Sangat indah.
Malam itu, kami tidak bisa tidur nyenyak. Suhu mungkin mendekati 5 derajat Celcius. Dinginnya menembus jaket down dan sleeping bag. Kami cuma bisa berdoa semoga besok cuaca cerah untuk summit attack.
Summit Attack: Meniti Pasir dan Kerikil Merah
Pukul 03.00 WIB, alarm berbunyi. Suara pendaki lain mulai terdengar riuh. Kami bersiap. Perjalanan menuju puncak (Indrapura Peak) dari Shelter 3 membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. Treknya? Pasir vulkanik dan kerikil lepas.
Ini adalah bagian paling menguji mental. Prinsipnya: "Maju dua langkah, merosot satu langkah." Pijakannya gembur. Debu beterbangan. Napas rasanya berat sekali karena oksigen yang makin tipis. Kami berjalan pelan seperti zombie, step by step.
Di tengah perjalanan, kami melewati Tugu Yudha. Sebuah prasasti in memoriam untuk mengenang pendaki yang hilang di sana. Aku berhenti sejenak, menundukkan kepala, mengirim doa. Di tempat setinggi dan seliar ini, batas antara hidup dan mati terasa sangat tipis. Tugu Yudha mengingatkan kita untuk tidak sombong. Kita kecil, alam besar.
Puncak Indrapura: Tangisan di Atap Sumatera
Menjelang pukul 06.00 WIB, langit mulai terang. Dan akhirnya, setelah merangkak di tanjakan terakhir yang kemiringannya bikin istighfar, kami sampai di titik tertinggi.
Puncak Indrapura, 3.805 MDPL. Rasanya? Pecah! Aku langsung sujud syukur di tanah berpasir itu. Air mata menetes tanpa permisi. Bukan karena sedih, tapi karena haru. Badan kecil ini, kaki pendek ini, berhasil membawa aku ke tempat tertinggi di Pulau Sumatera.
Pemandangannya unreal. Di satu sisi, kami melihat kawah Gunung Kerinci yang aktif. Kawahnya dalam sekali, dengan air berwarna hijau kekuningan yang mengeluarkan asap belerang pekat. Suara gemuruh dari dalam kawah terdengar jelas, seperti napas naga yang sedang tidur. Seram tapi memukau.
Di sisi lain, kami melihat samudra awan yang luas. Di kejauhan, garis pantai Samudra Hindia di pesisir barat Sumatera terlihat samar-samar. Danau Gunung Tujuh terlihat jelas bentuknya. Kami merasa seperti berdiri di atap dunia.
"Kita berhasil, Zak!" Gamila memelukku erat. Kami berfoto dengan plang puncak yang legendaris itu, dengan wajah kucel, hidung merah, bibir pecah-pecah, tapi senyum paling lebar yang pernah kami miliki.
Turun: Ujian Lutut yang Sebenarnya
Euforia puncak memang manis, tapi perjalanan pulang adalah kenyataan pahit. Turun dari Kerinci itu lebih sakit daripada naik. Akar-akar yang tadi kami panjat, sekarang harus kami turuni. Lutut harus menahan beban tubuh dan gravitasi. Banyak pendaki yang terpeleset di jalur licin ini (termasuk aku, hehe). Celana kotor, sepatu penuh lumpur, kuku kaki mulai nyut-nyutan.
Tapi anehnya, kami tetap tertawa. Setiap kali jatuh, kami tertawa. Mungkin karena kami tahu, rasa sakit ini sementara, tapi kenangannya abadi.
Refleksi Zakiya: Mengapa Kita Mendaki?
Banyak orang bertanya, "Ngapain sih capek-capek naik gunung, bayar pula, cuma buat dapet dingin?" Jawabannya aku temukan di Kerinci.
Mendaki Kerinci mengajarkanku tentang Ketabahan. Saat kamu berada di tengah hutan, hujan turun, kaki sakit, dan puncak masih jauh, kamu nggak punya pilihan selain terus melangkah. Kamu belajar berdamai dengan ketidaknyamanan.
Kerinci juga mengajarkan Kerendahan Hati. Di hadapan kawah raksasa yang menggelegak itu, kesombongan kita sebagai manusia nggak ada artinya. Kita cuma butiran debu di alam semesta.
Buat Sahabat Zakiya yang punya mimpi ke sini, persiapkan fisik kalian minimal 2 bulan sebelumnya. Jogging, squat, latih napas. Jangan modal nekat doang, karena Kerinci itu guru yang galak. Dia nggak segan-segan menghukum murid yang malas.
Terima kasih Kerinci, Sang Atap Sumatera. Kamu gagah, kamu liar, dan kamu tak terlupakan.
Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya! Tetap lestari, bawa sampahmu turun, dan jangan tinggalkan apapun kecuali jejak!
Apa Kata Gamila? (Partner "Gila" Zakiya yang Hampir Nangis di Tugu Yudha)
"Aduh Zak, sumpah ya! Ini gunung apa penyiksaan berkedok wisata sih? Hahaha. Jalur akar di Shelter 2 itu lho, nggak ada akhlak! Kakiku rasanya bukan kayak kaki lagi, tapi kayak jelly. Aku sempet mikir mau give up pas di Tugu Yudha, napasku udah abis, dinginnya nusuk tulang, terus bau belerangnya bikin pusing. Tapi pas kamu teriak 'Liat belakang, Gam!', dan aku liat sunrise muncul dari balik awan... gila, aku langsung nangis kejer. Cantik banget woy! Kawahnya juga serem-serem sedap, berasa lagi di film Mordor. Kapok? Iya, sekarang kapok karena pegel. Tapi bulan depan kalau kamu ajak ke Rinjani, kayaknya aku bakal bilang iya lagi deh. Dasar kita masokis alam! Hahaha. Thanks udah maksa aku, Zak!"
.png)
.png)
.png)
.png)