Dansa di Atas Awan Ranah Minang: Menyapa Tugu Abel dan Wangi Belerang di Puncak Marapi
Oleh: Zakiya
Halo, Sahabat Zakiya yang rancak bana! Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Ondeh mandeh, apa kabar kalian semua? Semoga selalu sehat, bahagia, dan perutnya kenyang makan enak ya! Hahaha. Peluk hangat dari Zakiya yang kali ini sedang mengetik dengan perasaan campur aduk; antara rindu, bangga, dan kaki yang masih sedikit "jelly" sisa petualangan kemarin.
Kalau biasanya Zakiya ajak kalian keliling Jawa, kali ini aku memutuskan untuk terbang agak jauh. Menyeberangi selat, mendarat di tanah yang terkenal dengan rendang dan keripik sanjai-nya. Ya, Sumatera Barat! Tujuan utamanya tentu saja bukan cuma kulineran (walaupun Nasi Kapau itu wajib fardu ain), tapi untuk menuntaskan rasa penasaran pada sosok gagah yang berdiri setinggi 2.891 MDPL (Meter Di atas Permukaan Laut) di Kabupaten Agam. Selamat datang di Gunung Marapi. Ingat ya, pakai "A", bukan Merapi yang di Jogja. Gunung ini punya karisma tersendiri yang bikin aku nekat bawa carrier jauh-jauh dari rumah. Penasaran gimana rasanya dipeluk kabut Sumatera dan berjibaku dengan jalur cadas yang legendaris? Siapkan teh talua kalian, dan simak catatan perjalananku ini!
Koto Baru: Awal Mula Debaran Jantung
Perjalanan dimulai dari Kota Bukittinggi (setelah sebelumnya mendarat di Padang). Kami naik angkot menuju Koto Baru, titik awal pendakian yang paling populer. Kesan pertama saat turun di pasar Koto Baru: Vibe-nya beda banget!
Udara di sini dingin dan segar. Di kiri jalan, sayur-mayur segar hasil panen warga menumpuk. Di kejauhan, Gunung Singgalang berdiri tenang, seolah menjadi saudara kembar Marapi yang saling menjaga. Sementara Marapi sendiri? Dia terlihat gagah, puncaknya tertutup awan, seolah menyembunyikan misteri yang menantang kami untuk datang.
Aku mendaki bersama Shania, sahabatku yang hobi banget ngeluh tapi kakinya kuat kayak kuli panggul. Kami sempat mampir beli bekal nasi bungkus (lauk dendeng batokok, of course) di pasar sebelum naik ojek ladang menuju pos registrasi.
Registrasi dan Etika "Sumbang Duo Baleh"
Sampai di pos registrasi (biasanya di area Tower), kami mengurus Simaksi. Biayanya sangat terjangkau, sekitar Rp20.000 - Rp25.000 per orang.
Satu hal yang aku suka dari pendakian di Sumatera Barat adalah kentalnya adat istiadat. Petugas pos mengingatkan kami dengan tegas namun ramah. "Hati-hati di atas, jangan takabur, jangan berkata kotor, dan jangan merusak alam. Ini tanah bertuan," pesan Bapak penjaga pos. Di Minang, ada aturan tidak tertulis tentang sopan santun di alam. Zakiya merasa merinding tapi juga merasa aman. Rasanya seperti bertamu ke rumah orang tua yang disegani; selama kita sopan, kita akan dijaga.
Etape Hutan Bambu: Pemanasan yang Menipu
Pendakian dimulai. Etape awal kami disambut oleh Hutan Bambu. Jalurnya masih tanah padat yang landai. Suara gesekan batang bambu yang tertiup angin menciptakan musik alami yang creepy tapi syahdu.
"Ah, masih aman ini mah, Zak," celetuk Shania dengan sombongnya. Aku cuma senyum kecut. "Tunggu aja nanti, Shan."
Lepas dari hutan bambu, kami masuk ke hutan hujan tropis yang rapat. Di sini, tantangan khas gunung tropis mulai terasa: Lembab dan becek (karena semalam hujan). Akar-akar pohon besar melintang di jalur, memaksa kami mengangkat kaki lebih tinggi.
Suara satwa liar terdengar jelas. Suara Siamang (kera hitam besar khas Sumatera) bersahutan dengan nyaring: "Wuuut... wuuut... guk guk guk!" Suaranya menggema di lembah, bikin suasana terasa benar-benar liar. Jauh beda sama gunung di Jawa yang kadang ramainya kayak pasar malam. Di sini, kami merasa benar-benar masuk ke alam liar.
Pintu Angin dan Tanjakan Penyesalan
Setelah berjam-jam berjalan di hutan (Pos demi Pos kami lewati), vegetasi mulai terbuka. Kami sampai di batas vegetasi yang sering disebut area Pintu Angin.
Di sinilah ujian mental sesungguhnya dimulai. Jalur tanah habis, berganti dengan jalur batu cadas. Ini bukan batu kerikil biasa, Sahabat Zakiya. Ini adalah bebatuan vulkanik yang keras, tajam, dan curam. Tidak ada lagi pohon untuk pegangan. Pegangan kami hanyalah batu-batu itu sendiri atau tanah keras.
Angin di sini bertiup kencang tanpa penghalang. Topi rimba Zakiya hampir terbang dua kali! Shania sudah mulai mode diam. Napasnya ngik-ngik. "Zak, ini kapan nyampenya? Katanya deket?" "Itu, di balik batu itu," jawabku bohong (maaf ya Shan, itu bohong demi kebaikan).
Jalur cadas ini benar-benar menguras tenaga. Prinsipnya "maju satu langkah, merosot setengah langkah" kalau pas ketemu bagian berpasir. Tapi setiap kali menoleh ke belakang... Masya Allah. Danau Singkarak terlihat membentang luas seperti cermin raksasa yang memantulkan langit. Indah banget!
Tugu Abel: Monumen Emosional di Ketinggian
Akhirnya, setelah perjuangan merangkak di cadas, kami sampai di sebuah dataran luas yang berbatu. Di sana berdiri sebuah tugu yang sangat ikonik: Tugu Abel Tasman.
Bagi pendaki Marapi, ini adalah landmark sakral. Tugu ini dibangun untuk mengenang Abel Tasman, seorang pendaki yang meninggal dunia saat erupsi Marapi tahun 1992. Tugu ini posisinya menyerong menghadap ke Puncak Merpati.
Aku duduk bersimpuh di dekat tugu itu, mengirim doa. Ada perasaan haru yang menyelinap. Tugu ini menjadi pengingat bahwa Marapi adalah gunung yang aktif. Dia cantik, tapi dia juga bisa "batuk" kapan saja. Kita hanyalah tamu kecil yang numpang lewat. Keheningan di sekitar Tugu Abel terasa sangat magis, dikelilingi hamparan batu dan pasir vulkanik yang luas.
Puncak Merpati: Kawah yang Bernapas
Dari Tugu Abel, kami berjalan sedikit lagi menuju puncak tertinggi, Puncak Merpati. Dan di sinilah klimaksnya.
Kami berdiri di bibir kawah yang aktif. Asap belerang putih mengepul tebal dari dalam kawah, diiringi suara desis dan gemuruh pelan dari perut bumi. Baunya menyengat (jangan lupa bawa masker ya!). Melihat aktivitas vulkanik sedekat ini bikin lutut lemas tapi mata takjub. Ini adalah bukti nyata bahwa bumi kita hidup.
Pemandangannya 360 derajat. Di depan, Gunung Singgalang berdiri gagah dengan danau di puncaknya (walau tak terlihat jelas dari sini). Di kejauhan, garis pantai Samudra Hindia terlihat samar. Di bawah, kota Bukittinggi dan Padang Panjang terlihat seperti mainan lego.
Kami juga menemukan Taman Edelweiss. Berbeda dengan di Jawa yang edelweiss-nya tinggi-tinggi, di Marapi edelweiss-nya tumbuh pendek merayap di sela-sela batu cadas, tapi bunganya lebat sekali. Cantik dan tangguh.
Fasilitas dan Logistik: Nasi Padang adalah Koentji
Di Marapi, tidak ada warung di puncak seperti di Lawu atau Andong. Jadi, logistik adalah kunci. Di area cadas/puncak juga tidak ada sumber air (sumber air terakhir ada di pos bawah, di hutan). Jadi kami harus memanajemen air dengan sangat ketat.
Kami mendirikan tenda di area cadas yang agak terlindung batu besar (untuk menahan angin). Malam itu, menu makan malam kami istimewa: Nasi Padang yang kami beli di bawah tadi! Memang sudah dingin, tapi makan rendang di ketinggian 2.000-an meter, di bawah taburan bintang (Milky Way terlihat jelas karena minim polusi cahaya), rasanya... Lamak bana! (Enak banget!). Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?
Pengalaman "Perosotan" Saat Turun
Turun dari Marapi adalah cerita lain. Jalur cadas yang tadi kami daki dengan susah payah, saat turun berubah menjadi arena "ski pasir". Karena medannya pasir bercampur kerikil, cara paling enak turun adalah dengan setengah berlari atau meluncur (glissading) menggunakan tumit.
Wusss... wusss... Debu beterbangan. Sepatu penuh pasir. Kami beberapa kali jatuh terduduk, tapi malah ketawa ngakak. Celana kotor semua, tapi seru banget! Rasanya seperti main perosotan raksasa. Waktu tempuh turun jadi jauh lebih cepat dibanding naik.
Refleksi Zakiya: Marapi Mengajarkan Ketangguhan
Gunung Marapi memberikan pelajaran yang berbeda dari gunung-gunung di Jawa. Medannya yang cadas dan berbatu mengajarkan ketangguhan. Di sini, kamu nggak bisa manja. Kamu harus berani memijak batu tajam, harus berani menghadapi angin kencang.
Marapi juga mengajarkan rasa hormat. Keberadaan tugu-tugu memorial dan kawah aktif yang "bernapas" mengingatkan kita bahwa alam punya kekuatannya sendiri. Kita harus sopan, tahu diri, dan tidak sembrono.
Pulang dari Marapi, badanku pegal semua. Sepatuku mungkin butuh dicuci tujuh kali buat ngilangin debu vulkaniknya. Tapi hatiku penuh. Sumatera Barat bukan cuma soal rendang, tapi soal alam yang gagah dan berkarakter.
Buat Sahabat Zakiya yang mau ke sini, tips dari aku:
Fisik: Latih otot kaki, cadasnya nggak main-main.
Air: Bawa air lebih banyak dari biasanya, karena sumber air di atas sulit.
Masker & Kacamata: Debu vulkanik dan bau belerang cukup kuat.
Etika: Jaga lisan dan perilaku. Where in Rome, do as the Romans do.
Terima kasih Marapi, Si Gagah dari Agam. Terima kasih sudah mengizinkan Zakiya dan Shania bertamu di pelataran awanmu.
Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya! Jangan lupa, alam bukan tempat sampah. Bawa turun sampahmu, buek bangga ranah Minang!
Apa Kata Shania? (Sahabat Zakiya yang Celananya Robek Dikit Pas Perosotan)
"ZAKIYA! Tanggung jawab woy, ini celana gunung kesayanganku bolong pas di pantat gara-gara main perosotan di cadas! Hahaha. Sumpah ya, pas nanjak di cadas itu aku udah hampir nangis darah. Panasnya minta ampun, nggak ada pohon, terus batunya tajem-tajem banget. Aku udah sumpah serapah dalam hati, 'Ngapain sih jauh-jauh ke Sumatera cuma buat nyiksa diri?'. TAPI... pas liat Tugu Abel dan kawahnya yang ngebul itu, aku merinding parah. Keren banget, Zak! Beda banget vibes-nya sama gunung di Jawa. Terus makan nasi rendang pas malem-malem itu penyelamat hidup banget sih. Kapok? Nggak sih, tapi next time kita ke pantai aja ya, biar kakiku bisa napas dikit! Hahaha."
.png)
.png)
.png)
.png)