Hutan Lumut dan Telaga Para Dewi: Kisah Basah Penuh Magis di Gunung Singgalang
Oleh: Zakiya
Halo, Sahabat Zakiya yang rancak bana! Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Ondeh, apa kabar kalian semua hari ini? Masih semangat menjalani hari atau sedang butuh asupan oksigen segar karena pikiran mulai sumpek? Hahaha. Peluk hangat dari Zakiya untuk kalian semua!
Kalau di postingan sebelumnya Zakiya sudah pamer cerita tentang si gagah Gunung Marapi yang berapi-api dan cadas, kali ini aku mau melengkapi petualangan di Ranah Minang dengan mendaki "saudara kembarnya". Ya, tak jauh dari Marapi, berdiri sebuah gunung yang karakternya berbanding terbalik 180 derajat. Kalau Marapi itu panas, terbuka, dan berbatu, maka gunung yang satu ini lembab, tertutup hutan rapat, dan penuh lumut. Selamat datang di Gunung Singgalang. Gunung setinggi 2.877 MDPL (Meter Di atas Permukaan Laut) yang menjadi rumah bagi sebuah danau purba nan cantik bernama Telaga Dewi. Masih bersama partner setia (dan paling bawel), Shania, yuk simak catatan perjalananku menembus belantara basah Agam ini!
Pandai Sikek: Desa Tenun di Kaki Gunung
Petualangan kami dimulai dari desa Pandai Sikek. Nama desa ini pasti familiar buat kalian pecinta kain, karena di sinilah sentra kerajinan tenun Songket Minangkabau yang legendaris itu.
Berbeda dengan Marapi yang titik start-nya di tengah pasar sayur, Singgalang menyambut kami dengan suasana desa yang tenang dan classy. Dari jalan raya Padang Panjang-Bukittinggi, kami harus naik ojek atau angkot menuju area pemancar (Tower RCTI/TVRI).
Jalan menuju titik start pendakian menanjak curam melewati rumah-rumah gadang dan galeri songket. Udaranya sejuk sekali, bahkan cenderung dingin. Kabut tipis sudah turun menyapa, seolah memberi spoiler alias bocoran tentang apa yang akan kami hadapi di atas sana: Kabut, kabut, dan kabut.
Sesampainya di area Tower, kami bersiap. Ini adalah titik terakhir peradaban. Di depan sana, hutan rimba sudah menunggu.
Tiket Masuk: Murah Meriah Menuju Rimba
Sebelum masuk hutan, kami mendaftar di posko pemuda setempat (Posko Koto Baru/Pandai Sikek). Biaya registrasinya sangat bersahabat, sekitar Rp15.000 sampai Rp20.000 per orang.
Sama seperti di Marapi, petugas di sini juga sangat menekankan etika. "Di Singgalang ini hutannya rapat, Neng. Jangan terpisah dari rombongan. Kalau ragu, berhenti. Dan jangan buang sampah di Telaga," pesan Uda penjaga pos dengan logat Minang yang kental. Aku mengangguk mantap. Singgalang memang terkenal dengan jalur hutannya yang bisa membuat pendaki tersesat jika tidak fokus, apalagi saat kabut turun.
Awal Pendakian: Padas, Akar, dan Padas Lagi
"Bismillah," ucapku saat melangkah masuk ke rimbunan pohon.
Sahabat Zakiya, jalur Singgalang itu unik. Jalurnya ditandai dengan keberadaan Tiang Listrik/Kabel. Ya, karena di puncak ada tower pemancar lama, jalur pendakiannya mengikuti jalur kabel listrik tersebut. Jadi kalau kalian bingung, cari saja kabel atau tiang di sela-sela pohon.
Etape awal pendakian langsung "ngegas". Kami disambut oleh jalur tanah padas yang licin. Tidak ada basa-basi landai seperti di gunung-gunung Jawa. Singgalang langsung mengajak betis berkontraksi. Kami melewati ladang penduduk sebentar, lalu langsung ditelan oleh hutan pimpi (gelagah) yang tinggi-tinggi. Lorongnya sempit, kadang tas carrier kami tersangkut di batang pimpi.
"Zak, ini jalurnya kok nggak abis-abis nanjaknya?" keluh Shania yang baru jalan 30 menit. "Sabar Shan, ini baru pemanasan. Menu utamanya belum keluar," jawabku sambil menyeka keringat. Padahal udaranya dingin, tapi keringat mengucur deras karena kelembaban tinggi.
Hutan Lumut: Masuk ke Dunia Fantasi
Nah, inilah ciri khas utama Singgalang yang bikin aku jatuh cinta (sekaligus benci). Semakin tinggi kami mendaki, vegetasi berubah drastis. Hutan tropis biasa berubah menjadi Hutan Lumut (Mossy Forest).
Pohon-pohon besar di sini batangnya bengkok-bengkok artistik, dan hampir seluruh permukaannya tertutup lumut hijau tebal yang basah. Akar-akar pohon menjalar di tanah, membentuk tangga alami yang ruwet. Suasananya... Magis. Cahaya matahari sulit menembus kanopi pohon yang rapat, membuat suasana selalu remang-remang. Kabut tebal seringkali lewat, membuat jarak pandang terbatas.
Rasanya seperti masuk ke set film Lord of The Rings atau Alice in Wonderland. Cantik, tapi juga spooky. Tapi hati-hati, Sahabat Zakiya. Akar-akar yang tertutup lumut itu licinnya minta ampun! Salah pijak sedikit, bisa tergelincir. Aku dan Shania harus ekstra hati-hati. Tangan kami kotor penuh lumpur dan lumut karena harus berpegangan pada akar untuk menarik badan ke atas.
Di sini, prinsipnya adalah: "Akar adalah teman, tapi lumpur adalah kepastian." Sepatu kami yang tadinya berwarna cerah, sekarang sudah seragam berwarna cokelat lumpur. Celana? Jangan ditanya. Sudah penuh bercak tanah. Tapi anehnya, kami menikmati "kotor-kotoran" ini. Ada sensasi menyatu dengan alam yang sangat kuat.
Mata Air dan Tantangan Mental
Di tengah jalur, ada beberapa sumber mata air kecil. Airnya dingin dan segar, langsung dari sela-sela akar pohon. Kami mengisi botol minum di sini. Rasanya manis alami, jauh lebih enak dari air kemasan mahal sekalipun.
Tantangan terberat di Singgalang bukan cuma fisiknya, tapi mentalnya. Karena hutannya sangat rapat dan pemandangannya monoton (pohon dan lumut terus), kadang timbul rasa bosan dan putus asa. "Ini kapan nyampenya sih? Kok pohon semua dari tadi?" Pertanyaan itu berulang kali muncul di kepala. Tiang listrik yang menjadi penanda jalur seolah tak kunjung habis.
Cadas: Akhirnya Langit Terbuka!
Setelah perjuangan sekitar 6-7 jam bergelut dengan akar dan lumpur, akhirnya vegetasi mulai terbuka. Kami sampai di area Cadas. Berbeda dengan Marapi yang cadasnya luas dan panjang, cadas di Singgalang ini lebih pendek. Tapi kemiringannya... Aduhai.
Kami harus memanjat bebatuan keras. Angin kencang langsung menampar wajah. Dinginnya menusuk tulang! Tapi dari sini, pemandangan mulai terlihat. Di belakang kami, Gunung Marapi berdiri gagah dengan asapnya. Di bawah sana, Danau Singkarak mengintip malu-malu. "Ayo Shan! Dikit lagi telaga!" teriakku menyemangati Shania yang sudah merangkak kelelahan.
Telaga Dewi: Permata Tersembunyi di Puncak
Dan akhirnya... momen itu tiba. Setelah melewati bukit cadas terakhir, kami turun sedikit ke sebuah cekungan lembah. Dan di sanalah dia berada.
Telaga Dewi. Sebuah danau kawah purba seluas kurang lebih 1 hektar yang airnya tenang, berwarna kehijauan, dikelilingi oleh pepohonan cantigi dan bukit-bukit kecil. Saat kami sampai, kabut tipis sedang menari-nari di atas permukaan air. Suasananya hening, tenang, dan sangat damai.
Seketika rasa lelah memanjat akar licin tadi hilang. Ini bukan sekadar danau, ini seperti kolam pemandian bidadari. Banyak tenda warna-warni berdiri di tepian telaga. Asap dari kompor portable pendaki mengepul, menciptakan suasana camping yang hangat.
Kami segera mendirikan tenda di pinggir telaga (tapi tetap di jarak aman dari bibir air ya, sesuai aturan). Malam itu, Singgalang menyajikan atap bintang yang luar biasa. Langit cerah. Pantulan bintang terlihat samar di permukaan telaga. Dinginnya? Jangan tanya. Suhunya mungkin sekitar 5-8 derajat Celcius. Kami masak mie rebus panas dan kopi, menikmatinya sambil memandang telaga yang gelap namun menenangkan. Ini adalah definisi healing terbaik.
Puncak Singgalang: Bonus Pemandangan
Pagi harinya, setelah menikmati sunrise di tepi telaga, kami berjalan sedikit menuju Tugu Puncak Singgalang. Jaraknya tidak jauh dari telaga. Dari titik tertinggi ini, kami bisa melihat pemandangan 360 derajat Ranah Minang. Bukit Barisan berjejer rapi, Gunung Tandikat di sebelah selatan terlihat jelas, dan tentu saja si tetangga, Marapi.
Tapi jujur saja, primadona gunung ini bukan puncaknya, melainkan Telaga Dewi-nya. Banyak pendaki yang bahkan tidak ke tugu puncak, cukup puas menghabiskan waktu bersantai di pinggir telaga.
Fasilitas dan Keasrian
Singgalang tidak memiliki warung di atas seperti gunung-gunung populer di Jawa. Jadi, manajemen logistik sangat penting. Semua makanan harus bawa sendiri dari bawah.
Soal kebersihan, aku melihat kondisi di sekitar Telaga Dewi lumayan bersih, meski masih ada satu-dua sampah plastik mikro yang tertinggal. Sahabat Zakiya, please banget ya. Telaga Dewi itu sumber air juga (setelah dimasak). Jangan pernah mencuci piring berminyak atau buang hajat langsung di air telaga. Kita harus jaga kesucian "Telaga Para Dewi" ini.
Refleksi Zakiya: Keindahan yang Tersembunyi
Turun dari Singgalang, tantangannya adalah "seluncuran". Jalur akar yang licin tadi menjadi perosotan alami saat turun. Kami jatuh bangun, tertawa, dan kotor-kotoran lagi.
Singgalang mengajarkan Zakiya tentang keindahan yang tersembunyi. Untuk melihat Telaga Dewi yang tenang, kita harus rela melewati hutan lumut yang gelap, basah, dan kotor. Kita harus rela "jelek" dulu kena lumpur, baru bisa menikmati kecantikan yang hakiki.
Ini kontras dengan Marapi yang gagah dan terbuka. Singgalang itu misterius, introvert, dan menuntut kesabaran lebih. Tapi hasilnya? Ketenangan jiwa yang sulit didapat di tempat lain.
Terima kasih Singgalang, terima kasih Telaga Dewi. Kalian telah membasuh lelah kami dengan air dingin yang menyegarkan.
Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya! Tetap lestari, jangan nyampah, dan jangan lupa bahagia!
Apa Kata Shania? (Sahabat Zakiya yang Bajunya Berubah Warna Jadi Cokelat)
"ZAK! Liat nih celana sama bajuku! Udah nggak ada bentuknya, warnanya jadi cokelat semua kena lumpur! Hahaha. Sumpah ya, jalur Singgalang ini 'prank' banget. Awalnya aku kira bakal estetik kayak hutan pinus gitu, taunya hutan lumut yang beceknya minta ampun. Aku kepeleset di akar pohon itu mungkin ada kali 10 kali, sampe pantatku tepos! Tapi... pas pagi-pagi buka tenda terus liat Telaga Dewi yang ada kabut-kabutnya gitu... aduh, aku langsung maafin semua akarnya. Cantik banget woy! Berasa lagi syuting video klip lagu galau. Tenang banget, nggak berisik, cuma suara air sama angin. Worth it sih kotor-kotorannya. Tapi next trip, tolong cariin gunung yang ada eskalatornya ya, Zak! Dengkulku butuh liburan! Hahaha."
.png)
.png)
.png)
.png)