Di Atas Awan, Di Bawah Cahaya Kota: Romantisme Kabut dan Kopi di Puncak Gunung Ungaran

 

Di Atas Awan, Di Bawah Cahaya Kota: Romantisme Kabut dan Kopi di Puncak Gunung Ungaran

Oleh: Zakiya

Halo, Sahabat Zakiya yang budiman! Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Sugeng rawuh! Apa kabar jiwa-jiwa petualang kalian hari ini? Masih semangat mengejar mimpi atau sedang terjebak dalam revisi skripsi dan target bulanan? Hahaha. Tenang, tarik napas dalam-dalam. Izinkan Zakiya mengirimkan sedikit oksigen segar dan hawa dingin dari ketinggian 2.050 meter di atas permukaan laut (MDPL) langsung ke layar gadget kalian.

Kali ini, cerita perjalananku tidak jauh-jauh dari ibu kota Jawa Tengah. Jika biasanya orang ke Semarang itu identik dengan Lumpia, Lawang Sewu, atau Kota Lama yang panasnya minta ampun, Zakiya justru "melarikan diri" ke arah selatan. Ke sebuah tempat di mana AC alami menyala 24 jam. Ya, akhir pekan kemarin, aku dan sahabat setaku, Fatiha, memutuskan untuk mendaki Gunung Ungaran. Gunung ini sering disebut sebagai "Gunung Seribu Pesona" karena letaknya yang strategis dan pemandangannya yang magis. Penasaran seperti apa rasanya menatap gemerlap kota Semarang dari atas awan sambil menahan dingin yang menusuk tulang? Yuk, simak catatan harian pendakianku yang penuh drama (sedikit) dan tawa (banyak) ini!



Basecamp Mawar: Pintu Gerbang Menuju Ketenangan

Perjalanan kami dimulai dari Basecamp Mawar yang terletak di kawasan Jimbaran, Kabupaten Semarang. Kenapa pilih Mawar? Karena menurut riset kecil-kecilan Zakiya, jalur ini adalah yang paling "ramah" fasilitasnya namun tetap menyajikan trek yang menantang.

Begitu sampai di area parkir Basecamp Mawar, aroma itu langsung menyapa. Aroma khas hutan pinus! Harum getah pinus yang bercampur dengan tanah basah sehabis hujan. Rasanya paru-paru ini langsung bersorak girang. Suasananya di sini sangat hidup tapi tidak bising. Banyak pendaki lain yang sedang packing, mengobrol, atau sekadar menyeruput kopi di warung-warung sederhana yang berjejer rapi.

Di basecamp ini, Zakiya merasakan nuansa kekeluargaan yang kental. Tidak ada ego "siapa yang paling jago naik gunung". Semua sama-sama tamu alam. Ada yang baru pertama kali naik (kelihatan dari tasnya yang masih kinclong), ada juga sepuh gunung yang jalannya santai pakai sandal jepit.

Tiket Masuk dan Birokrasi yang Santuy

Urusan administrasi di Gunung Ungaran via Mawar ini patut diacungi jempol. Tiket masuknya sangat terjangkau, Sahabat Zakiya! Cuma sekitar Rp20.000 sampai Rp25.000 per orang (sudah termasuk asuransi dan fasilitas basecamp). Parkirnya pun aman dan tertata.

Proses registrasinya juga nggak ribet. Kita cukup mengisi data diri di pos pendaftaran, meninggalkan kartu identitas, dan voila, izin mendaki sudah di tangan. Petugasnya ramah-ramah, khas warga Jawa Tengah yang ngeni (ngangenin).

"Mbak, nanti kalau di atas jangan lupa sampahnya dibawa turun nggih. Sama hati-hati di Tugu Pramuka, anginnya lagi kenceng," pesan salah satu petugas bapak-bapak dengan senyum tulus. Pesan sederhana yang selalu jadi pengingat: Kita ke sini cuma numpang main, jadi harus sopan sama tuan rumah.



Hutan Pinus dan Kolam Renang Misterius

Etape pertama pendakian dimulai. Trek awal via Mawar ini adalah bonus terindah. Kita berjalan membelah hutan pinus yang pohonnya tinggi-tinggi dan lurus menjulang. Cahaya matahari sore menerobos sela-sela batang pohon, menciptakan efek ray of light yang dramatis banget buat difoto.

Jalurnya masih tanah padat yang landai. Aku dan Fatiha masih bisa ngobrol santai, ketawa-ketiwi, bahkan sempat bikin konten video ala-ala cinematic.

Namun, kejutan ada di Pos 1 menuju Pos 2. Kita melewati sebuah kolam renang tua! Iya, kalian nggak salah baca. Ada kolam renang (lebih tepatnya bak penampungan air besar) di tengah jalur pendakian. Airnya jernih banget karena berasal dari mata air pegunungan langsung. Beberapa pendaki terlihat membasuh muka di sana. Zakiya cuma berani cuci tangan, dinginnya kayak air kulkas, Guys!

Ujian Sebenarnya: Kebun Teh dan Tanjakan Batu

Lepas dari hutan pinus, "wajah asli" Ungaran mulai terlihat. Jalur yang tadinya tanah landai berubah menjadi tanjakan berbatu yang lumayan menguras emosi.

Kami melewati area perkebunan teh Promasan dari kejauhan. Pemandangan hijau kebun teh yang terhampar seperti karpet raksasa benar-benar memanjakan mata. Di sini, napas mulai tersengal. Fatiha yang tadinya cerewet mulai diam, fokus mengatur langkah.

"Zak, ini lutut aku kok kayak mau copot ya?" keluh Fatiha di tengah tanjakan. "Sabar, Fat. Itu tandanya lemak-lemak jahat di tubuh kita lagi nangis," jawabku asal, padahal kakiku sendiri juga sudah gemetar. Hahaha.

Trek menuju Puncak Botak (area puncak Ungaran) didominasi oleh bebatuan cadas. Tidak ada lagi pohon besar untuk berteduh. Angin bertiup kencang tanpa penghalang. Di sinilah mental diuji. Kita harus pintar-pintar memilih pijakan batu agar tidak tergelincir. Tapi, setiap kali menoleh ke belakang... Masya Allah, pemandangan Laut Jawa di utara terlihat samar-samar. Indah sekali.



The City of Lights: Pemandangan Malam yang Mahal

Kami memutuskan untuk tidak langsung summit sore itu, melainkan mendirikan tenda di area camp dekat Pos 4 (sebelum puncak). Keputusan yang tepat!

Malam harinya, saat langit cerah, Gunung Ungaran menyajikan pertunjukan utamanya: City Lights. Dari depan tenda, kami bisa melihat Kota Semarang, Ungaran, dan sekitarnya menyala terang benderang. Ribuan lampu kota di bawah sana terlihat seperti hamparan berlian yang tumpah di atas karpet hitam.

Kami duduk di depan tenda, membungkus diri dengan sleeping bag tebal, sambil menyeduh cokelat panas. Melihat lampu-lampu itu bergerak dinamis (lampu kendaraan di jalan tol terlihat seperti garis merah dan putih yang mengalir), Zakiya jadi merenung. Di bawah sana, mungkin orang-orang sedang sibuk, macet-macetan, stres dengan pekerjaan. Tapi di sini, di ketinggian ini, dunia terasa begitu hening dan damai. Rasanya jarak antara masalah dan hati jadi menjauh.

Sunrise Attack: Menyapa Sindoro dan Sumbing

Pukul 04.00 WIB, alarm berbunyi. Saatnya summit attack! Perjalanan menuju puncak tertinggi membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit dari area camp. Jalurnya terjal dan berbatu kerikil lepas.

Begitu sampai di Tugu Puncak Ungaran... Speechless. Matahari perlahan muncul dari ufuk timur, malu-malu di balik gumpalan awan. Langit berubah warna dari biru gelap menjadi ungu, lalu oranye menyala.

Tapi yang paling bikin merinding adalah pemandangan di arah selatan dan barat. Gunung Merbabu dan Merapi berdiri gagah berdampingan, sementara di kejauhan terlihat siluet Gunung Sindoro dan Sumbing yang kembar. Mereka seperti para dewa yang sedang berkumpul menjaga Pulau Jawa. Kabut tipis menyelimuti lembah-lembah di antaranya, menciptakan efek "Negeri di Atas Awan" yang nyata.

Aku dan Fatiha berpelukan (karena dingin dan karena terharu). "Gila, bagus banget Zak," bisik Fatiha. Kami merasa sangat kecil di hadapan lukisan Tuhan yang maha agung ini.

Fasilitas dan Kebersihan: Apa Adanya tapi Cukup

Bicara soal fasilitas, di jalur pendakian tentu minim. Sumber air terakhir ada di pos bawah (dekat kolam renang tadi), jadi pastikan bawa air yang cukup sampai puncak.

Untuk kebersihan, aku melihat sebagian besar pendaki sudah sadar lingkungan. Tapi sayangnya, di beberapa titik semak-semak, aku masih melihat bungkus permen atau tisu basah yang ditinggal oknum tidak bertanggung jawab. Sahabat Zakiya, tolong ya, gunung bukan tempat sampah raksasa. Kalau tas kalian muat bawa logistik penuh naik, masa nggak muat bawa sampah plastik kosong turun? Be a smart traveler!



Refleksi Zakiya: Tentang Jeda dan Syukur

Turun dari Ungaran, kaki rasanya berat dan pegal luar biasa (efek turunan tajam yang menghajar jempol kaki). Tapi anehnya, hati Zakiya terasa ringan.

Gunung Ungaran mengajarkanku tentang pentingnya "Jeda". Kota Semarang di bawah sana mengajarkan kita untuk berlari cepat, mengejar waktu. Tapi Gunung Ungaran di atas sini mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, bernapas, dan melihat sekeliling.

Ternyata, kebahagiaan itu sederhana. Cukup secangkir kopi panas, teman yang asik (walaupun suka ngeluh), dan pemandangan matahari terbit. Ungaran bukan gunung tertinggi di Jawa, tapi dia punya tempat spesial di hati karena keramahannya. Dia cocok buat pendaki pemula yang ingin "naik kelas", atau pendaki lama yang rindu suasana gunung tanpa harus cuti panjang.

Terima kasih Ungaran, sudah membasuh lelahku dengan kabutmu. Terima kasih Semarang, sudah menyajikan pemandangan malam terbaikmu.

Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya! Jangan lupa, alam itu obat paling mujarab. Tetap lestari!


Apa Kata Fatiha? (Partner Pendakian Zakiya yang Hampir Menyerah di Tanjakan Batu)

"Aduh Zak, sumpah ya! Pas kita lewat jalur batu sebelum puncak itu, aku udah mikir 1000 kali buat balik kanan pulang. Itu jalur apa seluncuran sih? Licin banget kerikilnya! Kakiku sampe gemeteran kayak lagi dangdutan. Aku udah siap-siap mau ngomel panjang lebar sama kamu pas nyampe tenda. TAPI... pas malem-malem kita buka tenda terus liat lampu kota Semarang dari atas, kok ya omelanku ilang semua? Cantik banget parah! Mana pas paginya kita dapet golden sunrise yang nggak ketutup awan sama sekali. Fotonya bagus-bagus banget buat feed Instagram aku! Hahaha. Makan mie instan di puncak rasanya kayak makan di restoran bintang lima. Pokoknya worth it lah pegel-pegelnya. Tapi next time ingetin aku bawa jaket windbreaker yang lebih tebel ya, angin Ungaran nggak ada akhlak dinginnya!"

Lebih baru Lebih lama