Menyentuh Langit Menoreh: Senja Emas dan Angin Purba di Puncak Gunung Ijo

 

Menyentuh Langit Menoreh: Senja Emas dan Angin Purba di Puncak Gunung Ijo

Oleh: Zakiya

Halo, Sahabat Zakiya yang selalu di hati! Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Sugeng enjang, sugeng siang, atau sugeng dalu buat kalian semua yang sedang membaca tulisan ini di sela-sela kesibukan. Apa kabar hati? Masih aman atau sedang butuh asupan oksigen segar karena terlalu lama terkurung di ruang ber-AC? Hahaha. Peluk jauh dari Zakiya untuk kalian semua!

Kali ini, Zakiya ingin mengajak kalian "melipir" sedikit dari hiruk-pikuk pusat kota Yogyakarta. Kalau biasanya Jogja itu identik dengan Malioboro yang macet atau Pantai Parangtritis yang ramai, kali ini aku memutuskan untuk mencari sisi lain Jogja yang lebih tenang, lebih hijau, dan tentu saja... lebih tinggi. Pilihan hatiku jatuh pada Gunung Ijo. Mungkin namanya terdengar sederhana—"Gunung Hijau"—tapi percayalah, tempat ini adalah hidden gem yang menawarkan kemewahan visual tanpa harus menyiksa fisik berlebihan. Terletak di perbatasan Kulon Progo dan Purworejo, Gunung Ijo adalah titik tertinggi di jajaran Perbukitan Menoreh. Penasaran bagaimana rasanya berdiri di atapnya Kulon Progo bersama sahabatku, Fatiha? Yuk, simak catatan perjalananku kali ini yang penuh keringat (dikit) dan kekaguman (banyak)!



Menuju Barat: Perjalanan Menembus Jantung Menoreh

Petualangan dimulai siang hari dari pusat kota Jogja. Target kami adalah mengejar golden hour alias matahari terbenam. Jarak dari Tugu Jogja ke Gunung Ijo sekitar 30-an kilometer.

Perjalanan menuju Kulon Progo selalu punya magisnya sendiri. Lepas dari Jalan Godean yang lurus dan padat, kami mulai memasuki kawasan Nanggulan yang terkenal dengan hamparan sawahnya yang Instagramable (iya, yang sering dibilang mirip Ubud itu!).

Semakin ke barat, jalanan mulai menanjak dan berkelok. Kami melewati jalur yang membelah perbukitan. Di sinilah skill berkendara diuji. Motor matic yang kami sewa harus bekerja ekstra keras menaklukkan tanjakan yang aduhai curamnya. Tapi, justru di sittu seninya! Kanan-kiri kami bukan lagi gedung ruko, melainkan tebing-tebing hijau dan jurang yang dipenuhi pohon kelapa dan jati.

Udara perlahan berubah. Panas menyengat kota Jogja berganti menjadi hawa sejuk yang semilir. Aroma tanah basah dan daun-daunan mulai tercium. Rasanya paru-paru ini langsung berteriak, "Terima kasih, Zakiya!"

Tiket Masuk: Definisi Bahagia Itu Sederhana (dan Murah)

Sesampainya di area parkir Gunung Ijo, kesan pertamaku adalah: "Ini beneran tempat wisata?" Suasananya tenang sekali, jauh dari kesan komersil yang berlebihan. Tidak ada gerbang tiket elektronik atau petugas berseragam kaku.

Kami disambut oleh warga lokal yang ramah di pos retribusi sederhana. Harga tiketnya? Cuma sekitar Rp5.000 sampai Rp10.000 per orang, ditambah parkir motor Rp2.000. Sumpah, murah banget! Dengan harga semurah cilok sebungkus, kita dapat akses menuju pemandangan kelas dunia. Fasilitas parkirannya cukup luas, meski jalannya agak berbatu, jadi harus hati-hati ya Sahabat Zakiya saat memarkir kendaraan.



Trek Pendakian: Singkat, Padat, Ngos-ngosan

Banyak yang tanya, "Zak, Gunung Ijo itu beneran naik gunung atau cuma bukit?" Jawabannya: Perpaduan keduanya.

Gunung Ijo memiliki ketinggian sekitar 1.000 MDPL (Meter Di atas Permukaan Laut). Bukan gunung raksasa seperti Merapi, tapi jangan remehkan tanjakannya. Dari area parkir menuju puncak, kita tidak perlu berjalan berjam-jam. Cukup sekitar 15 sampai 30 menit saja, tergantung kecepatan jalan dan seberapa sering kalian berhenti buat selfie.

TAPI... (ada tapinya nih), jalurnya itu menanjak terus! Jalan setapaknya sudah tertata rapi, sebagian sudah disemen dan diberi paving block, sebagian lagi tanah padat. Meskipun pendek, kemiringannya lumayan bikin betis kencang dan napas tersengal.

Aku dan Fatiha beberapa kali berhenti dengan alasan "menikmati pemandangan", padahal aslinya jantung rasanya mau lompat. "Dikit lagi, Fat! Itu menaranya udah kelihatan!" seruku menyemangati Fatiha yang sudah mulai cemberut. Ya, penanda puncak Gunung Ijo adalah adanya menara pemancar/tower yang menjulang tinggi. Kalau kalian sudah lihat itu, berarti surga sudah dekat.

Puncak Gunung Ijo: Lantai Dansa di Atas Awan

Begitu sampai di puncak... Masya Allah. Segala keluhan soal tanjakan tadi langsung lenyap ditelan angin.

Puncak Gunung Ijo ini berupa area lapang yang cukup luas, dengan beberapa batu besar yang ikonik. Karena ini adalah titik tertinggi di Perbukitan Menoreh, pandangan kita bebas 360 derajat tanpa penghalang!

Ke arah timur, kita bisa melihat Kota Yogyakarta yang terhampar luas seperti peta raksasa, dengan Gunung Merapi dan Merbabu yang berdiri gagah di latar belakang (kalau cuaca cerah). Ke arah selatan, garis pantai selatan Jawa terlihat samar-samar berkilauan ditimpa matahari. Ke arah barat, Waduk Sermo terlihat seperti cermin raksasa yang terjebak di antara bukit hijau.

Angin di sini kencang sekali, Sahabat Zakiya! Rasanya seperti dipeluk oleh angin purba yang datang dari samudra. Segar, dingin, dan bersih. Aku langsung lari ke salah satu batu besar di pinggir tebing (tetap hati-hati ya!), duduk di sana, dan membiarkan mata ini "makan" sepuasnya.



Senja yang Menghipnotis

Tujuan utama kami tercapai: Sunset. Gunung Ijo adalah salah satu spot sunset terbaik di Jogja, dan hari itu kami beruntung. Langit cerah dengan sedikit awan tipis.

Pukul 17.30 WIB, pertunjukan dimulai. Matahari perlahan turun, mengubah warna langit dari biru terang menjadi kuning emas, lalu oranye, dan akhirnya ungu kemerahan. Cahaya matahari sore menerpa bukit-bukit Menoreh, membuat tekstur pepohonan terlihat jelas dan dramatis.

Ada momen hening yang magis saat piringan matahari menyentuh garis cakrawala. Semua pengunjung (yang tidak terlalu banyak, jadi rasanya privat banget) terdiam. Tidak ada yang bicara. Kami semua sibuk merekam momen itu dengan mata dan hati kami. Rasanya damai sekali. Masalah hidup, deadline, tagihan... semuanya terasa kecil dan jauh di bawah sana. Di atas sini, yang ada hanya rasa syukur.

Suasana dan Fasilitas: Sederhana yang Ngangenin

Jangan harap menemukan kafe kekinian dengan sofa empuk di puncak Gunung Ijo. Di sini, fasilitasnya sangat sederhana namun fungsional.

Ada beberapa warung kecil milik warga yang menjajakan makanan "penyelamat hidup": Mie instan rebus (wajib pakai telur dan cabai rawit!), gorengan hangat (mendoan dan pisang goreng), serta kopi atau teh panas.

Aku dan Fatiha memesan dua mangkok mie rebus dan teh manis panas. Kami makan sambil duduk di bangku kayu panjang, menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota Jogja yang mulai menyala satu per satu seperti kunang-kunang. Rasanya? Nikmat tiada tara! Mie instan di gunung itu rasanya beda, Guys. Bumbunya kayak meresap sampai ke jiwa. Hahaha.

Toilet dan mushola juga tersedia di area bawah dekat parkiran, kondisinya cukup bersih dan airnya segar banget (dingin khas pegunungan). Jadi buat kalian yang mau sholat Maghrib sebelum turun, aman terkendali.



Refleksi Zakiya: Menemukan Ketenangan di Ketinggian

Perjalanan ke Gunung Ijo ini mengajarkanku satu hal penting: Bahagia itu tidak harus mahal dan tidak harus jauh. Kadang kita terlalu sibuk mengejar destinasi viral yang mahal, padahal di dekat kita ada tempat sesederhana ini yang bisa memberikan ketenangan luar biasa.

Gunung Ijo bukan tentang menaklukkan ketinggian ekstrem. Dia adalah tentang menaklukkan ego kita untuk mau meluangkan waktu sejenak, menyingkir dari rutinitas, dan menyapa alam. Dia mengajarkan bahwa di balik tanjakan yang bikin capek, selalu ada pemandangan indah yang menanti. Klise memang, tapi nyata.

Buat Sahabat Zakiya yang lagi main ke Jogja, terutama daerah Kulon Progo, please luangkan waktu sore kalian ke sini. Bawa jaket tebal (karena anginnya nggak santai), bawa teman ngobrol yang asik, dan nikmati Jogja dari sudut pandang yang berbeda.

Terima kasih Gunung Ijo, sudah menjadi tuan rumah yang ramah dan menyuguhkan senja terindah untuk menutup hariku.

Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya! Tetap sehat, tetap jalan-jalan, dan jangan lupa bahagia!


Apa Kata Fatiha? (Teman Perjalanan Zakiya yang Hobi Ngemil)

"Aduh Zak! Jujur ya, pas liat tanjakan pertama dari parkiran tadi, aku udah mau balik kanan pulang lho! Kakiku rasanya langsung protes, mana aku salah kostum pake celana jeans ketat. Hahaha. Aku sempet mikir, 'Ngapain sih kita nyiksa diri sore-sore gini?'. TAPI... pas udah nyampe atas dan liat sunset-nya, aku langsung diem. Gila, cantik banget! Warnanya itu lho, kayak lukisan. Apalagi pas kita makan mendoan anget sambil liat lampu-lampu kota Jogja dari atas, itu best moment banget sih. Anginnya emang kenceng parah sampe jilbabku berantakan terus, tapi worth it. Makasih udah maksa aku naik ya, Zak. Lain kali ajak lagi, tapi traktir mendoannya double ya! Hehehe."

Lebih baru Lebih lama