Membelah Kabut di Punggung Naga: Ekspedisi Sunyi Menuju Puncak Liman, Gunung Wilis

 

Membelah Kabut di Punggung Naga: Ekspedisi Sunyi Menuju Puncak Liman, Gunung Wilis

Oleh: Zakiya

Halo, Sahabat Zakiya yang berjiwa bebas! Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Apa kabar kalian hari ini? Semoga masih diberikan kewarasan di tengah gempuran deadline dan drama kehidupan yang kadang lebih rumit daripada jalur pendakian, ya! Hahaha. Peluk hangat dari Zakiya untuk kalian semua di manapun berada.

Kali ini, Zakiya ingin mengajak kalian "kabur" sejenak dari radar keramaian. Kalau biasanya kita bicara soal gunung-gunung populer di Jawa Timur seperti Semeru, Arjuno, atau Bromo yang pengunjungnya sudah seperti pasar malam, kali ini aku memutuskan untuk mencari keheningan sejati. Aku merindukan hutan yang benar-benar hutan, di mana suara napas kita sendiri terdengar begitu keras. Pilihan hatiku jatuh pada sebuah pegunungan masif yang membentang gagah memisahkan enam kabupaten (Kediri, Nganjuk, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, dan Madiun). Ya, kita akan mendaki Gunung Wilis. Siapkan mental baja dan kaki yang kuat, karena "Sang Raksasa Tidur" ini tidak main-main dalam menyambut tamunya.



Mengapa Wilis? Panggilan dari "Gunung Air"

Banyak yang bertanya, "Kenapa Wilis, Zak? Kan capek, treknya panjang, view-nya ketutup pohon." Justru itu alasannya! Gunung Wilis bukanlah gunung "konten" yang instan. Ia adalah gunung bagi para pencari jati diri (tsaah, berat bahasanya!).

Wilis dikenal sebagai gunung non-vulkanik aktif yang sangat basah. Hutan hujan tropisnya adalah salah satu yang terpadat dan "terliar" di Jawa. Aku memilih mendaki melalui jalur yang melintasi kawasan Nganjuk dan Kediri, menargetkan titik tertingginya: Puncak Liman (2.563 MDPL).

Persiapanku dan Hafidza (partner pendakian kali ini yang awalnya ogah-ogahan) cukup matang. Kami tahu Wilis itu minim sumber air di jalur atas dan jalurnya terkenal panjang serta membingungkan. Kami membawa logistik berlebih dan navigasi darat yang mumpuni.

Menuju Basecamp: Desa Terakhir yang Permai

Perjalanan dimulai menuju titik pendakian di sisi utara-timur lereng Wilis. Kami memilih akses lewat jalur Bajulan, Nganjuk yang konon memiliki nilai historis sebagai jalur gerilya Jenderal Sudirman, namun rutenya akan membawa kami menyusuri punggungan panjang yang berbatasan dengan wilayah Kediri.

Suasana di desa terakhir sungguh menenangkan. Jauh dari hiruk-pikuk kota, udaranya sejuk dengan aroma tanah basah dan cengkeh. Warga lokal sangat ramah. Saat kami mampir di warung kopi untuk repacking, bapak-bapak di sana bercerita dengan antusias tentang "Mbah Wilis". "Hati-hati, Nduk. Wilis itu wingit (keramat/angker), tapi kalau niatnya baik, pasti dijaga," pesan seorang kakek. Kalimat itu sukses membuat bulu kudukku berdiri, tapi sekaligus memacu adrenalin.



Tiket Masuk dan Registrasi: Kesederhanaan yang Otentik

Berbeda dengan gunung-gunung "viral" yang registrasinya harus war online, Wilis masih sangat konvensional. Kami melapor di pos perizinan sederhana yang dikelola oleh warga dan pihak Perhutani. Biaya registrasinya sangat murah, kalau tidak salah ingat hanya sekitar Rp10.000 - Rp15.000 per orang, ditambah biaya parkir kendaraan.

Tidak ada gerbang tiket elektronik canggih. Yang ada hanya buku tamu lusuh dan senyuman tulus petugas jaganya. "Titip sampahnya dibawa turun lagi ya, Mbak," pesan mereka. Pesan klasik yang selalu jadi hukum wajib bagi pendaki.

Etape Awal: Hutan Pinus dan Ladang Warga

Langkah pertama dimulai. Etape awal pendakian Wilis via sisi ini masih cukup "sopan". Kami melewati hutan pinus yang berjajar rapi dan ladang sayur milik warga. Jalurnya masih landai, didominasi tanah padat.

Di sini, Zakiya masih bisa senyum-senyum sambil bikin video dokumentasi. Hafidza juga masih semangat, sesekali memotret bunga liar di pinggir jalan. Kami disuguhi pemandangan lembah Nganjuk dan Kediri dari kejauhan yang mulai mengecil. Angin berdesir lembut di sela-sela daun pinus, menciptakan musik alam yang meninabobokan.

Namun, kami tahu, ini hanyalah pemanasan. Wilis yang sebenarnya sedang menunggu di balik bukit sana.

Masuk Hutan Rimba: "Selamat Datang di Jurassic Park"

Setelah melewati batas ladang (biasanya ditandai dengan pos atau gubuk petani), vegetasi berubah drastis. Selamat tinggal pinus, selamat datang hutan hujan tropis!

Di sinilah tantangan mental dimulai. Pohon-pohon di Gunung Wilis itu besar-besar, Guys. Raksasa! Batangnya diselimuti lumut tebal yang basah, akar-akarnya menjalar di tanah seperti ular raksasa. Cahaya matahari mulai sulit menembus kanopi daun yang rapat. Suasana menjadi remang-remang dan lembab.

Dan ngomongin soal lembab, ada satu "penghuni" Wilis yang sangat antusias menyambut kami: Pacet (Lintah). Sumpah, pacet di Wilis itu agresif banget! Baru duduk sebentar buat minum, tiba-tiba di sepatu udah ada yang nempel goyang-goyang. Hafidza sempat jerit histeris pas nemu satu pacet gendut nempel di betisnya. "ZAK!! INI APAAN?! AMBILIN!!" teriaknya panik. Aku cuma bisa ketawa sambil nyiram air tembakau (senjata ampuh anti-pacet). "Itu tanda cinta dari Wilis, Fid," godaku.



Jalur Punggung Naga: Ujian Kesabaran Tanpa Batas

Karakteristik jalur pendakian Wilis menuju Puncak Liman itu unik. Kita harus menyusuri punggungan bukit yang panjangnya minta ampun. Para pendaki sering menyebutnya "Punggung Naga".

Naik, turun, naik lagi, turun lagi. Begitu terus sampai rasanya kaki mau copot. Tidak ada "bonus" jalan datar yang panjang. Kanan-kiri adalah jurang yang tertutup semak belukar lebat. Kabut mulai turun, membuat jarak pandang hanya sekitar 5-10 meter.

Di sinilah Zakiya merasakan keheningan yang absolut. Tidak ada suara pendaki lain. Kami benar-benar sendirian di tengah belantara. Hanya suara tonggeret dan gesekan ranting pohon. Ada momen di mana aku merasa kecil sekali. Gunung ini terasa purba, seolah-olah waktu berhenti di sini. Rasa takut ada, tapi rasa takjub lebih besar.

Sekartaji dan Mitos yang Menyelimuti

Di tengah perjalanan, kami melewati situs-situs yang dikeramatkan, salah satunya area yang konon petilasan Dewi Sekartaji (meski lokasinya agak menyebar tergantung versi cerita). Ada bebatuan yang tersusun rapi. Kami tidak berlama-lama di sini, hanya permisi dalam hati dan melintas dengan sopan.

Aura mistis di Wilis memang kuat. Bukan tipe mistis yang bikin lari ketakutan, tapi tipe yang bikin kita menunduk hormat. Rasanya seperti sedang diawasi oleh ribuan mata dari balik pepohonan. Selama kita sopan, menjaga lisan, dan tidak buang sampah sembarangan, insya Allah aman.

Camp Area: Bermalam di Hotel Seribu Bintang (Ketutup Kabut)

Menjelang sore, kami memutuskan mendirikan tenda di area datar yang cukup terbuka (sebut saja Pos Watu Kotak atau area camp di punggungan sebelum puncak). Angin bertiup kencang sekali. Suhu udara turun drastis.

Malam itu, kami masak mie instan dan kopi panas. Rasanya nikmat luar biasa. Obrolan kami mengalir dari soal kerjaan, impian, sampai hal-hal receh. "Zak, kalau dipikir-pikir kita ini kurang kerjaan ya. Capek-capek jalan jauh cuma buat tidur di tanah," celetuk Hafidza sambil menggigil. "Bukan kurang kerjaan, Fid. Tapi kita lagi nge-charge jiwa," jawabku sok bijak.

Malam di Wilis sangat gelap. Tidak ada polusi cahaya kota. Sayangnya kabut tebal menutupi bintang, tapi suara angin yang menderu menabrak tenda menjadi lullaby yang menakutkan sekaligus menenangkan.



Summit Attack: Puncak Liman

Pagi buta, kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Liman. Jalurnya semakin terjal dan berbatu. Vegetasi mulai memendek, didominasi semak dan cantigi.

Setelah perjuangan sekitar 1 jam dari camp, akhirnya kami sampai di titik tertinggi. Puncak Liman 2.563 MDPL. Plangnya sederhana, tapi kebanggaannya luar biasa.

Dari sini, kita bisa melihat jajaran puncak-puncak lain di gugusan Pegunungan Wilis. Ada Puncak Wilis (Jombang/Kediri), Puncak Limas, dll. Pemandangannya masya Allah... Lautan awan terhampar di bawah kaki. Ujung-ujung bukit menyembul seperti pulau di tengah samudra kapas. Di kejauhan, terlihat kerlap-kerlip kota Kediri dan Nganjuk yang mulai bangun.

Angin di puncak kencang sekali. Kami tidak bisa berlama-lama karena dinginnya menusuk tulang. Kami berfoto, bersyukur, dan menikmati sepotong cokelat kemenangan. Rasanya semua lelah, gigitan pacet, dan dinginnya malam tadi terbayar lunas.

Refleksi Zakiya: Gunung yang Mengajarkan Kesabaran

Turun dari Wilis, kakiku gemetar hebat. Lutut rasanya sudah "kopong". Tapi hatiku penuh.

Gunung Wilis mengajarkan Zakiya tentang kesabaran. Treknya yang panjang dan "php" (pemberi harapan palsu—dikiranya udah puncak taunya masih bukit lagi) melatih mental untuk tidak mudah menyerah. Ia mengajarkan bahwa untuk mencapai sesuatu yang tinggi, kita harus siap melewati hutan yang gelap, jalan yang licin, dan gangguan-gangguan kecil (halo, pacet!).

Wilis mungkin tidak sepopuler Semeru. Tidak ada Ranu Kumbolo yang cantik jelita di sini. Tapi Wilis punya karisma. Dia diam, tenang, tapi menghanyutkan. Buat kalian yang mengaku pendaki sejati, cobalah sowan ke Wilis. Rasakan sendiri sensasi dipeluk hutan perawan yang sesungguhnya.

Terima kasih Wilis, terima kasih Nganjuk dan Kediri. Pengalaman ini akan selalu Zakiya simpan rapi dalam memori.

Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya! Jangan lupa: Bawa turun sampahmu, atau gunung akan membalasmu!


Apa Kata Hafidza? (Teman Pendakian yang Trauma Pacet tapi Kangen)

"Aduh Zak, sumpah demi apa pun, aku nggak akan lupa sama pacet-pacet itu! Itu pengalaman terhoror seumur hidup aku. Tiap kali kaki gatel dikit, aku langsung parno! Hahaha. Treknya juga gila banget sih, panjangnya kayak drama sinetron nggak abis-abis. Aku sempet mikir mau pura-pura pingsan aja biar dievakuasi, tapi malu sama monyet. Tapi... pas kita nyampe Puncak Liman dan liat lautan awan itu, aku nangis sih (dikit). Bagus banget woy! Kayak negeri di atas awan beneran. Sunyinya itu lho, bikin tenang banget, beda sama pas kita ke Bromo yang berisik jeep. Capek sih iya, banget malah, sekarang aja jalanku masih kayak robot. Tapi kalau ditanya mau lagi nggak? Hmm... mau deh, asal kamu yang jamin nggak ada pacet yang nempel di mukaku ya!"

Lebih baru Lebih lama