Menghitung Napas di Tangga Seribu: Sebuah Ode untuk Lutut Gemetar di Gunung Galunggung

 

Menghitung Napas di Tangga Seribu: Sebuah Ode untuk Lutut Gemetar di Gunung Galunggung

Oleh: Zakiya

Halo, Sahabat Zakiya yang paling setia! Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Selamat pagi, siang, atau malam di manapun kalian sedang membaca tulisan ini. Apa kabar semangat kalian hari ini? Masih membara seperti lava pijar atau sudah mulai redup kayak lampu bohlam 5 watt? Hahaha. Semoga selalu sehat dan bahagia ya! Peluk jauh dan cium jauh dari aku yang saat mengetik ini masih merasakan sensasi "nyut-nyutan" yang nikmat di bagian betis.

Kali ini, Zakiya membawa cerita dari tanah Priangan Timur, tepatnya dari Tasikmalaya. Sebuah kota yang terkenal dengan kerajinan bordirnya, tapi menyimpan raksasa tidur yang cantiknya kebangetan. Ya, akhir pekan kemarin, aku dan sahabat seperjuanganku, Shofia, memutuskan untuk menantang diri sendiri. Bukan mendaki gunung rimba yang harus buka jalur pakai parang, tapi mendaki gunung yang menguji kesabaran dan kekuatan mental lewat ribuan anak tangga. Selamat datang di catatan perjalananku ke Gunung Galunggung. Siapkan air mineral dan koyo cabe, karena cerita ini bakal bikin kalian ikut merasa pegal tapi penasaran!



Tasikmalaya: Sambutan Hangat dan Jalan yang Mulus

Perjalanan kami dimulai dari pusat kota Tasikmalaya. Galunggung ini letaknya sekitar 17 km dari pusat kota, jadi nggak terlalu jauh. Yang bikin aku happy sejak awal adalah akses jalannya. Berbeda dengan cerita horor jalanan rusak menuju destinasi wisata alam pada umumnya, jalan menuju Galunggung ini mulus banget!

Kami melewati perkampungan warga yang asri, jembatan-jembatan kecil dengan sungai berbatu di bawahnya, dan tentu saja, pemandangan Gunung Galunggung yang sudah terlihat gagah dari kejauhan. Bentuknya unik, seperti mangkuk raksasa yang retak di satu sisinya—saksi bisu letusan dahsyat tahun 1982 yang konon abunya sampai ke Australia.

Mendekati gerbang masuk, udara mulai berubah. Dari yang tadinya panas khas perkotaan, berubah menjadi sejuk, lembab, dan segar. Pohon-pohon pinus mulai menyapa di kanan-kiri jalan. Jendela mobil sengaja aku buka lebar-lebar. Bye-bye AC, hello oksigen murni!

Drama Parkiran dan Godaan "Ojek Racing"

Sesampainya di area parkir wisata, kami dihadapkan pada dua pilihan hidup yang krusial. Jadi, Gunung Galunggung ini punya area parkir bawah dan area parkir atas (dekat tangga). Mobil pribadi biasanya harus parkir di bawah kalau sedang ramai, atau bisa naik ke atas kalau kalian berani menghadapi tanjakan curam.

Tapi, ada pahlawan lokal yang siap sedia: Ojek Gunung. Zakiya dan Shofia, dengan pertimbangan menghemat tenaga (baca: malas jalan nanjak di aspal), memutuskan naik ojek sampai ke kaki tangga.

Dan ya ampun, Sahabat Zakiya! Naik ojek di sini tuh wahana tersendiri. Bapak ojeknya jago-jago banget, skill-nya setara pembalap MotoGP tapi versi motor bebek. Mereka meliuk-liuk di tanjakan curam dengan santai sambil ngajak ngobrol. "Neng, dari mana?" tanya si Bapak sambil nge-gas pol di tikungan tajam. "D-dari kota, Pak!" jawabku terbata-bata sambil pegangan kencang di pinggang si Bapak (maaf ya Bu, pinjam suaminya sebentar buat jadi driver). Biayanya sekitar Rp25.000, tapi sensasi jantung mau copotnya gratis!



The Real Challenge: 620 vs 510 Anak Tangga

Sampai di kaki tangga, kami dihadapkan pada menu utama hari ini. Ada dua jalur tangga untuk mencapai bibir kawah:

  1. Tangga Biru: Sekitar 620 anak tangga.

  2. Tangga Kuning: Sekitar 510 anak tangga.

Secara logika matematika, harusnya pilih yang 510 dong? Lebih sedikit. TAPI, jangan salah! Tangga Kuning itu lebih sedikit karena dia lebih curam dan vertikal. Sedangkan Tangga Biru lebih landai tapi memutar dan panjang.

Dengan jiwa sok kuat, aku dan Shofia memilih Tangga Kuning. Alasannya klise: "Biar cepet nyampe." Dan itu adalah keputusan yang akan kami sesali (sedikit) di tengah jalan.

Baru naik 50 anak tangga, napas sudah senin-kamis. Tangganya benar-benar menantang. Di kanan-kiri hutan lebat, dan sesekali kami melihat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang duduk santai di railing tangga, menatap kami dengan tatapan menghina. "Lemah banget sih manusia," mungkin begitu pikir si monyet.

Setiap 100 langkah, kami berhenti. Pura-puranya sih foto pemandangan, padahal aslinya ngatur napas biar nggak pingsan. Tapi, saat menoleh ke belakang... Masya Allah. Pemandangan kota Tasikmalaya dari ketinggian mulai terlihat. Hamparan hijau pepohonan menjadi obat kuat alami.

"Ayo Zak, dikit lagi! Malu sama nenek-nenek yang tadi nyalip kita!" teriak Shofia yang mukanya udah merah padam kayak kepiting rebus. Iya, kami disalip ibu-ibu lansia yang jalannya santai banget. Mental langsung down, tapi semangat naik lagi!

Kawah Galunggung: Danau Hijau di Atas Awan

Setelah perjuangan sekitar 45 menit (yang terasa seperti 4 jam), akhirnya kami melihat ujung tangga. Cahaya terang menyambut. Dan begitu kaki menginjak lantai beton di bibir kawah... SPEECHLESS.

Semua rasa capek, pegal, napas ngik-ngik, hilang seketika. Di depan mata, terhampar sebuah danau kawah raksasa berwarna hijau toska yang tenang. Dinding-dinding kawah yang menjulang tinggi mengelilingi danau itu seperti benteng alam raksasa. Ada beberapa air terjun kecil yang mengalir dari dinding kawah, terlihat seperti benang perak dari kejauhan.

Angin di atas sini kencang sekali, Sahabat Zakiya! Dinginnya menusuk tulang tapi segar banget. Jaket windbreaker adalah barang wajib. Kabut tipis sesekali turun menyapu permukaan air danau, menambah kesan mistis dan dramatis. Rasanya seperti berada di dunia Jurassic Park purba. Tenang, agung, dan memukau.

Kami berjalan menyusuri bibir kawah. Ada spot pandang (view deck) yang menjorok ke arah danau, spot wajib buat foto profil baru. Tapi yang paling aku suka adalah duduk diam di pinggir pagar pembatas, melihat pantulan awan di air danau.



Turun ke Dasar Kawah: Menyentuh Pasir Vulkanik

Keunikan Galunggung dibanding gunung berapi lain seperti Tangkuban Perahu adalah: Kita boleh turun sampai ke pinggir danau! (Tentu saja saat kondisi status gunung aman/normal ya).

Dari bibir kawah atas, kami melihat jalan setapak menurun menuju danau. Tentu saja, Zakiya si penasaran ini mengajak Shofia turun. "Hah? Turun lagi? Nanti naiknya gimana, Zak?" protes Shofia. "Pikir nanti aja, yang penting turun dulu!"

Ternyata di bawah sana ada kehidupan! Ada mushola, ada warung-warung kecil, bahkan ada area lapang berpasir yang luas banget. Banyak orang menggelar tikar, piknik, bahkan ada yang memancing di danau kawah! Unik banget kan? Memancing di kawah gunung berapi!

Aku mencoba menyentuh air danaunya. Ternyata dingin! Bukan panas seperti yang aku bayangkan. Pasirnya hitam kelam, khas pasir vulkanik. Di sini aku merasa bener-bener kecil. Dikelilingi dinding tebing raksasa, aku sadar betapa dahsyatnya kekuatan alam yang pernah meledak di tempat aku berdiri ini. Ada rasa merinding, tapi juga rasa syukur karena sekarang tempat ini jadi sumber kehidupan dan keindahan.

Kuliner di Atas Awan: Nasi Liwet Kastrol

Nggak afdol rasanya kalau ke gunung di Jawa Barat tapi nggak makan Nasi Liwet. Di area kawah (baik di atas maupun di bawah), banyak warung warga lokal yang menjual Nasi Liwet dadakan.

Kami memesan satu paket liwet kastrol (panci besi tebal). Isinya nasi liwet gurih yang dimasak dengan rempah dan ikan asin, ayam goreng, tahu tempe, ikan nila bakar, lalapan segar, dan sambal terasi dadak. Dimakan pas masih ngebul, ditemani kabut gunung dan pemandangan kawah... Ya Allah, nikmatnya sampai ke ubun-ubun!

Rasanya 100 kali lipat lebih enak dibanding makan di restoran mewah. Mungkin bumbu rahasianya adalah "rasa lapar setelah mendaki" dan "udara dingin". Harganya pun sangat masuk akal, nggak "nggetok" harga turis. Ibu penjualnya ramah banget, khas orang Sunda yang someah.



Cipanas Galunggung: Spa Alami Penutup Hari

Setelah puas di kawah dan (dengan susah payah) naik kembali ke parkiran, kami tidak langsung pulang. Di kaki gunung, masih satu kawasan wisata, ada pemandian air panas alami (Cipanas Galunggung).

Ini adalah penutup hari yang sempurna. Air panas di sini mengandung belerang yang bagus buat kulit dan relaksasi otot. Kami berendam di kolam air panas, membiarkan otot-otot kaki yang tadi disiksa di tangga menjadi rileks kembali. Kalau kalian ke sini, wajib bawa baju ganti ya! Rasanya badan jadi enteng banget setelah berendam, siap buat menghadapi kenyataan hari Senin lagi.

Tiket Masuk dan Fasilitas: Murah Meriah Bahagia

Untuk semua pengalaman bintang lima ini, biaya yang dikeluarkan sangat receh. Tiket masuk kawasan sekitar Rp15.000 per orang. Parkir motor/mobil standar. Tiket masuk kolam air panas juga murah meriah.

Fasilitasnya menurut Zakiya sudah sangat proper. Toilet bersih ada di banyak titik (termasuk di atas kawah), mushola nyaman, warung makan melimpah, dan petunjuk arah jelas. Sinyal HP? Di beberapa titik blank spot, tapi di bibir kawah kadang dapet 4G. Lumayan buat update story.

Refleksi Zakiya: Tentang Tangga Kehidupan

Mendaki tangga Galunggung hari itu mengajarkanku filosofi receh tapi ngena. Bahwa tujuan indah (kawah hijau) itu butuh usaha yang bikin napas putus (tangga seribu). Kadang kita merasa capek, pengen berhenti, apalagi pas ngeliat orang lain (bapak ojek atau anak muda yang lari) kelihatan lebih mudah.

Tapi kuncinya adalah ritme sendiri. Nggak apa-apa berhenti tiap 10 langkah, yang penting jangan turun balik. Nikmati prosesnya, sapa monyetnya, rasakan anginnya. Dan ketika sampai di atas, lelah itu akan terbayar lunas.

Galunggung adalah destinasi yang sempurna buat kalian yang pengen ngerasain naik gunung tapi waktunya mepet atau fisiknya belum siap buat hiking berjam-jam. Cukup modal tekad meniti tangga, kalian bisa dapet view kelas dunia.

Terima kasih Tasikmalaya, terima kasih Galunggung. Kaki ini memang pegal, tapi hati ini penuh. Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya!


Apa Kata Shofia? (Korban Ambisi Zakiya yang Kakinya Jadi Jelly)

"ZAK! Tanggung jawab woy, ini kaki aku gemeteran nggak bisa berenti kayak lagi main TikTok! Hahaha. Jujur ya, pas liat tangganya tadi aku udah pengen pura-pura pingsan aja biar digendong turun. Itu tangga atau jalan menuju tobat sih? Curam banget! Tapi... aku harus akuin, pas nyampe atas dan makan nasi liwet anget, itu the best feeling ever. Danaunya cantik parah, hijaunya tuh nggak norak, calming banget. Fotonya juga bagus-bagus, lumayan buat stok feed sebulan. Cuma pesen aku satu buat pembaca Zakiya: Jangan sotoy pilih tangga kuning kalau jarang olahraga! Dan jangan lupa bawa tongkat atau trekking pole kalau ada, lutut kalian akan berterima kasih. Overall, seru banget sih, makasih udah maksa aku ikut, Zak!"

Lebih baru Lebih lama