Dialog Sunyi di Punggung Naga Tidur: Sebuah Ode untuk Gunung Butak
Oleh: Zakiya
Halo, Assalamualaikum, teman-teman pembaca setia blog Zakiya! Apa kabar hati dan pikiran kalian hari ini? Semoga tidak sedang kusut seperti benang layangan putus, ya.
Jujur saja, sudah cukup lama jari-jari saya gatal ingin menari di atas keyboard lagi. Bukan karena malas, tapi rasanya dunia nyata belakangan ini menuntut kehadiran saya secara utuh—tanpa filter, tanpa layar, dan tanpa sinyal. Dan tepat minggu lalu, saya memutuskan untuk "kabur" sejenak. Bukan ke mall, bukan staycation cantik di hotel berbintang, melainkan menyerahkan diri pada pelukan dingin dan lembapnya salah satu atap Jawa Timur yang seringkali dianggap "remeh" oleh sebagian pendaki elit, namun menyimpan magis yang luar biasa bagi mereka yang peka.
Ya, kali ini saya akan membawa kalian ikut serta dalam ransel keril saya, menelusuri jejak-jejak sunyi di Gunung Butak. Sebuah perjalanan via Sirah Kencong (Blitar) yang ternyata mengubah definisi "lelah" menjadi sebuah rindu yang candu. Siapkan kopi kalian, karena cerita ini akan sedikit panjang.
Mengapa Butak? Sebuah Panggilan yang Tak Terjelaskan
Mungkin kalian bertanya, "Kenapa Butak, Zak? Kenapa nggak Semeru atau Arjuno yang lebih gagah?"
Pertanyaan itu juga sempat mampir di kepala saya. Gunung Butak, dengan ketinggian 2.868 mdpl, seringkali disebut sebagai "gunung latihan" sebelum ke gunung yang lebih tinggi. Tapi, entahlah. Ada bisikan aneh yang menyuruh saya ke sana. Mungkin karena saya mendengar desas-desus tentang sabananya yang konon hamparannya bisa membuat kita lupa kalau kita masih memijak bumi, atau mungkin karena hutan lumutnya yang katanya seperti set film Lord of the Rings.
Perjalanan dimulai dari basecamp Sirah Kencong. Pilihan jalur ini saya ambil bukan tanpa alasan. Jalur Panderman (Batu) memang lebih populer, tapi Sirah Kencong menawarkan bonus visual berupa perkebunan teh yang membentang bak karpet raksasa. Saya pergi bersama Rizqiya, sahabat seperjuangan yang (untungnya) sama-sama punya kadar nekat yang seimbang dengan saya.
Tipuan Manis Kebun Teh dan Gerbang Hutan Basah
Awal pendakian adalah sebuah tipuan visual yang memanjakan mata. Kami berjalan membelah kebun teh Sirah Kencong. Udara pagi itu segar, bercampur aroma pucuk teh yang baru saja dipetik. Langit biru bersih, tanpa ada tanda-tanda awan kelabu. Rasanya seperti sedang syuting video klip lagu anak-anak. Langkah kaki masih ringan, tawa masih lepas, dan napas masih teratur.
"Kalau treknya begini terus, kita bisa lari sampai puncak, Zak," celetuk Rizqiya waktu itu dengan polosnya.
Oh, betapa salahnya kami.
Begitu batas kebun teh berakhir, "wajah asli" Gunung Butak mulai terlihat. Gerbang hutan menyambut kami bukan dengan jalan setapak yang jelas, melainkan dengan akar-akar pohon yang mencuat keluar dari tanah basah, seolah-olah tangan raksasa yang ingin menahan langkah kami.
Di sinilah ujian mental dimulai. Hutan di jalur Sirah Kencong ini memiliki karakter yang sangat khas: lembap, rapat, dan sunyi. Sinar matahari yang tadinya menyengat di kebun teh, kini hanya mampu menembus celah-celah kanopi pohon sebagai berkas-berkas cahaya tipis (komorebi, kalau kata orang Jepang).
Tanahnya gembur, basah sisa hujan semalam. Bau humus—campuran tanah, daun busuk, dan kayu lapuk—menusuk hidung dengan tajam. Bagi sebagian orang mungkin bau ini tidak enak, tapi bagi saya? Ini adalah aromaterapi terbaik. Ini bau kehidupan yang sedang berproses.
Hutan Lumut: Galeri Seni Sang Pencipta
Semakin tinggi kami melangkah, vegetasi mulai berubah. Kami memasuki zona yang menurut saya paling surreal dari pendakian ini: Hutan Lumut.
Kalian pernah membayangkan berada di dalam dongeng? Nah, inilah tempatnya. Setiap batang pohon, dari akar hingga dahan tertinggi, diselimuti oleh lumut hijau tebal yang basah. Pohon-pohon di sini tidak tumbuh lurus; mereka meliuk-liuk, bengkok, dan saling membelit dalam formasi yang artistik sekaligus sedikit menyeramkan.
Suasana hening sekali. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada suara notifikasi HP. Hanya ada suara napas kami yang mulai berat ("ngik-ngik" kalau kata Rizqiya), suara gesekan carrier dengan ranting, dan sesekali suara burung yang tak kasat mata.
Ada momen di mana saya berhenti sejenak, bersandar pada batang pohon yang empuk karena lumut. Saya memejamkan mata dan mencoba "merasakan" hutan ini. Ada perasaan kecil, kerdil, namun sekaligus terlindungi. Di tengah hutan lumut ini, saya sadar bahwa manusia itu hanyalah tamu. Tuan rumahnya adalah pepohonan tua ini yang sudah berdiri ratusan tahun, menyaksikan ribuan pendaki datang dan pergi dengan segala ego dan ambisinya.
Tantangan di sini bukan hanya tanjakan yang seolah tak ada habisnya (istilah pendaki: "dengkul ketemu dagu"), tapi juga jalur air yang licin. Beberapa kali saya terpeleset, membuat celana kargo saya yang tadinya krem estetik berubah menjadi motif abstrak lumpur cokelat. Tapi anehnya, saya tertawa. Rizqiya pun tertawa saat dia tersangkut akar. Di kota, baju kotor mungkin bikin uring-uringan. Di sini? Itu lencana kehormatan.
Sabana: Surga yang Tersembunyi di Balik Kabut
Setelah berjam-jam bertarung dengan tanjakan dan akar, hari mulai sore. Kabut mulai turun, membuat jarak pandang terbatas. Kaki rasanya sudah mau mogok. "Berapa lama lagi, Zak?" tanya Rizqiya, suaranya sudah mulai hilang semangat.
"Sebentar lagi, Riz. Habis tanjakan ini," jawab saya klise, padahal saya sendiri tidak yakin.
Tapi kemudian, pepohonan rapat itu mulai menipis. Langit yang tertutup kanopi tiba-tiba terbuka. Dan... Masya Allah.
Kami sampai di Sabana.
Bayangkan sebuah lembah luas, dikelilingi oleh punggungan bukit yang memeluknya. Di tengah-tengahnya mengalir sungai kecil yang airnya jernih bukan main. Di sekelilingnya, hamparan rumput luas dan tentu saja, sang primadona: Bunga Edelweiss.
Sabana Butak itu luas, lapang, dan menenangkan. Rasanya seperti menemukan sebuah "kamar rahasia" di atap dunia. Lelah yang tadi menumpuk di betis dan pundak, seolah luruh seketika saat kami melepaskan carrier.
Kami mendirikan tenda di dekat aliran air (sumber air di Butak ini melimpah dan sangat bersih, sebuah kemewahan bagi pendaki). Senja mulai turun, tapi bukan senja oranye merona. Senja di Butak hari itu adalah gradasi abu-abu dan ungu, mistis dan dingin.
Malam harinya adalah pengalaman sensorik yang berbeda lagi. Dinginnya menusuk sampai ke tulang, bahkan jaket polar tebal saya rasanya tak mampu menahan angin yang menyusup lewat celah tenda. Tapi, saat saya keluar sebentar untuk mengambil air wudhu, saya mendongak. Ribuan, mungkin jutaan bintang, bertaburan di langit yang pekat. Tanpa polusi cahaya kota, Bimasakti terlihat samar-samar membentang.
Di situ, sambil menggigil kedinginan dan memegang mug enamel berisi kopi yang cepat sekali dingin, saya merasa... cukup. Saya tidak butuh validasi media sosial, saya tidak butuh deadline pekerjaan. Saya hanya butuh momen ini. Diam, dingin, dan bintang.
Summit Attack: Mengejar Emas di Ufuk Timur
Pukul 03.30 pagi, alarm Rizqiya berbunyi. Suara yang paling dibenci sekaligus ditunggu. Summit attack.
Perjalanan dari sabana ke puncak tidak terlalu jauh, tapi terjalnya minta ampun. Jalurnya berpasir dan berbatu lepas. Setiap melangkah dua kali, rasanya merosot satu kali. Napas berasap di udara dingin.
Langit mulai berubah warna. Dari hitam pekat, menjadi biru tua, lalu perlahan muncul garis oranye tipis di cakrawala. Kami mempercepat langkah, berpacu dengan matahari.
Dan saat kaki ini akhirnya menapak di titik tertinggi, 2.868 mdpl, semua terbayar lunas.
Pemandangan dari Puncak Butak itu... magis. Di kejauhan, Gunung Semeru berdiri gagah dengan wedhus gembel-nya yang ikonik, menyembur perlahan ke angkasa. Di sisi lain, Arjuno dan Welirang tampak seperti kakak beradik yang sedang tidur berdampingan. Lautan awan bergulung-gulung di bawah kami, seolah kami sedang berdiri di atas pulau yang melayang di langit.
Cahaya matahari pagi itu bukan sekadar menerangi, tapi menghangatkan jiwa. Ada rasa haru yang aneh saat melihat dunia perlahan terbangun dari tidurnya. Di ketinggian ini, masalah-masalah hidup yang di bawah sana terasa begitu besar, tiba-tiba terlihat sepele. Se-sepele rumah-rumah penduduk yang terlihat seperti titik-titik kecil dari atas sini.
Saya duduk di batu cadas, membiarkan angin menerpa wajah. Saya tidak banyak bicara, Rizqiya pun begitu. Kami hanya diam, menyerap energi matahari, merekam semuanya ke dalam memori otak karena kamera secanggih apapun tidak akan pernah bisa menangkap "rasa" yang kami alami saat itu.
Perjalanan Pulang: Sebuah Refleksi tentang Ego
Turun gunung selalu lebih sulit daripada naik. Bukan secara fisik (meski lutut dan jempol kaki menjerit minta ampun), tapi secara mental. Meninggalkan keindahan itu rasanya berat. Kembali ke hiruk-pikuk kota, kembali ke rutinitas, rasanya enggan.
Tapi gunung mengajarkan satu hal penting: Puncak hanyalah bonus, tujuan utamanya adalah kembali pulang dengan selamat. Gunung juga mengajarkan tentang mengalahkan ego. Saat di tanjakan terjal, ego bilang "berhenti, kamu lemah". Tapi hati bilang "satu langkah lagi, kamu bisa". Dan ternyata, kita bisa.
Gunung Butak, dengan segala kesunyian hutan lumutnya dan keanggunan sabananya, telah memberikan saya pelajaran baru. Bahwa keindahan itu tidak selalu harus megah dan berteriak lantang. Kadang, keindahan itu tersembunyi di balik kabut, di dalam hutan yang basah, dan di dalam kesunyian yang memaksa kita berdialog dengan diri sendiri.
Bagi teman-teman yang ingin mencoba mendaki Butak, saran saya hanya satu: Jangan remehkan dia, dan nikmati setiap langkahnya. Jangan hanya fokus mengejar puncak, tapi sapa juga pohon-pohon tua yang kalian lewati. Rasakan dingin air sungainya. Hormati alamnya, bawa turun sampahmu, dan biarkan gunung itu tetap lestari.
Sampai jumpa di cerita petualangan Zakiya selanjutnya. Tetaplah melangkah, karena dunia terlalu luas untuk hanya dilihat dari layar kaca.
Komentar Rizqiya (Partner Pendakian):
"Jujur ya, pas di Hutan Lumut itu aku sempat mikir 'ngapain sih aku mau diajak Zakiya nyiksa diri begini?'. Kakiku rasanya mau copot, tasku berasa bawa kulkas dua pintu, dan aku sempet kepeleset nyium tanah sampai mukaku cemong semua. Tapi... pas pagi-pagi buka tenda di Sabana, terus ngeliat hamparan edelweiss kena sinar matahari pagi sambil nyeruput cokelat panas, semua sumpah serapahku semalam langsung ilang gitu aja. Rasanya damai banget, kayak dosa-dosa ikut luntur sama embun pagi. Kapok? Mulut bilang iya, tapi hati bilang 'kapan-kapan ayo lagi, Zak'."
.png)
.png)
.png)
.png)