Di Balik Punggung Putri Tidur: Sebuah Catatan Kaki dari Gunung Panderman

 

Di Balik Punggung Putri Tidur: Sebuah Catatan Kaki dari Gunung Panderman

Oleh: Zakiya

Halo, Assalamu’alaikum, sahabat pembaca setia blog Zakiya! Apa kabar semesta kecil kalian hari ini? Semoga kopi pagi ini rasanya pas, tidak terlalu pahit seperti kenyataan di hari Senin, dan tidak terlalu manis seperti janji-janji manis dia yang tak kunjung ditepati, eh.

Sudah berapa purnama ya kita tidak bersua lewat tulisan panjang seperti ini? Rasanya kangen sekali menumpahkan isi kepala yang belakangan ini terasa penuh sesak. Kalian tahu kan rasanya ketika hiruk-pikuk kota, suara klakson yang bersahutan, dan notifikasi deadline pekerjaan mulai terasa seperti teror mental? Nah, itulah yang saya rasakan minggu lalu. Rasanya butuh tombol escape yang nyata, bukan sekadar scroll TikTok melihat pemandangan orang lain. Akhirnya, bermodal nekat dan ransel yang sudah agak berdebu, saya memutuskan untuk menyingkir sejenak ke Kota Batu. Tujuan kali ini bukan Jatim Park atau alun-alun, melainkan mendaki "wajah" dari sang Putri Tidur yang legendaris: Gunung Panderman.

Kenapa Panderman? Mungkin bagi para pendaki senior, gunung setinggi 2.045 mdpl ini tergolong "imut". Tapi percayalah, gunung ini punya cara sendiri untuk memberi pelajaran tentang kerendahan hati. Bersama Naviza—teman saya yang hobinya mengeluh tapi kakinya tak pernah berhenti melangkah—kami memulai perjalanan ini. Siapkan camilan kalian, karena saya akan bercerita agak panjang tentang debu, monyet, dan lautan cahaya yang membuat saya jatuh cinta berkali-kali.



Selamat Datang di "Rumah" Para Kera

Perjalanan kami dimulai dari basecamp pendakian yang terletak di Dusun Toyomerto. Satu hal yang langsung menyambut kami begitu sampai di area parkir bukanlah angin sejuk, melainkan tatapan tajam dari "tuan rumah" yang sesungguhnya: kawanan kera ekor panjang.

Serius, mereka ada di mana-mana! Di atap warung, di dahan pohon, bahkan ada yang duduk santai di pos perizinan seolah-olah dia adalah petugas tiketnya. Awalnya saya agak ngeri, apalagi Naviza yang sudah memegang erat lengan saya sampai rasanya aliran darah saya terhenti. Tapi ternyata, selama kita tidak mengganggu dan (yang paling penting) tidak menenteng plastik kresek makanan secara mencolok, mereka cukup chill. Mereka hanya mengamati, seolah berkata, "Hei manusia, silakan lewat, tapi jangan nyampah ya."

Setelah mengurus simaksi dan repacking sedikit (memastikan tidak ada aroma roti yang bocor keluar tas), kami mulai melangkah. Jalur awal Panderman ini unik. Bukan langsung hutan lebat, tapi jalanan paving menanjak yang membelah perkebunan warga. Di sini napas saya langsung diuji. Kalian tahu kan, tanjakan paving itu seringkali lebih menyiksa mental daripada tanah? Karena jalurnya terlihat jelas menanjak tanpa ampun, tanpa belokan yang menyembunyikan penderitaan.

Di sisi kanan kiri, ladang sayur warga terhampar hijau. Ada petani yang sedang memanen wortel, tersenyum ramah menyapa kami, "Monggo, Mbak, munggah?" Sapaan sederhana itu entah kenapa jadi suntikan energi. Hangat sekali rasanya, padahal udara mulai mendingin.



Romantisme Jalur Debu dan Akar Pohon

Lepas dari area perkebunan, kami masuk ke pintu rimba yang sebenarnya. Jalur Panderman, apalagi di musim kemarau seperti saat saya datang kemarin, adalah definisi dari "pesta debu". Tanahnya kering, berpasir, dan setiap langkah kaki menghasilkan kepulan asap cokelat kecil. Masker atau buff adalah benda wajib di sini kalau kalian tidak mau paru-paru kalian protes.

Tapi di balik debu itu, ada keindahan yang magis. Sinar matahari sore menerobos celah-celah pepohonan pinus dan cypresses, menciptakan efek ray of light yang dramatis. Saya sempat berhenti di sebuah batang pohon tumbang, mengatur napas yang mulai Senin-Kamis. Suara hutan di Panderman itu khas. Ada suara angin yang mendesing di antara daun pinus—bunyinya seperti ombak laut di kejauhan, wuuusss... wuuusss....

Tanjakan di sini bisa dibilang "kecil-kecil cabe rawit". Tidak terlalu panjang, tapi curamnya lumayan bikin betis terasa panas. Naviza di belakang saya sudah mulai mengeluarkan mantra andalannya: "Zak, istirahat bentar kek, jantungku mau pindah ke dengkul nih!" Kami tertawa. Di gunung, lelah itu jadi bahan candaan. Kami berbagi minum, duduk di akar pohon besar, dan membicarakan hal-hal random. Mulai dari kenapa langit warnanya biru, sampai kenapa mantan Naviza tiba-tiba nge-chat lagi minggu lalu.

Gunung punya kekuatan aneh itu, ya? Dia membuat percakapan jadi lebih jujur. Tidak ada sinyal internet yang mendistraksi, hanya ada dua manusia yang saling reconnect di tengah hutan.



Latar Ombo: Balkon Terbaik Menatap Kota Apel

Setelah perjuangan melawan tanjakan yang licin karena pasir kering, kami sampai di Pos Latar Ombo. Dan oh my God, tempat ini sesuai namanya ("Latar" berarti halaman, "Ombo" berarti luas). Ini adalah area camp yang luas, datar, dan memiliki view yang... Masya Allah.

Kami sampai tepat saat senja mulai turun. Langit di ufuk barat berubah warna menjadi gradasi ungu, jingga, dan biru tua. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sini sebentar untuk istirahat panjang dan memasak, sebelum lanjut summit nanti atau besok pagi.

Yang membuat Latar Ombo di Gunung Panderman ini spesial adalah pemandangan malamnya. Saat matahari benar-benar tenggelam, ribuan lampu dari Kota Batu dan Malang di bawah sana mulai menyala satu per satu. Kelap-kelipnya seperti tumpahan permata di atas karpet hitam beludru.

Kalian pernah merasa kecil tapi sekaligus merasa "penuh"? Itu yang saya rasakan saat duduk di depan tenda, menyeruput kopi saset (yang rasanya jadi 100 kali lebih enak di gunung), sambil menatap city lights Batu. Di bawah sana, ada ribuan manusia dengan masalahnya masing-masing. Ada yang sedang macet-macetan, ada yang sedang lembur, ada yang sedang patah hati. Tapi dari ketinggian ini, semuanya terlihat tenang. Semuanya terlihat indah. Heningnya malam di Latar Ombo hanya dipecahkan oleh suara jangkrik dan obrolan sayup-sayup pendaki lain di tenda sebelah.

Udaranya dingin menusuk, tapi hangat di hati. Momen seperti ini yang membuat semua pegal di kaki terasa worth it. Rasanya saya ingin membekukan waktu, menyimpannya di saku kemeja flanel saya, untuk dibuka lagi saat saya stres di kantor nanti.



Puncak Basundara: Pertemuan dengan Para Raksasa

Kami melanjutkan perjalanan menuju puncak utama, Puncak Basundara. Jalur dari Latar Ombo ke puncak lebih "jahat" lagi. Medannya didominasi bebatuan terjal yang menuntut kami untuk kadang-kadang merangkak atau berpegangan pada dahan pohon.

"Puncak itu bonus, pulang dengan selamat itu tujuan," gumam saya dalam hati setiap kali kaki terasa berat melangkah.

Tapi begitu sampai di Puncak Basundara... hilang sudah semua rasa lelah.

Pemandangannya berbeda dengan di Latar Ombo. Dari puncak ini, kita bisa melihat tetangga-tetangga raksasa yang berdiri gagah. Di depan mata, Gunung Arjuno dan Welirang berdiri menjulang, tampak begitu dekat seolah bisa disentuh dengan tangan. Garis punggungannya terlihat jelas, tegas, dan maskulin. Di kejauhan sisi lain, atap Pulau Jawa, Mahameru, menyembulkan puncaknya di balik awan, mengeluarkan asap tipis tanda dia masih "bernapas".

Berdiri di ketinggian 2.045 mdpl, anginnya kencang sekali. Bendera merah putih yang tertancap di tugu puncak berkibar dengan suara bhat-bhat-bhat yang keras. Saya memejamkan mata, membiarkan angin gunung menampar-nampar pipi saya. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyeruak.

Bukan, ini bukan tentang menaklukkan gunung. Gunung tak pernah bisa ditaklukkan. Ini tentang menaklukkan ego diri sendiri. Tentang melawan rasa malas, rasa takut, dan rasa ingin menyerah. Saat saya berdiri di sana, melihat awan berarak di bawah kaki, saya sadar bahwa masalah hidup saya—sebesar apapun itu—sebenarnya kecil di hadapan semesta.

Gunung Panderman mungkin bukan gunung tertinggi. Dia tidak punya danau di puncaknya seperti Rinjani atau Semeru. Tapi dia punya keintiman. Dia punya charm yang membuat pendakinya merasa dipeluk, bukan ditantang. Dia ramah bagi pemula, tapi tetap tegas bagi mereka yang meremehkan.

Epilog: Jejak yang Tertinggal

Turun dari puncak, lutut rasanya seperti agar-agar. "Lutut gemetar" adalah oleh-oleh wajib setiap pendaki. Tapi anehnya, senyum tidak bisa lepas dari wajah kami. Sepanjang jalan turun, kami hanya membicarakan makanan apa yang akan kami santap di alun-alun Batu nanti. Pos Ketan Legenda? Bakso Malang?

Pengalaman ke Panderman kali ini mengajarkan saya untuk lebih menghargai proses. Bahwa untuk melihat keindahan (seperti city lights dari Latar Ombo), kita harus mau melewati jalan berdebu dan tanjakan yang menyakitkan dulu. Klise memang, tapi bukankah hidup juga begitu?

Terima kasih, Panderman, sang Putri Tidur, karena sudah mengizinkan kami bermain di punggungmu. Terima kasih sudah menyadarkan Zakiya kembali bahwa bahagia itu sederhana: cukup ransel, sepatu gunung, dan teman yang gila.

Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya. Jangan lupa minum air putih, dan sesekali, tengoklah ke atas. Langit luas, sayang kalau tidak dinikmati.

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.


Komentar Naviza (Partner Pendakian & Korban PHP Monyet):

"Oke, dengerin ya gaes. Si Zakiya ini nulisnya puitis banget kan? Padahal realitanya, di tengah jalan dia itu yang paling sering nanya 'Vi, puncaknya masih jauh nggak?' tiap lima menit! Hahaha. Tapi jujur, aku nggak nyesel ikut dia ke Panderman. Walaupun kakiku rasanya kayak abis ikut maraton tanpa pemanasan, dan aku sempet parno setengah mati pas ada monyet ngeliatin tasku dengan tatapan kriminal di pos bawah, tapi pemandangan lampu kota pas malem itu... gila sih. Itu beneran 'obat' banget. Momen pas kita masak mie instan di tengah dinginnya angin Latar Ombo itu bakal jadi memori inti aku tahun ini. Thanks Zak udah maksa aku jalan, meskipun besoknya aku jalan kayak penguin!"

Lebih baru Lebih lama