Menjemput Pagi di Puncak Pawitra: Sebuah Ziarah Kecil di Gunung Penanggungan

 

Menjemput Pagi di Puncak Pawitra: Sebuah Ziarah Kecil di Gunung Penanggungan

Oleh: Zakiya

Halo, Assalamu’alaikum, teman-teman pembaca setia blog Zakiya! Apa kabar hati dan pikiran kalian hari ini? Semoga masih waras di tengah gempuran deadline dan drama kehidupan yang kadang plotnya lebih membingungkan daripada sinetron, ya.

Sudah lama rasanya jari-jari ini tidak menari di atas keyboard untuk menceritakan kisah perjalanan "kabur" saya dari rutinitas. Jujur saja, seminggu terakhir ini isi kepala saya rasanya seperti benang kusut. Butuh diurai, tapi bukan dengan scrolling media sosial atau maraton serial drama. Saya butuh tanah, butuh keringat, dan butuh angin ketinggian.

Dan takdir (baca: ajakan impulsif di grup WhatsApp) membawa saya ke sini. Ke sebuah gunung yang berdiri gagah di perbatasan Mojokerto dan Pasuruan. Orang-orang sering menyebutnya "Gunung Kecil", "Mini Semeru", atau sekadar gundukan tanah tinggi karena elevasinya "hanya" 1.653 mdpl. Namanya: Gunung Penanggungan.

Jangan tertipu angka, kawan. Percayalah, gunung ini adalah definisi nyata dari pepatah "kecil-kecil cabe rawit". Bersama Kayla—teman saya yang semangatnya meletup-letup tapi sering lupa bawa air minum—saya akan mengajak kalian menelusuri jejak-jejak para resi zaman dahulu di gunung suci ini. Siapkan kopi kalian, tarik selimut, dan mari kita mendaki lewat tulisan ini.



Jebakan Angka 1.653 MDPL

Bagi pendaki pemula atau mereka yang hanya melihat data di kertas, angka 1.653 meter di atas permukaan laut itu terdengar "cupu". "Ah, paling jalan santai tiga jam juga sampai," begitu pikir saya awalnya. Sombong sekali, bukan? Dan seperti biasa, gunung selalu punya cara elegan untuk menampar kesombongan manusia.

Kami memilih jalur Tamiajeng, jalur yang katanya paling populer dan "ramah". Kami mulai berjalan sore hari, berniat mengejar camping ceria di Puncak Bayangan. Awal perjalanan melewati pos perizinan masih landai. Warung-warung warga berjejer rapi, aroma gorengan menggoda iman, dan sapaan penduduk lokal terasa hangat.

Namun, begitu masuk ke batas vegetasi hutan, "wajah asli" Penanggungan mulai terlihat. Treknya... Masya Allah. Hampir tidak ada bonus (jalan datar). Jalurnya terus menanjak, didominasi oleh tanah padat dan bebatuan yang tersusun seolah-olah tangga menuju langit yang tak berujung.

Di sini, napas saya mulai memburu. Suara jangkrik hutan mulai bersahutan dengan suara ngos-ngosan saya dan Kayla. "Zak, ini beneran gunung pendek kan? Kok rasanya kayak naik tangga darurat gedung 50 lantai nggak abis-abis?" keluh Kayla sambil menyeka keringat di dahinya yang mulai banjir. Saya hanya bisa tertawa getir, karena saya pun merasakan hal yang sama. Penanggungan itu tidak tinggi, tapi dia efisien. Dia tidak membuang waktu dengan jalur berputar-putar yang landai; dia langsung menanjak curam ke atas. To the point, seperti dosen pembimbing yang menolak basa-basi.



Puncak Bayangan: Hotel Seribu Bintang Terbaik

Setelah bertarung dengan mental dan betis yang mulai panas, kami tiba di Pos 4, atau yang lebih dikenal dengan Puncak Bayangan. Ini adalah area datar yang luas sebelum puncak utama, tempat favorit para pendaki mendirikan tenda.

Dan di sinilah magis itu terjadi.

Malam di Puncak Bayangan Penanggungan adalah salah satu pemandangan malam terbaik yang pernah saya saksikan. Bayangkan, kita berada di ketinggian yang pas. Tidak terlalu tinggi sampai tertutup kabut tebal, tapi cukup tinggi untuk melihat hamparan lampu kota (City Lights) Surabaya, Sidoarjo, dan Mojokerto yang berkelap-kelip di bawah sana. Rasanya seperti melihat tumpahan kotak perhiasan raksasa di atas karpet hitam beludru.

Kami mendirikan tenda menghadap langsung ke arah kota. Angin malam itu bertiup kencang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, tapi anehnya menenangkan. Sambil memasak mie instan (makanan wajib anak gunung) dan menyeduh kopi, saya dan Kayla duduk diam menatap lampu-lampu itu.

Di bawah sana, mungkin ada ribuan orang yang sedang macet-macetan, sedang lembur, atau sedang bertengkar. Tapi di sini, di ketinggian ini, semuanya tampak tenang. Semuanya tampak kecil. Gunung ini mengajarkan saya perspektif. Bahwa masalah yang kita anggap raksasa saat kita berada di "bawah", ternyata hanya titik kecil yang tidak berarti jika dilihat dari "atas".

Langit malam itu cerah. Bintang-bintang bertaburan seolah berlomba dengan lampu kota di bawah. Saya merasa dipeluk oleh semesta. Momen hening di depan tenda, ditemani uap kopi panas, adalah healing yang sesungguhnya. Jauh lebih ampuh daripada belanja online.



Summit Attack: Mengapa Disebut Mini Semeru?

Pukul 04.00 pagi, alarm berbunyi. Saatnya summit attack menuju Puncak Pawitra yang sesungguhnya. Kami meninggalkan tenda dan barang-barang berat di Puncak Bayangan, hanya membawa air dan kamera.

Perjalanan dari Puncak Bayangan ke Puncak Utama inilah yang membuat Penanggungan dijuluki "Mini Semeru". Vegetasi pohon mulai hilang, berganti dengan medan terbuka berupa bebatuan cadas, kerikil, dan pasir.

Jalurnya terjal, kemiringannya mungkin mencapai 60-70 derajat di beberapa titik. Dan karena ini pasir bercampur batu, setiap melangkah naik dua langkah, kaki sering merosot turun satu langkah. Debu beterbangan setiap kali kaki menapak. Napas terasa berat karena udara pagi yang tipis dan dingin.

Kayla sempat hampir menyerah di tengah jalur berbatu ini. "Zak, aku tunggu sini aja deh, kakiku gemeteran," katanya. Tapi saya tarik tangannya. "Sayang banget, Kay. Dikit lagi. Lihat belakangmu," kata saya.

Saat dia menoleh ke belakang, siluet Gunung Arjuno dan Welirang mulai terlihat jelas berlatar langit yang mulai membiru. Pemandangan itu memberinya (dan saya) suntikan tenaga baru. Kami merangkak pelan, kadang menggunakan tangan (scrambling) untuk memanjat bebatuan besar.

Puncak Pawitra: Pertemuan dengan Para Leluhur

Dan akhirnya, kami sampai. Puncak Gunung Penanggungan, 1.653 mdpl.

Kata "Pawitra" dalam bahasa Kawi berarti "kabut" atau "suci". Dan pagi itu, saya mengerti kenapa gunung ini dianggap suci oleh kerajaan-kerajaan zaman dulu seperti Majapahit. Atmosfer di puncaknya berbeda. Ada rasa sakral yang sulit dijelaskan kata-kata.

Puncaknya tidak terlalu luas, berupa kawah mati yang sudah menjadi tanah datar dan gersang. Tapi pemandangannya... Masya Allah, luar biasa.

Matahari terbit perlahan dari ufuk timur, menyembul malu-malu di balik gumpalan awan. Cahaya emasnya menyiram puncak gunung-gunung di sekitarnya. Yang paling ikonik tentu saja pemandangan di arah selatan: Gunung Arjuno dan Welirang yang berdiri gagah berdampingan, dengan Gunung Semeru yang mengintip malu-malu di kejauhan, mengeluarkan asap wedhus gembel-nya yang legendaris.

Berdiri di sana, diterpa angin pagi yang kencang, saya merasa kecil sekali. Konon, gunung ini memiliki ratusan situs candi yang tersebar di lereng-lerengnya. Puncak ini bukan sekadar tumpukan tanah, tapi tempat di mana leluhur kita dulu bermeditasi, mencari ketenangan, dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Dan pagi itu, saya merasakan koneksi itu. Koneksi spiritual yang tidak ada hubungannya dengan agama tertentu, tapi hubungan murni antara manusia, alam, dan Penciptanya.

Saya dan Kayla berfoto, tentu saja. Tapi lebih banyak waktu kami habiskan untuk duduk diam di tepi tebing (dengan jarak aman), menyerap energi matahari pagi. Membiarkan angin membawa pergi sisa-sisa stres dan kegalauan yang kami bawa dari kota.



Jalan Pulang dan Sebuah Janji

Perjalanan turun selalu terasa lebih cepat, namun lebih menyiksa lutut dan jempol kaki. Kami harus ekstra hati-hati menuruni jalur pasir agar tidak tergelincir. Sampai kembali di Puncak Bayangan, kami sarapan sebentar, membongkar tenda, dan memastikan tidak ada sampah sekecil apapun yang tertinggal. Ingat ya teman-teman, bawa turun sampahmu! Gunung bukan tempat sampah.

Turun dari Penanggungan, badan rasanya remuk redam. Betis kencang seperti batu, bahu pegal memanggul carrier. Tapi hati? Hati rasanya penuh. Penuh dengan rasa syukur, penuh dengan semangat baru.

Gunung Penanggungan mungkin bukan gunung tertinggi di Jawa. Dia tidak punya danau Segara Anak atau Ranu Kumbolo. Tapi dia punya karakter. Dia punya sejarah. Dia mengajarkan bahwa sesuatu yang terlihat kecil dan pendek, bisa jadi menyimpan tantangan besar dan keindahan yang tak terduga.

Bagi kalian yang butuh pelarian singkat tapi berkesan, Penanggungan adalah jawabannya. Jangan remehkan dia, persiapkan fisik, dan datanglah dengan hati yang terbuka. Pawitra akan menyambutmu dengan pelukan angin dan selimut kabutnya yang mistis.

Sampai jumpa di cerita petualangan Zakiya selanjutnya. Jangan lupa piknik, biar nggak panik!

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.


Komentar Kayla (Partner Pendakian & Ratu Drama Jalur Pasir):

"Oke, buat kalian yang baca tulisan Zakiya dan mikir ini bakal estetik doang, tolong siapin mental ya! Itu yang namanya jalur dari Puncak Bayangan ke Puncak Utama beneran 'prank' terbesar abad ini. Katanya 'dikit lagi', tapi kok nanjak pasirnya nggak abis-abis?! Aku sempet mikir mau gelinding aja pas turun saking capeknya, hahaha. TAPI... bener kata Zakiya, pas sampe atas, pas liat view Arjuno-Welirang yang gagah banget di depan mata, semua sumpah serapahku ilang. Rasanya kayak lagi berdiri di atas lukisan. Dan please, mie instan yang kita masak di depan tenda itu rasanya lebih enak dari pasta restoran bintang lima manapun. Fix sih, bakal kangen capeknya Penanggungan. Zak, next ke mana nih? (tapi jangan minggu depan ya, kakiku masih mode getar!)"

Lebih baru Lebih lama