Menjemput Pagi di Bibir Kawah: Cerita Tak Terlupakan dari Puncak Kelud via Tulungrejo
Halo, Sahabat Zakiya!
Apa kabar hati dan pikiran kalian hari ini? Semoga masih tersisa ruang untuk bernapas di tengah hiruk-pikuk deadline dan rutinitas yang kadang terasa mencekik, ya. Sudah lama rasanya jari-jari ini tidak menari di atas keyboard untuk menceritakan sebuah perjalanan yang benar-benar "nyangkut" di hati. Kali ini, aku kembali membawa cerita dari tanah Jawa Timur, tepatnya dari sebuah gunung yang punya sejarah letusan dahsyat namun menyimpan kecantikan yang magis. Ya, Gunung Kelud. Tapi tunggu dulu, ini bukan cerita tentang naik ojek wisata via Kediri yang nyaman itu, lho. Kali ini, Zakiya ingin mengajak kalian merasakan debu, keringat, dan detak jantung yang memburu lewat jalur pendakian via Tulungrejo, Blitar. Siapkan kopi kalian, dan mari kita mendaki bersama lewat tulisan ini.
Mengapa Harus Kelud? Mengapa Sekarang?
Jujur saja, perjalanan ini adalah impulsifitas tingkat tinggi. Kalian tahu kan rasanya ketika bangun tidur di hari Jumat dan merasa dinding kamar seolah menyempit? Itu yang aku rasakan. Aku butuh escape. Aku butuh melihat cakrawala yang tidak terhalang gedung bertingkat. Pilihan jatuh ke Gunung Kelud karena satu alasan sederhana: ia cantik tapi mematikan, tenang tapi menyimpan gejolak. Ada filosofi hidup yang kental di sana.
Gunung Kelud, yang secara administratif berada di perbatasan Kabupaten Kediri dan Blitar, memang primadona. Kebanyakan orang mengenalnya lewat jalur wisata Kediri yang sudah sangat tertata dengan terowongan ikoniknya. Tapi, sebagai seseorang yang mengaku mencintai alam (meski fisiknya kadang jompo), aku ingin menyapa Kelud dengan cara yang lebih intim. Aku ingin mendengarkan napas hutannya sebelum melihat wajah kawahnya. Karena itulah, aku dan sahabat seperjuanganku, Nadira, memutuskan mengambil rute via Tulungrejo, Blitar. Konon, jalur ini menawarkan sensasi pendakian yang lebih "raw" dan pemandangan yang tak bisa dibeli dengan tiket ojek.
Sambutan Hangat di Basecamp Tulungrejo
Kami tiba di Basecamp Pendakian Gunung Kelud via Tulungrejo saat fajar belum benar-benar pecah. Udara dingin khas dataran tinggi langsung menampar pipi begitu pintu mobil dibuka. Di sini, suasananya jauh berbeda dengan jalur wisata umum. Tidak ada riuh pedagang asongan yang agresif. Yang ada hanyalah keheningan desa yang damai dan senyum ramah bapak-bapak penjaga pos perizinan.
Untuk registrasi, biayanya sangat ramah di kantong, hanya sekitar Rp15.000 per orang (harga bisa berubah sewaktu-waktu ya, guys). Prosesnya cepat dan sederhana. Bapak petugas sempat berpesan, "Mbak, hati-hati ya, nanti di atas anginnya agak kencang. Kalau kabut turun, jangan memaksakan diri." Pesan sederhana yang selalu sukses membuat nyali sedikit ciut tapi adrenalin justru makin terpacu.
Setelah packing ulang dan memastikan persediaan air cukup (ingat, di jalur ini tidak ada warung sampai puncak!), kami mulai melangkah. Doa dipanjatkan, tali sepatu dikencangkan. Petualangan dimulai.
Menembus Hutan Pinus dan Aroma Tanah Basah
Satu jam pertama adalah terapi terbaik bagi jiwa yang lelah. Jalur awal via Tulungrejo didominasi oleh hutan pinus yang menjulang tinggi. Sinar matahari pagi mulai mengintip dari celah-celah dahan, menciptakan garis-garis cahaya (ray of light) yang dramatis—sempurna untuk konten Instagram, tapi lebih sempurna lagi untuk dinikmati dengan mata telanjang.
Tanahnya masih berupa tanah padat bercampur serasah daun pinus. Baunya... ah, kalian harus menciumnya sendiri. Bau tanah basah, getah pinus, dan udara bersih yang belum terkontaminasi knalpot. Di fase ini, obrolan aku dan Nadira masih lancar. Kami masih bisa tertawa membahas hal-hal receh, dari drama kantor sampai rencana hidup yang tak kunjung terealisasi. Napas belum tersengal, dan kaki masih terasa ringan.
Namun, gunung selalu punya cara untuk menguji kesombongan manusia. Selepas Pos 1, vegetasi mulai berubah. Pohon pinus mulai jarang, digantikan oleh semak belukar dan pepohonan heterogen yang lebih rapat. Jalur pun mulai menanjak sopan—tapi konsisten. Tidak ada bonus turunan di sini. Hanya ada tanjakan, tanjakan sedikit landai, lalu tanjakan lagi.
Ujian Mental di Tanjakan "PHP"
Masuk ke pertengahan jalur menuju Pos 3, di sinilah drama sesungguhnya dimulai. Aku menyebutnya sebagai fase "Tanjakan PHP" (Pemberi Harapan Palsu). Kenapa? Karena setiap kali mendongak ke atas, kita akan melihat ujung bukit yang terlihat seperti puncak. Dalam hati bersorak, "Yes, sampai!" Tapi begitu sampai di sana, ternyata masih ada bukit lain yang lebih tinggi menanti di belakangnya. Begitu terus berulang-ulang.
Di bagian ini, obrolan dengan Nadira sudah hilang total. Hening. Yang terdengar hanya suara napas kami yang seperti lokomotif tua dan bunyi sepatu trekking menggerus kerikil. Jalur mulai berpasir dan berbatu, sisa-sisa material vulkanik yang dimuntahkan Kelud bertahun-tahun lalu. Debu mulai beterbangan setiap kali kaki melangkah.
Aku sempat berhenti sejenak, bersandar pada batang pohon cantigi yang mulai mendominasi. Keringat dingin bercucuran. "Ra, kita ngapain sih nyiksa diri begini?" tanyaku pada Nadira. Dia hanya menoleh, meneguk air minumnya, lalu tersenyum kecut. "Demi konten, Zak. Demi kewarasan," jawabnya. Jawaban klise, tapi entah kenapa itu cukup untuk membuatku bangkit lagi.
Ada momen magis di tengah kelelahan itu. Saat kami berhenti, tiba-tiba seekor burung Elang Jawa melintas di atas kepala, memekik lantang membelah kesunyian. Kami berdua terdiam, terpukau. Di kota, kita terbiasa melihat burung gereja yang kusam. Di sini, rajanya angkasa menyapa kami. Rasanya, rasa lelah di betis itu terbayar lunas seketika.
Lanskap Pasca Erupsi: Keindahan yang Melankolis
Semakin tinggi kami mendaki, vegetasi semakin terbuka. Kami mulai memasuki area yang terdampak langsung oleh letusan besar 2014. Di sini, pemandangannya berubah drastis menjadi agak surreal. Tidak ada lagi pohon rimbun. Yang ada hanyalah hamparan pasir luas, bebatuan besar yang berserakan acak, dan sisa-sisa batang pohon mati yang hangus terbakar namun tetap berdiri kokoh.
Pemandangan ini indah, tapi juga menyedihkan. Seperti melihat bekas luka yang sedang dalam proses penyembuhan. Batang-batang pohon mati yang berwarna hitam kontras sekali dengan langit biru cerah dan semak-semak hijau muda yang mulai tumbuh di sela-sela bebatuan. Ini adalah bukti nyata betapa tangguhnya alam. Kelud pernah hancur lebur, tapi dia tidak mati. Dia bangkit dengan wajah baru.
Berjalan di area terbuka ini tantangannya adalah matahari. Panasnya menyengat langsung ke kulit. Topi dan sunblock adalah wajib hukumnya. Angin juga bertiup makin kencang, membawa debu vulkanik yang halus. Aku sarankan kalian membawa buff atau masker, karena kalau tidak, siap-siap saja merasakan sensasi "makan pasir".
Puncak: Pertemuan dengan Zamrud Jawa Timur
Setelah perjuangan sekitar 4 jam (ya, kami jalannya santai sekali, banyak berhentinya), akhirnya kami tiba di bibir kawah. Dan... MasyaAllah.
Semua rasa sakit di kaki, semua keluhan tentang tanjakan, lenyap seketika. Di hadapan kami terhampar kawah Gunung Kelud yang legendaris itu. Air kawahnya berwarna hijau toska pekat, tenang namun menghanyutkan, dikelilingi oleh dinding tebing batu cadas yang curam dan tajam. Dari sisi Blitar ini, angle pemandangannya sedikit berbeda dengan dari sisi Kediri. Kita berada di posisi yang lebih tinggi, sehingga bisa melihat keseluruhan kaldera dengan lebih luas.
Di kejauhan, aku bisa melihat titik-titik kecil manusia di seberang kawah. Itu adalah para wisatawan yang naik dari jalur Kediri. Mereka terlihat ramai dan padat. Sementara di sisi kami? Hanya ada kami berdua dan segelintir pendaki lain yang bisa dihitung jari. Rasanya eksklusif sekali. Seperti memiliki kawah pribadi.
Kami duduk di sebuah batu datar yang cukup aman, membuka bekal roti yang sudah agak gepeng terguncang di dalam tas. Makan roti tawar di ketinggian, ditemani pemandangan kawah aktif, rasanya jauh lebih nikmat daripada makan steak di restoran bintang lima manapun.
Satu hal yang membuatku merinding adalah suara kawahnya. Jika kalian diam dan menajamkan telinga, kalian bisa mendengar suara gemuruh halus dari dasar kawah. Seperti suara air mendidih dalam panci raksasa. Itu adalah pengingat bahwa Kelud ini masih "hidup". Dia sedang tidur, tapi napasnya masih ada.
Di puncak ini, aku belajar tentang kerendahan hati. Berdiri di tepi kawah raksasa membuatku merasa sangat kecil. Masalah pekerjaan, target hidup, ekspektasi orang lain—semuanya terasa tidak relevan di hadapan kemegahan alam ini. Gunung tidak peduli siapa kita, berapa gaji kita, atau seberapa banyak followers kita. Gunung hanya mengajarkan satu hal: hormati dia, maka dia akan memberimu keindahan.
Tips Kecil untuk Kalian
Sebelum aku menutup cerita ini, ada beberapa tips praktis buat Sahabat Zakiya yang ingin mencoba jalur Tulungrejo:
Fisik: Meski tidak setinggi Semeru, trek Kelud via Tulungrejo cukup menguras tenaga karena tanjakannya yang konsisten. Latihan jogging tipis-tipis seminggu sebelumnya sangat disarankan.
Air Minum: Bawa setidaknya 2-3 liter per orang. Panas di area puncak bikin cepat dehidrasi.
Sepatu: Pakailah sepatu hiking yang grip-nya bagus. Jalur pasirnya licin, terutama saat turun. Jangan pakai sneakers ala-ala mall kalau sayang nyawa (dan sayang sepatunya).
Sampah: Ini klise, tapi tolong banget, bawa turun sampahmu. Bahkan puntung rokok atau bungkus permen sekecil apapun. Jangan nodai kecantikan Kelud.
Sebuah Penutup
Mendaki Gunung Kelud via Tulungrejo bukan sekadar olahraga atau wisata. Bagi aku, ini adalah perjalanan spiritual singkat. Mengalahkan ego sendiri saat kaki ingin berhenti, dan menemukan ketenangan di tengah keheningan puncak. Pulang dari sana, badanku memang sakit semua. Betis rasanya mau copot. Tapi hatiku? Penuh. Pikiranku? Jernih. Dan itulah candu yang membuat kita selalu ingin kembali ke gunung, bukan?
Sampai jumpa di cerita petualangan Zakiya berikutnya. Jangan lupa keluar rumah dan rasakan matahari!
Kata Nadira:
"Jujur ya, Zak. Waktu di Pos 3 tadi aku sempat mikir mau pura-pura pingsan aja biar digotong turun sama Ranger. Sumpah, tanjakannya nggak ada akhlak! Tapi, pas udah duduk di atas, liat warna air kawah yang hijau toska itu, terus ngerasain angin yang nampar-nampar muka kita... rasanya damai banget. Apalagi pas kita makan roti gepeng tadi sambil ngetawain orang-orang di seberang jalur Kediri yang keliatan kayak semut. It was worth every sweat. Meskipun besok aku yakin bakal jalannya ngangkang karena pegal, tapi kalau diajak ke sini lagi lewat jalur ini, aku pasti bakal bilang 'iya' lagi. Tapi minggu depan ya, jangan besok!"
.png)
.png)
.png)
.png)