Rinjani: Kisah Tentang Debu, Air Mata, dan Sepotong Surga di Atap Lombok
Halo, Sahabat Zakiya!
Apa kabar jiwa-jiwa petualang di luar sana? Semoga semangat kalian masih membara, atau setidaknya, masih ada sisa cuti yang bisa diperjuangkan di kantor, ya! Hehe. Kali ini, Zakiya kembali menyapa kalian bukan dari kafe estetik di tengah kota atau pantai yang chill, melainkan dari ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut. Ya, benar sekali. Akhirnya, mimpi liar yang selama ini hanya mengendap di wishlist tahunan itu terwujud juga. Aku baru saja kembali dari Gunung Rinjani, Lombok. Sebuah tempat yang sering disebut sebagai "gunung bintang lima" dengan pemandangan surgawi, tapi percayalah, perjalanan menuju ke sana terasa seperti simulasi kecil dari neraka yang indah. Siapkan camilan dan posisi duduk ternyaman kalian, karena cerita kali ini bakal panjang, penuh drama, keringat, dan tentu saja, momen-momen magis yang tak terlupakan.
Drama "War" Tiket dan Birokrasi Digital
Sebelum kita bicara soal indahnya sunrise, mari kita bicara soal realita pahitnya dulu: booking tiket. Mendaki Rinjani sekarang tidak bisa "go show" alias datang langsung naik. Kita harus berurusan dengan aplikasi bernama "eRinjani". Dan percayalah, mendapatkan slot pendakian di tanggal favorit itu rasanya seperti war tiket konser K-Pop.
Aku dan tim kecilku (termasuk Mylafaiza yang nanti bakal aku ceritakan betapa strong-nya dia) merencanakan ini tiga bulan sebelumnya. Kami memilih jalur lintas: naik via Sembalun dan turun via Torean. Kenapa? Karena kami ingin paket lengkap; merasakan siksaan tanjakan Sembalun dan menikmati keindahan "Jurassic Park"-nya Torean.
Biaya retribusinya untuk wisatawan lokal cukup terjangkau, sekitar Rp5.000 hingga Rp7.500 per hari (ditambah asuransi). Tapi ingat, itu baru tiket masuk. Rinjani bukan gunung yang ramah untuk didaki tektok (naik-turun sehari) bagi pemula. Logistik, porter, dan guide adalah investasi wajib demi keselamatan dan kenyamanan (terutama punggung). Begitu sampai di Basecamp Sembalun untuk lapor diri dan check-up kesehatan, atmosfer petualangan langsung terasa. Di sini, kita bertemu pendaki dari seluruh dunia. Bahasa Prancis, Jerman, Inggris, dan logat Melayu bercampur aduk di udara Sembalun yang hangat.
Sembalun: Savana Cantik yang Menipu
Pendakian dimulai dari Sembalun. Di sinilah mental kami diuji pertama kali. Jangan bayangkan hutan rimbun yang adem. Sembalun adalah padang savana terbuka yang luasnya minta ampun. Cantik? Banget! Terlihat seperti lukisan permadani hijau kekuningan dengan latar belakang bukit-bukit gagah. Tapi panasnya? MasyaAllah.
Matahari Lombok siang itu seolah punya dendam pribadi. Tidak ada pohon untuk berteduh. Debu mulai beterbangan setiap kali kaki melangkah. Di fase ini, aku masih bisa tersenyum lebar buat konten story Instagram. "Wah, indah banget ya," kataku naif. Padahal, trek savana ini panjangnya luar biasa. Rasanya seperti berjalan di treadmill alam yang tidak ada tombol stop-nya.
Kami melewati Pos 1 dan Pos 2 dengan napas yang mulai tersengal. Yang unik, di sepanjang jalur ini banyak ojek gunung yang menawarkan jasa angkut sampai Pos 2. Godaan iman terbesar bukan setan, tapi abang ojek yang bilang, "Neng, naik ojek aja, hemat tenaga buat summit nanti." Tapi, demi harga diri (dan dompet yang pas-pasan), kami memilih tetap berjalan kaki.
Bukit Penyesalan: Nama yang Tidak Pernah Bohong
Selepas makan siang di Pos 3, "pesta" yang sesungguhnya dimulai. Kami dihadapkan pada tanjakan legendaris yang dinamai 7 Bukit Penyesalan. Awalnya aku pikir itu cuma nama hiperbola untuk menakut-nakuti pendaki pemula. Ternyata, itu nama yang sangat harfiah.
Setiap kali berhasil melewati satu bukit, aku berharap akan melihat jalan datar. Tapi yang terlihat justru bukit berikutnya yang lebih curam. Begitu terus sampai tujuh kali. Di sini, obrolan seru soal kehidupan di Jakarta lenyap. Hening. Hanya terdengar suara napas ngik-ngik dan benturan tongkat trekking ke tanah. Kabut mulai turun, membuat suasana jadi mistis sekaligus dingin.
Momen paling mind-blowing di sini adalah saat melihat para porter Rinjani. Mereka memikul beban 30-40 kg di pundak—berisi tenda, bahan makanan, tabung gas—dan mereka berjalan santai hanya memakai sandal jepit! Bahkan ada yang sambil merokok. Sementara aku? Pakai sepatu hiking mahal, tas cuma isi baju ganti dan air minum, tapi jalannya sempoyongan kayak orang mabuk laut. Hormat setinggi-tingginya untuk bapak-bapak porter Rinjani, kalian adalah MVP sesungguhnya!
Plawangan Sembalun: Hotel Bintang Seribu
Menjelang sore, kami tiba di Plawangan Sembalun, area camp terakhir sebelum puncak. Rasa lelah di Bukit Penyesalan terbayar tunai, lunas, bahkan dikasih kembalian. Pemandangannya gila! Dari bibir tebing, kami bisa melihat Danau Segara Anak yang biru pekat jauh di bawah sana, dengan Gunung Barujari (anak Gunung Rinjani) yang masih aktif mengepulkan asap di tengahnya.
Langit berubah warna dari biru ke oranye, lalu ungu. Awan-awan berada sejajar dengan mata kami. Di sinilah kami mendirikan tenda. Makan malam dengan menu nasi goreng dan ayam goreng tepung buatan porter rasanya lebih enak daripada makanan hotel bintang lima manapun. Mungkin bumbunya dicampur sedikit debu dan rasa syukur, jadi makin nikmat.
Namun, malam di Plawangan adalah ujian kedinginan. Anginnya kencang sekali. Tenda kami berguncang hebat sepanjang malam. Tidur pun tidak nyenyak karena otak sudah overthinking memikirkan agenda jam 2 pagi: Summit Attack.
Letter E: Pasir Hisap Penguras Emosi
Jam 2 pagi, alarm berbunyi. Udara dingin menusuk tulang. Dengan mata masih lengket, kami bersiap. Headlamp dinyalakan, membentuk barisan cahaya panjang seperti ular naga yang merayap naik ke punggung naga.
Perjalanan menuju puncak Rinjani dibagi beberapa tahap. Tahap awal adalah jalur pasir bercampur kerikil yang cukup curam. Tapi, "bos terakhir"-nya adalah jalur yang dikenal sebagai Letter E. Ini adalah jalur punggungan sempit menuju puncak tertinggi. Kiri jurang, kanan kawah mati. Dan pijakannya? Pasir gembur yang dalam.
Rumus matematikanya begini: Naik 2 langkah, merosot 1 langkah. Mental rasanya dihajar habis-habisan. Puncak terlihat jelas di depan mata, tapi rasanya tidak sampai-sampai. Aku ingat sempat berhenti di balik batu besar, menahan tangis saking capek dan putus asanya. "Ngapain sih aku di sini? Enakan juga rebahan di kasur," batin sisi melankolisku memberontak.
Tapi, saat melihat semburat merah mulai muncul di ufuk timur, semangat itu entah dari mana muncul lagi. Aku menyeret kaki langkah demi langkah. Dan tepat pukul 06.15 WITA, aku menginjakkan kaki di tanah tertinggi Lombok, 3.726 mdpl.
Pemandangannya? Aku kehabisan kata-kata. Segitiga bayangan Gunung Rinjani terpantul sempurna di atas laut dan awan di sisi barat. Gunung Agung di Bali terlihat kecil di kejauhan, begitu juga Gunung Tambora di Sumbawa. Semua rasa sakit, dingin, dan putus asa tadi lenyap. Digantikan rasa haru yang membuncah. Aku dan Mylafaiza berpelukan, menangis campur tertawa. Kita berhasil.
Segara Anak & Aik Kalak: Spa Alami Terbaik
Perjalanan belum selesai. Justru tantangan lutut dimulai saat turun dari puncak menuju Danau Segara Anak. Turunan curam bebatuan yang menghajar persendian lutut selama 3-4 jam. Tapi, tujuan kami adalah healing.
Sesampainya di tepi Danau Segara Anak, suasananya berubah drastis menjadi sangat damai. Banyak pendaki yang memancing ikan mujair di danau (konon ikannya ditebar oleh pemerintah dan berkembang biak pesat). Tapi sorotan utamanya adalah Aik Kalak, sumber air panas alami yang letaknya tidak jauh dari area kemah danau.
Berendam di air panas belerang setelah dihajar kedinginan di puncak adalah kenikmatan duniawi yang hakiki. Otot-otot yang kaku langsung lemas. Rasanya seperti di-spa, tapi dengan atap langit terbuka dan dinding tebing batu raksasa. Kami menghabiskan waktu berjam-jam di sini, melupakan bahwa besok kami masih harus jalan pulang.
Jalur Torean: Selamat Datang di Jurassic Park
Hari terakhir, kami memilih jalur pulang via Torean. Jika Sembalun adalah savana dan tebing gersang, Torean adalah hutan hujan tropis yang lembap dan lembah raksasa yang hijau.
Jalur ini tidak menanjak ekstrem, tapi menyusuri pinggiran tebing lembah. Pemandangannya benar-benar mengingatkanku pada film Jurassic Park atau Avatar. Air terjun jatuh dari tebing-tebing tinggi di kejauhan, sungai putih belerang mengalir deras di dasar lembah, dan pepohonan hijau lebat menyelimuti dinding tebing.
Jalurnya cukup memacu adrenalin karena ada beberapa titik di mana kami harus meniti tangga besi yang dipasang di dinding tebing curam. Salah melangkah sedikit, fatal akibatnya. Tapi keindahannya membuat rasa takut itu tertutup rasa kagum. Jalur Torean adalah penutup yang sempurna. Ia memberikan wajah Rinjani yang sama sekali berbeda: basah, hijau, dan penuh kehidupan.
Sebuah Refleksi
Mendaki Rinjani bukan sekadar tentang menaklukkan puncak. Bagi Zakiya, ini adalah perjalanan menaklukkan ego. Di gunung ini, kita diajarkan bahwa manusia itu kecil sekali. Tidak ada gunanya sombong. Alam bisa membunuhmu dengan dinginnya, atau memelukmu dengan kehangatan mataharinya, terserah kehendak-Nya. Rinjani mengajarkanku untuk lebih menghargai setiap napas, setiap teguk air, dan setiap langkah kecil. Pulang dari sana, kulitku memang gosong, kuku kaki ada yang mau lepas, dan jalan pun pincang. Tapi hati? Penuh. Sangat penuh.
Kata Mylafaiza:
"Kalau ditanya kapok atau nggak, jawabannya: KAPOK BANGET... tapi bohong! Hahaha. Sumpah ya Zak, pas di Letter E itu aku udah hampir nyerah. Rasanya mau guling-guling aja ke bawah saking frustrasinya sama pasir yang bikin merosot terus. Mana dinginnya menusuk tulang rusuk, rasanya jaket tebal berlapis-lapis itu nggak ada gunanya. Aku sempet mikir, 'Ini liburan macam apa sih?'. Tapi, pas kita sampai di Segara Anak, terus nyebur ke air panas Aik Kalak, semua sumpah serapah itu ketelen lagi. Paling memorable sih pas jalur Torean, itu gila banget pemandangannya! Kayak bukan di Indonesia. Pokoknya, makasih ya udah nyeret aku ikut trip gila ini. Tahun depan kemana lagi kita? Tapi please, jangan yang pasirnya kayak Letter E lagi ya!"
.png)
.png)
.png)
.png)