Lawu: Menapaki Ribuan Tangga Batu dan Menemukan Kehangatan di Atap Pulau Jawa

 

Lawu: Menapaki Ribuan Tangga Batu dan Menemukan Kehangatan di Atap Pulau Jawa

Halo, Sahabat Zakiya!

Apa kabar hati dan pikiran kalian hari ini? Semoga masih tetap waras di tengah gempuran deadline dan notifikasi group chat pekerjaan yang tak ada habisnya, ya. Kalau kalian merasa dada mulai sesak oleh polusi kota dan bisingnya klakson, mungkin ini saatnya kalian melakukan apa yang baru saja Zakiya lakukan: lari. Ya, lari sejenak bukan untuk menghindar dari kenyataan, tapi untuk mengisi ulang energi di tempat di mana sinyal susah tapi koneksi dengan diri sendiri justru lancar jaya. Kali ini, cerita petualanganku mendarat di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, tepatnya di punggung "Gunung Tidur" yang penuh misteri namun sangat ngangenin. Sambutlah, Gunung Lawu! Mari duduk manis, siapkan teh hangat, dan biarkan aku membawa kalian menembus kabut Magetan lewat tulisan ini.



Mengapa Lawu? Sebuah Panggilan yang Aneh

Sebenarnya, Lawu tidak ada di rencana awalku bulan ini. Tapi entah kenapa, linimasa media sosialku penuh dengan video orang makan pecel di atas awan. Fomo? Sedikit. Tapi lebih dari itu, aku merindukan gunung yang "hidup". Kalian tahu kan, ada gunung yang terasa sunyi dan liar, tapi ada juga gunung yang terasa seperti rumah nenek: hangat, ramai, dan perut terjamin kenyang. Lawu adalah tipe yang kedua.

Gunung setinggi 3.265 mdpl ini punya tempat spesial di hati para pendaki. Ia dikenal punya "nyawa" yang kuat, aura mistis yang kental, tapi sekaligus keramahan yang tak tertandingi. Aku memutuskan mendaki via Cemoro Sewu yang terletak di Sarangan, Magetan. Kenapa pilih jalur ini? Karena konon, ini adalah jalur tercepat menuju puncak, meski konsekuensinya lutut harus siap berteriak minta ampun.

Menembus Kabut Sarangan Menuju Gerbang Pendakian

Perjalanan dimulai dari kota Magetan. Udara dingin sudah menyapa bahkan sebelum kami sampai di basecamp. Melewati jalanan berliku di area Telaga Sarangan yang ikonik itu, kaca mobil kami mulai berembun. Kabut di sini tidak main-main tebalnya.

Tiba di Basecamp Cemoro Sewu, suasana ramai lancar menyambut. Berbeda dengan gunung-gunung liar lainnya, basecamp Lawu via Cemoro Sewu ini fasilitasnya lengkap banget. Parkiran luas, masjid yang nyaman, dan deretan warung yang menjual soto hangat. Tiket masuknya? Sangat bersahabat. Cukup merogoh kocek sekitar Rp20.000 per orang (harga weekend), kita sudah dapat asuransi dan izin mendaki. Proses registrasinya pun sekarang sudah lebih tertib, petugas mengecek perlengkapan kami dengan cukup detail. "Mbak, sleeping bag bawa kan? Di atas dinginnya bisa minus lho," ujar petugas mengingatkan. Sebuah peringatan yang nantinya akan sangat aku syukuri.



"Stairway to Heaven"... atau Hell?

Mari bicara jujur soal jalur Cemoro Sewu. Kalau kalian pencinta jalur tanah yang empuk, mungkin kalian akan syok di sini. Cemoro Sewu adalah definisi harfiah dari "Tangga Batu". Dari pintu gerbang sampai puncak, hampir 90% jalurnya adalah tatanan batu yang tersusun rapi.

Keuntungannya? Kita tidak akan belepotan lumpur kalau hujan turun. Sepatu tetap relatif bersih. Tapi kerugiannya? Oh my God, kaki rasanya digebuk palu. Batu itu keras (ya iyalah), dan memijak permukaan keras secara konstan selama berjam-jam membuat telapak kaki panas dan lutut gemetar.

Tapi, ada keindahan tersendiri dari siksaan ini. Di awal pendakian, kami disambut hutan pinus yang menjulang tinggi dan rapat. Sinar matahari masuk malu-malu lewat celah dahan, menciptakan efek visual yang dramatis. Udaranya segar sekali, berbau getah pinus dan tanah basah. Di Pos 1 menuju Pos 2, aku dan Kaylila—sahabatku yang nekat ikut meski belum pernah naik gunung setinggi ini—masih bisa senyum-senyum sambil foto selfie.

"Enak ya jalannya rapi," kata Kaylila polos. Aku hanya tersenyum penuh arti. Tunggu saja nanti di Pos 3, Kay, batinku jahat.

Keajaiban Warung di Tiap Pos

Inilah yang membuat Lawu unik dan menjadi pengalaman baru bagiku yang terbiasa mendaki gunung "sepi". Di Lawu, kita tidak perlu takut kelaparan. Bayangkan, di Pos 1 ada warung, Pos 2 ada warung, bahkan sampai Pos 5 pun ada warung!



Ini bukan sekadar warung pop mie, lho. Mereka jual gorengan hangat, semangka potong segar, sate kelinci, sampai nasi soto. Ada momen magis ketika aku sudah ngos-ngosan di tengah tanjakan terjal menuju Pos 3, tiba-tiba tercium aroma tempe mendoan yang sedang digoreng. Itu adalah doping terbaik. Kami berhenti di Pos 3, duduk di bangku kayu panjang, menyeruput teh manis panas sambil mengunyah semangka. Rasanya? Semangka di kota tidak ada apa-apanya dibanding semangka di ketinggian 2.000 mdpl. Airnya yang melimpah seolah membasuh kerongkongan yang kering kerontang.

Keberadaan warung-warung ini juga membuat beban tas kami lebih ringan. Kami tidak perlu bawa logistik berlebihan. Cukup bawa baju ganti, sleeping bag, dan air secukupnya. Sisanya? Beli di jalan. Konsep pendakian "mewah" yang sangat memanjakan kaum pendaki santai seperti Zakiya.

Misteri dan Kesopanan: Jalak Lawu

Mendaki Lawu tak lengkap tanpa membahas sisi mistisnya. Tapi jangan bayangkan hal-hal seram ya. Mistis di Lawu itu terasa agung dan menenangkan. Ada aturan tak tertulis bahwa kita harus menjaga ucapan dan tingkah laku. Tidak boleh mengeluh berlebihan, tidak boleh teriak-teriak, dan harus sopan.

Di perjalanan menuju Pos 4, kami bertemu dengan seekor burung jalak berwarna cokelat tua dengan paruh kuning. Jalak Lawu! Konon, menurut mitos yang beredar, burung ini adalah jelmaan dari Kyai Jalak, pengikut Prabu Brawijaya V, yang bertugas menuntun pendaki yang tersesat.

Percaya atau tidak, burung itu benar-benar "menuntun" kami. Dia melompat-lompat kecil beberapa meter di depan kami, berhenti seolah menunggu kami jalan, lalu melompat lagi saat kami mendekat. Dia menemani kami melewati jalur yang mulai terbuka dan berkabut tebal. Rasanya seperti punya guide pribadi dari alam semesta. Kehadiran burung itu membuat rasa lelah sedikit teralihkan.

Sendang Drajat dan Hargo Dalem: Kampung di Atas Awan

Setelah melewati "tanjakan setan" (julukan pribadi kami untuk jalur Pos 3 ke Pos 4 yang curamnya bikin istighfar), vegetasi mulai berubah. Pohon besar berkurang, berganti dengan cantigi dan edelweis. Oh ya, edelweis di Lawu tumbuh subur dan besar-besar! Melihat bunga abadi ini mekar di sela-sela bebatuan cadas adalah hadiah visual yang luar biasa.

Kami memutuskan untuk tidak langsung ke puncak, tapi berkemah di area Hargo Dalem. Sampai di sana saat senja, pemandangannya surreal. Ini bukan sekadar tempat kemping, ini seperti kampung kecil! Banyak tenda berdiri, dan tentu saja, ada warung legendaris: Warung Mbok Yem.

Siapa yang tidak kenal Mbok Yem? Beliau adalah legenda hidup Gunung Lawu. Warungnya disebut-sebut sebagai warung tertinggi di Indonesia. Bisa bertemu beliau, memesan nasi pecel telor ceplok, dan makan di dalam warungnya yang hangat (ada TV-nya lho!) adalah pengalaman budaya tersendiri.

Malam itu, suhu turun drastis. Dinginnya menusuk sampai ke sumsum tulang meski aku sudah pakai jaket tiga lapis. Angin menderu-deru menabrak dinding tenda. Tapi anehnya, aku tidur nyenyak. Mungkin karena perut kenyang pecel Mbok Yem, atau mungkin karena aura Lawu yang memang "memeluk".



Puncak Hargo Dumilah: Samudra di Langit

Pukul 4 pagi, kami bangun untuk summit attack menuju titik tertinggi, Hargo Dumilah. Perjalanan dari Hargo Dalem ke puncak tidak terlalu jauh, hanya sekitar 20-30 menit, tapi treknya pasir bercampur batu lepas.

Begitu sampai di tugu puncak Hargo Dumilah saat matahari terbit... speechless.

Di timur, matahari muncul malu-malu dari balik gumpalan awan, menyinari Gunung Arjuno dan Welirang yang terlihat kecil di kejauhan. Di barat, bayangan segitiga Gunung Lawu jatuh menimpa hamparan kota di bawahnya. Kami berada di atas lautan awan. Awan-awan itu bergulung-gulung seperti kapas raksasa, padat dan putih.

Rasanya tenang sekali. Tidak ada suara notifikasi HP, tidak ada suara bising kendaraan. Hanya suara angin dan decak kagum para pendaki lain. Di tugu puncak itu, aku melihat bendera Merah Putih berkibar gagah. Ada rasa haru yang menyelusup. Betapa indahnya negeri ini, dan betapa beruntungnya aku bisa berdiri di sini.

Tips Kecil untuk Sahabat Zakiya

Sebelum menutup cerita, ada sedikit tips buat kalian yang mau ke Lawu via Cemoro Sewu:

  1. Sepatu adalah Kunci: Pakai sepatu yang solnya tebal dan empuk. Batu-batu di Cemoro Sewu tidak kenal ampun. Jangan pakai sepatu lari biasa kalau tidak mau telapak kaki memar.

  2. Bawa Uang Tunai: Meski di gunung, transaksi tetap jalan. Bawa uang pecahan kecil untuk jajan di warung pos dan bayar pecel Mbok Yem (sekitar 15-20 ribu per porsi).

  3. Jaket Tebal: Angin di Lawu terkenal kencang dan dinginnya "menggigit". Windbreaker saja tidak cukup, bawa jaket polar atau down jacket.

  4. Hormati Alam: Ucapkan "Permisi" atau "Nuwun sewu" dalam hati atau lisan. Percaya nggak percaya, sopan santun bikin perjalanan lebih lancar.

Penutup: Lawu yang Bikin Candu

Turun dari Lawu, kakiku rasanya mau copot. Betis kencang seperti batu, dan jalan pun harus miring-miring saking sakitnya lutut menahan rem saat turunan tangga batu. Tapi, apakah aku kapok? Sama sekali tidak.

Lawu memberikan pengalaman pendakian yang "lengkap". Ada tantangan fisiknya, ada wisata kulinernya, ada pesona alamnya, dan ada kedamaian spiritualnya. Ia mengajarkan bahwa untuk mencapai tempat tinggi, kita harus siap bersakit-sakit menapaki batu keras, tapi percayalah, akan selalu ada "warung" (pertolongan/istirahat) di setiap pos kehidupan kita.

Terima kasih sudah membaca sampai sini, Sahabat Zakiya. Jangan lupa main keluar, hirup udara segar, dan cintai Indonesia!


Kata Kaylila:

"Sumpah ya Zak, ini tuh pengalaman pertama dan ter-epik seumur hidupku! Awalnya pas liat tangga batu di Pos 1, aku pede banget, 'Ah, gampang ini mah kayak tangga di mall'. Eh pas nyampe Pos 3, rasanya pengen nangis darah! Lututku gemeteran parah kayak lagi dangdutan. Tapi... pas makan pecel di tempat Mbok Yem, semua capeknya ilang. Aneh banget rasanya makan pecel di atas awan, dingin-dingin tapi bumbunya nendang banget. Terus pas liat sunrise di puncak, aku sadar kenapa orang-orang hobi naik gunung. Cantiknya nggak masuk akal! Cuma satu pesanku buat yang mau ajak aku ke sini lagi: tolong siapin tukang pijet pas turun, ya. Kakiku kayak bukan punyaku lagi rasanya!"

Lebih baru Lebih lama