Menemukan Kedamaian di : Catatan Perjalanan Zakiya

Bukan Sekadar Pasir: Menemukan Kedamaian dan Sate Tuna Legendaris di Kondang Merak

Oleh: Zakiya

Halo, Sahabat Zakiya yang budiman! Assalamualaikum dan selamat pagi, siang, atau malam kapanpun kalian membaca tulisan ini. Apa kabar mental kalian minggu ini? Masih sekuat baja atau sudah butuh recharging mendesak? Kalau aku, jujur saja, minggu lalu rasanya isi kepalaku seperti benang kusut yang ditarik-tarik kucing. Butuh pelarian, tapi bukan ke tempat yang mengharuskan aku mendaki gunung atau antre wahana berjam-jam. Aku butuh suara ombak, angin asin, dan... makanan enak. Pilihan logisku jatuh pada Malang Selatan. Tapi, alih-alih ke tetangganya yang super hits (Balekambang), aku memutuskan membanting setir sedikit ke arah barat, menuju sebuah pantai yang namanya cantik sekali: Pantai Kondang Merak. Siapkan posisi duduk ternyaman kalian, karena aku akan membawa kalian masuk ke dalam catatan harian perjalananku yang penuh rasa syukur dan perut kenyang ini!

Perjalanan: Sebuah Ujian Kesabaran Berbuah Manis

Mari kita mulai dari "drama" jalanan. Perjalanan dari pusat kota Malang menuju Bantur memakan waktu sekitar 2,5 sampai 3 jam, tergantung seberapa jago kalian menyalip truk tebu.

Menuju Kondang Merak itu ibarat sebuah ujian komitmen. Setelah kita melewati gerbang retribusi utama (yang jadi satu jalur dengan Pantai Balekambang), kita harus berbelok ke jalanan yang lebih kecil. Dulu, jalan ini terkenal sebagai "penghancur shockbreaker". Tapi kunjungan kali ini, aku cukup terkejut karena aksesnya sudah jauh lebih baik meski belum mulus semulus jalan tol. Masih ada sisa-sisa jalan makadam (bebatuan) yang membuat mobil bergoyang dangdut, dikelilingi hutan jati yang daunnya meranggas eksotis di musim kemarau.

Ada sensasi petualangan yang nyata saat sinyal handphone perlahan hilang bar demi bar. Buat aku, ini justru poin plus. "Maaf bos, sinyal susah," adalah alasan terbaik untuk tidak membuka email pekerjaan, bukan? Hahaha. Begitu rimbunan pohon mulai terbuka dan aroma laut tercium, semua pegal di pinggang rasanya luntur seketika.

Kesan Pertama: Kampung Nelayan yang Bersolek

Begitu sampai di bibir pantai, kesan pertama yang aku tangkap bukanlah "wisata turis", melainkan "kehidupan". Berbeda dengan pantai-pantai lain yang disetting murni untuk foto Instagram, Kondang Merak terasa hidup dengan denyut nadi masyarakat lokal.

Pemandangannya unik. Di bibir pantai, puluhan perahu nelayan berwarna-warni parkir dengan rapi. Ini memberikan estetika visual yang cantik banget buat difoto. Ada nuansa rustic dan otentik yang tidak dibuat-buat. Nama "Kondang Merak" sendiri konon berasal dari cerita lawas bahwa dulu tempat ini adalah tempat minumnya burung merak liar. Meski sekarang aku tidak melihat merak (sayang sekali!), tapi keeksotisan tempat ini tidak berkurang sedikitpun.

Pasirnya putih kecokelatan, bersih, dan lembut. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah formasi batu karang di tengah laut yang memecah ombak ganas Samudra Hindia sebelum sampai ke bibir pantai. Inilah rahasia utama pantai ini.

Keajaiban Air Tenang: Kolam Renang Raksasa Alami

Ini adalah bagian favoritku dan alasan kenapa aku merekomendasikan Kondang Merak buat kalian yang penakut sama ombak besar (seperti aku).

Kita semua tahu reputasi Laut Selatan Jawa yang ganas, kan? Tapi di Kondang Merak, ombak besar itu "dijinakkan" oleh gugusan karang raksasa sekitar 200 meter dari bibir pantai. Hasilnya? Air yang sampai ke kaki kita adalah air yang tenang, jernih, dan landai. Ombaknya malu-malu, hanya riak-riak kecil yang menyapu mata kaki.

Aku menghabiskan waktu berjam-jam cuma buat ngereceh (main air) di pinggirannya. Airnya bening banget! Kita bisa melihat dasar pasir dan bebatuan karang yang ditumbuhi lumut hijau serta rumput laut. Rasanya seperti berendam di kolam renang pribadi milik Tuhan yang super luas.

Di sela-sela karang yang tergenang air (semacam kolam alami atau lagoon kecil), aku menemukan banyak kehidupan laut. Ada ikan-ikan kecil belang-belang, bintang laut biru yang sedang bersembunyi, sampai bulu babi (awas jangan diinjak ya!). Buat kalian yang bawa anak kecil, tempat ini surga edukasi biologi yang jauh lebih seru daripada buku pelajaran. Aku merasa kembali jadi anak kecil yang girang cuma gara-gara nemu keong yang cangkangnya unik.

Kuliner yang Wajib Fardu Ain: Sate Tuna!

Oke, tarik napas dulu. Ini adalah inti dari segala inti perjalanan ke Kondang Merak. Kalau kalian ke sini tapi tidak makan Sate Tuna, menurutku kalian belum sah ke Kondang Merak.

Di sepanjang pinggir pantai, berjajar warung-warung makan sederhana. Aroma asap pembakaran ikan yang bercampur dengan angin laut langsung bikin perut keroncongan parah. Aku dan rombongan mampir ke salah satu warung.

Menu andalannya bukan ayam bakar atau ikan bakar biasa, tapi Sate Tuna. Bayangkan, potongan daging ikan tuna segar yang tebal-tebal (serius, potongannya nggak pelit!), ditusuk sate, lalu dibakar dengan bumbu rempah sederhana.

Saat gigitan pertama... Boom! Rasanya meledak di mulut. Tekstur daging tunanya padat tapi lembut, tidak amis sama sekali, dan rasanya manis gurih. Bumbunya meresap sampai ke dalam. Yang bikin makin juara adalah sambal kecapnya yang penuh irisan bawang merah dan cabai rawit setan. Dimakan pakai nasi hangat dan es kelapa muda langsung dari batoknya.

Ya Allah, nikmat mana lagi yang kau dustakan? Aku sampai nambah nasi dua kali (diet mulai besok saja lah ya). Harganya pun sangat masuk akal. Satu porsi sate tuna yang isinya banyak itu harganya sangat terjangkau dibanding rasa bintang limanya. Makan enak dengan view laut lepas? Priceless.

Fasilitas dan Kebersihan: Apa Adanya, Tapi Cukup

Sebagai travel blogger yang mencoba jujur, aku harus membahas fasilitasnya. Jangan bayangkan beach club di Bali ya. Fasilitas di sini sangat sederhana.

Toilet dan kamar mandi bilas tersedia cukup banyak dan dikelola oleh warga. Kondisinya? Cukup bersih airnya, tawar dan segar, meskipun bangunannya memang sederhana. Ada mushola juga yang layak untuk sholat, jadi ibadah tetap aman.

Soal kebersihan pantai, aku melihat upaya yang bagus dari pengelola. Ada tempat sampah di beberapa titik. Meskipun—sayangnya—aku masih melihat satu dua puntung rokok atau plastik bekas jajan di pasir yang ditinggalkan pengunjung tidak bertanggung jawab. Sahabat Zakiya, tolong banget ya, kalau kita main ke alam, sampah kita adalah tanggung jawab kita. Jangan kotori rumah ikan-ikan lucu itu.

Di sini juga ada area camping ground. Aku melihat beberapa tenda berdiri di bawah naungan pohon pandan laut. Sepertinya seru banget bangun pagi langsung lihat sunrise di sini. Mungkin next trip aku bakal coba camping!

Harga Tiket: Bahagia Murah Meriah

Masuk ke surga tersembunyi ini tidak bikin kantong bolong. Harga tiket masuknya kalau tidak salah ingat sekitar Rp10.000 - Rp15.000 per orang, ditambah biaya parkir kendaraan yang standar.

Sangat worth it! Dengan harga segitu, kita bisa seharian main air, piknik gelar tikar, atau sekadar melamun menatap cakrawala. Ini adalah definisi liburan murah tapi tidak murahan.

Momen Magis: Senja di Balik Karang

Menjelang sore, suasana berubah menjadi lebih syahdu. Matahari mulai turun, dan langit Kondang Merak memamerkan lukisan terbaiknya.

Karena pantai ini punya banyak batu karang yang menonjol di permukaan air, siluet saat sunset jadi sangat dramatis. Cahaya oranye memantul di genangan air laut yang tenang, menciptakan efek cermin raksasa.

Aku duduk di atas salah satu batu karang yang datar, memejamkan mata sebentar, dan mendengarkan suara deburan ombak besar yang pecah di kejauhan (di karang penghalang). Ada rasa damai yang menyusup ke hati. Segala masalah pekerjaan, drama percintaan, atau tagihan bulanan rasanya lenyap sebentar terbawa angin laut. Di momen seperti inilah aku merasa baterai jiwaku terisi penuh kembali.

Kondang Merak mengajarkanku bahwa keindahan itu kadang tidak perlu berteriak. Dia tenang, dia sederhana, tapi dia membekas dalam ingatan.

Penutup: Sebuah Janji untuk Kembali

Saat matahari benar-benar tenggelam dan langit berubah menjadi ungu gelap, aku berkemas pulang. Rasanya berat meninggalkan tempat ini. Kondang Merak bukan sekadar destinasi wisata, tapi tempat pelarian yang sempurna bagi jiwa-jiwa yang lelah dengan kebisingan kota.

Kombinasi antara ombak yang ramah, suasana kampung nelayan yang hangat, dan kuliner sate tuna yang legendaris membuat pantai ini punya tempat khusus di hatiku.

Buat kalian yang berencana ke Malang, please masukkan Kondang Merak ke dalam itinerary kalian. Jangan lupa bawa baju ganti, bawa sunblock, dan yang paling penting: kosongkan perut kalian untuk pesta seafood!

Terima kasih sudah membaca cerita panjang Zakiya kali ini. Semoga bisa jadi inspirasi liburan kalian selanjutnya. Sampai jumpa di petualangan berikutnya, tetap sehat dan tetap jalan-jalan!


Apa Kata Astrid? (Sahabat Zakiya yang "Hamba Makanan")

"Jujur ya Zak, awalnya aku agak skeptis pas kamu ajak ke sini, soalnya jalannya lumayan bikin perut dikocok-kocok. Aku udah siap-siap mau ngomel sepanjang jalan. TAPI... semua omelanku ketelen balik pas nyobain Sate Tunanya! Gila sih itu! Dagingnya tebel banget kayak steak, nggak ada durinya, terus bumbunya itu lho, manis gurihnya pas banget di lidah aku. Aku sampe abis 15 tusuk sendirian, jangan bilang-bilang timbanganku ya! Terus airnya juga enak banget buat main, nggak bikin takut hanyut. Pokoknya aku nggak nyesel ikut, asal pulangnya kita mampir bungkus sate tunanya lagi buat di mobil. Fix, ini wisata kuliner berkedok wisata alam sih menurutku, dan aku suka banget!"

Lebih baru Lebih lama