Menembus Belantara Meru Betiri: Menemukan "The Hidden Paradise" di Teluk Hijau, Banyuwangi
Halo, Sahabat Setia Zakiya!
Selamat pagi, siang, sore, atau malam kapan pun kalian membaca tulisan ini! Masih bersama Zakiya di sini, yang kakinya masih terasa pegal-pegal tapi hatinya sedang berbunga-bunga parah. Kalau di postingan sebelumnya aku sudah spill tentang keindahan Pulau Merah yang santai dan chill, kali ini izinkan aku membawa kalian ke level petualangan yang berbeda.
Benar-benar berbeda. Kalau Pulau Merah itu ibarat liburan cantik ala koper, destinasi kali ini adalah liburan ala ransel yang butuh perjuangan ekstra. Destinasi kita hari ini adalah Teluk Hijau atau yang sering disebut Green Bay oleh para turis mancanegara. Lokasinya tersembunyi jauh di balik rimbunnya Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi.
Banyak yang bilang, "ngapain jauh-jauh, capek-capek, cuma buat lihat laut?" Well, kalau kalian punya pemikiran seperti itu, please baca tulisan ini sampai habis. Karena aku berani jamin, Teluk Hijau bukan sekadar laut biasa. Ini adalah definisi surga yang sesungguhnya. Siapkan mental kalian, karena perjalanan virtual ini bakal sedikit "bumpy"!
Uji Nyali di Jalur Meru Betiri: Bukan untuk Kaum Rebahan
Perjalanan dimulai dari pusat kota Banyuwangi menuju arah selatan, tepatnya ke Desa Sarongan. Jaraknya sekitar 90 km. Awalnya, jalanan masih aspal mulus dan bersahabat. Tapi, begitu memasuki kawasan Taman Nasional Meru Betiri... welcome to the jungle, baby!
Jalanannya berubah menjadi makadam (bebatuan) yang tidak rata. Mobil sewaan kami terguncang hebat layaknya naik wahana di pasar malam, bedanya ini berlangsung selama hampir satu jam. Kanan kiri kami adalah hutan hujan tropis yang lebat. Pohon-pohon raksasa dengan akar gantung menjuntai seolah menyapa kami. Sinyal HP? Bye-bye. Di sini, satu-satunya koneksi yang kita punya adalah koneksi dengan alam (dan doa supaya ban mobil nggak bocor).
Ada dua cara untuk sampai ke bibir pantai Teluk Hijau dari area parkir terakhir di Pantai Rajegwesi. Cara pertama: sewa perahu nelayan (jukung) dan menerjang ombak laut selatan. Cara kedua: trekking alias jalan kaki membelah bukit dan hutan.
Karena jiwa petualang Zakiya sedang meronta-ronta (dan demi menghemat budget juga sih, hehe), aku dan rombongan memutuskan untuk mengambil opsi kedua: Trekking.
Trekking Menembus Hutan dan Kejutan di Pantai Batu
Jalur trekking-nya kurang lebih sejauh 2 kilometer. Kedengarannya pendek, kan? Tapi medannya lumayan menantang. Naik turun bukit tanah liat yang agak licin karena sisa hujan semalam, ditambah akar-akar pohon yang melintang di tengah jalan. Napas rasanya sudah Senin-Kamis, keringat bercucuran deras. Tapi, suara burung hutan dan serangga yang bersahutan bikin suasana jadi tenang dan meditatif.
Sekitar 30 menit berjalan, kami mendengar suara deburan ombak yang aneh. Bukan suara "byur-byur" seperti ombak menabrak pasir, tapi suara "klotak-klotak". Penasaran, kami mempercepat langkah. Dan... surprise!
Sebelum sampai di Teluk Hijau, kami disambut oleh Pantai Batu. Sesuai namanya, pantai ini tidak berpasir sama sekali, melainkan tertutup jutaan batu bulat berwarna hitam keabuan yang tersusun rapi secara alami.
Saat ombak datang dan menarik kembali air ke laut, batu-batu ini saling berbenturan menciptakan suara gemuruh yang unik banget. Rasanya seperti mendengar orkestra alam. Aku sempat duduk sebentar di sini, memejamkan mata, mendengarkan "lagu" dari bebatuan itu. Jujur, di titik ini saja aku sudah merasa takjub. Padahal tujuan utamanya belum sampai.
Teluk Hijau: Ketika Realita Lebih Indah dari Filter Instagram
Dari Pantai Batu, kami harus berjalan sedikit lagi melewati semak belukar. Dan begitu semak-semak itu tersibak... DEG! Jantungku rasanya berhenti berdetak sedetik.
Di depan mata, terhampar sebuah teluk yang airnya benar-benar berwarna HIJAU. Bukan biru, bukan toska, tapi hijau zamrud yang jernih! Warnanya begitu kontras dengan pasir putih yang halus seperti bedak bayi di tepiannya.
Kenapa bisa hijau? Katanya sih karena adanya alga plankton khusus di dasar perairannya yang dangkal, ditambah pantulan dari hutan lebat yang mengelilingi teluk ini. Apapun penjelasan ilmiahnya, yang jelas pemandangannya gila banget. Airnya sebening kaca. Saking beningnya, dari atas batu karang aku bisa melihat dasar lautnya.
Tanpa pikir panjang, aku langsung lari ke air. Sensasi dingin dan segarnya air Teluk Hijau langsung melunturkan semua rasa capek, pegal, dan lengket akibat trekking tadi. Ombak di sini jauh lebih tenang dibandingkan pantai selatan lainnya karena terhalang oleh bukit karang di depan teluk, jadi aman banget buat berenang-renang cantik.
Rasanya seperti punya kolam renang pribadi raksasa. Sepi, tenang, bersih. Tidak ada sampah plastik yang mengambang (tolong banget, pertahankan ini ya!). Aku merasa seperti Leonardo DiCaprio di film The Beach, menemukan surga rahasia yang tidak tersentuh dunia luar.
Tetangga yang "Posesif" dan Air Terjun Bidadari
Satu hal yang perlu kalian ingat: Teluk Hijau adalah bagian dari taman nasional yang masih sangat liar. Jadi, jangan kaget kalau kita kedatangan "tuan rumah".
Siapa lagi kalau bukan kawanan monyet ekor panjang. Mereka cukup banyak berkeliaran di pinggir hutan, mengawasi gerak-gerik pengunjung. Untungnya, monyet di sini tidak seagresif monyet di tempat wisata lain yang biasa merampas makanan. Mereka cenderung menjaga jarak, asalkan kita tidak memancing mereka dengan makanan terbuka. Jadi tips dari Zakiya: simpan rapat semua camilan kalian di dalam tas, dan jangan makan sambil jalan sendirian di dekat pepohonan.
Setelah puas berenang, aku mencoba eksplorasi ke sisi timur pantai. Ternyata ada kejutan lain: Air Terjun Bidadari.
Meski saat aku datang debit airnya tidak terlalu besar (mungkin karena belum puncak musim hujan), tapi air tawar yang mengalir dari tebing karang ini tingginya lumayan, sekitar 8 meter. Ini jadi tempat bilas alami yang sempurna! Bayangkan, habis lengket kena air laut, langsung diguyur air tawar pegunungan yang dingin di bawah air terjun. Refreshing banget! Konon katanya air terjun ini dipercaya bikin awet muda. Wah, langsung deh aku cuci muka berkali-kali di sana. Siapa tahu pulang dari sini langsung dikira anak SMA, kan? Hahaha.
Fasilitas, Tiket, dan Harga Sebuah Kenyamanan
Bicara soal fasilitas, kalian harus menurunkan ekspektasi serendah mungkin. Di area pantai utama Teluk Hijau TIDAK ADA warung makan permanen, tidak ada penyewaan ban pelampung yang heboh, dan toiletnya pun sangat sederhana (ada di dekat jalur masuk hutan, bukan di bibir pantainya).
Inilah harga yang harus dibayar untuk keaslian alam. Tidak adanya bangunan permanen justru menjaga tempat ini tetap asri. Jadi, wajib hukumnya bawa bekal makan dan minum sendiri dari rumah atau beli di Pantai Rajegwesi sebelum trekking. Dan yang paling penting: SAMPAHNYA WAJIB DIBAWA PULANG LAGI! Jangan tinggalkan apa pun selain jejak kaki, ya.
Untuk tiket masuk, kita dikenakan tarif masuk kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Harganya sangat terjangkau, sekitar Rp 5.000 - Rp 7.500 per orang untuk wisatawan domestik (harga bisa berubah sewaktu-waktu ya). Ditambah biaya parkir kendaraan. Sangat murah untuk "membeli" pemandangan sekelas Maldives ini.
Pulang Lewat Jalur Laut: Adrenalin di Atas Jukung
Sore menjelang, dan kami harus segera kembali sebelum gelap. Karena kaki rasanya sudah mau copot kalau harus jalan kaki balik lewat hutan lagi, kami memutuskan untuk naik perahu nelayan (jukung) untuk kembali ke Pantai Rajegwesi.
Tarif perahunya sekitar Rp 35.000 - Rp 50.000 per orang (tergantung negosiasi dan jumlah penumpang). Dan ternyata... keputusan naik perahu ini adalah petualangan tersendiri!
Ingat, ini Laut Selatan Jawa. Ombaknya terkenal ganas. Perahu kecil kami terombang-ambing dihantam ombak. Kadang perahu naik tinggi ke puncak ombak, lalu terbanting turun. Cipratan air laut membasahi seluruh baju (padahal baru kering). Awalnya aku teriak-teriak histeris campur takut, tapi lama-lama seru juga! Abang perahunya santai banget mengendalikan mesin tempelnya, bermanuver di antara karang-karang tajam.
Dari atas perahu, pemandangannya luar biasa. Kita bisa melihat gugusan tebing karang Meru Betiri yang kokoh dihantam ombak. Rasanya kerdil sekali diri ini di hadapan samudra luas. Perjalanan laut memakan waktu sekitar 15-20 menit yang penuh adrenalin sebelum akhirnya mendarat mulus di pasir hitam Pantai Rajegwesi.
Penutup: Sebuah Refleksi Singkat
Perjalanan ke Teluk Hijau mengajarkan aku satu hal: Best views come after the hardest climb. Klise sih, tapi benar adanya. Perjuangan menembus jalan rusak dan trekking hutan terbayar lunas dengan keindahan yang belum terjamah polusi.
Tempat ini cocok banget buat kalian yang introvert, yang lelah dengan hiruk pikuk kota, atau yang sekadar ingin detoks digital karena ketiadaan sinyal memaksa kita untuk berinteraksi dengan orang di sebelah kita dan alam di sekitar kita.
Banyuwangi memang nggak pernah gagal bikin aku jatuh cinta. Teluk Hijau kini resmi masuk dalam daftar pantai terindah versi Zakiya yang pernah aku kunjungi di Indonesia. Jadi, kapan kalian mau agendakan ke sini? Jangan lupa ajak teman yang asik diajak susah ya, karena di situlah seni petualangannya!
Sampai jumpa di cerita petualangan Zakiya berikutnya. Tetap jaga kesehatan dan jangan lupa bahagia!
Komentar Nagita (Teman Seperjalanan):
"Jujur, pas di perjalanan berangkat naik mobil, aku sempat ngomel-ngomel dalam hati sama Zakiya. Badan rasanya remuk diguncang jalan makadam itu, mana debunya banyak banget. Aku udah mikir, 'Awas aja kalau pantainya jelek, aku minta ganti rugi pijat refleksi!' Eh, ternyata pas sampai sana... aku langsung diem seribu bahasa. Bagus banget woy! Airnya beneran hijau kayak sirup melon, hahaha. Tapi momen paling nggak terlupakan (dan paling bikin trauma dikit) itu pas balik naik perahu jukung. Ombaknya gede banget! Aku udah pegangan tangan Zakiya kenceng banget sampai tangannya merah, aku kira perahunya bakal kebalik. Si Zakiya malah ketawa-ketawa girang, dasar anak alam. Tapi overall, aku nggak nyesel sih ikut. Capeknya hilang pas liat foto-foto di galeri, hasilnya cakep semua tanpa edit!"

.png)
.png)
.png)