Hutan di Tengah Kota Pahlawan: Menemukan Sisi Lain Kebun Binatang Surabaya
Oleh: Zakiya
Hai, Sahabat Zakiya di manapun kalian berada! Assalamualaikum dan salam hangat dari saya yang kali ini sedang mengetik dengan kaki sedikit pegal tapi hati yang penuh bunga-bunga. Apa kabar kalian semua? Semoga selalu sehat dan semangat ya. Sudah lama rasanya aku tidak menumpahkan cerita panjang lebar di blog kesayangan ini. Kali ini, aku membawa cerita yang sedikit berbeda. Kalau biasanya aku mereview kafe estetik atau pantai tersembunyi, kali ini aku memutuskan untuk "pulang" ke masa kecil, tapi dengan kacamata dewasa. Ya, aku baru saja menghabiskan akhir pekan di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Mungkin terdengar klise, tapi percayalah, pengalaman yang aku rasakan kemarin sungguh di luar ekspektasi. Yuk, tarik kursi, ambil kopi, dan simak ceritaku menjelajahi jantung kota Surabaya ini!
Sambutan Hangat (Secara Harfiah) dari Surabaya
Siapa sih yang tidak kenal dengan reputasi cuaca Surabaya? Panasnya bukan main! Tapi, justru di situlah seninya. Perjalanan aku dimulai pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB. Aku sengaja datang pagi untuk menghindari matahari yang tepat di atas kepala. Lokasi KBS ini sangat strategis, tepat di depan patung Sura dan Baya yang ikonik itu, di daerah Wonokromo.
Begitu turun dari kendaraan, “sambutan hangat” matahari Surabaya langsung terasa menyengat kulit, tapi anehnya, semangatku tidak luntur. Ada energi yang berbeda di sini. Hiruk-pikuk pengunjung yang didominasi keluarga, suara pedagang asongan, dan logat Suroboyoan yang kental di telinga membuatku sadar: aku sedang berada di salah satu tempat paling legendaris di Jawa Timur.
Hal pertama yang aku lakukan tentu saja berfoto di depan patung Hiu Sura dan Buaya Baya. Rasanya belum sah ke Surabaya kalau belum ada bukti digital di depan patung ini. Meskipun harus antre sedikit dengan rombongan anak TK yang lucu-lucu, akhirnya aku dapat shot terbaik. Ini adalah warm-up yang menyenangkan sebelum masuk ke dalam.
Tiket Masuk: Kaget, Kok Semurah Ini?
Jujur, ini salah satu poin yang membuatku melongo. Di era di mana tiket masuk tempat wisata modern bisa mencapai ratusan ribu rupiah, KBS seolah menjadi anomali yang menyenangkan. Saat aku menuju loket (yang sekarang sudah bisa dipesan secara online atau pembayaran non-tunai di tempat), aku hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp15.000 per orang.
Iya, kalian tidak salah baca. Lima belas ribu rupiah!
Sempat terlintas di pikiran skeptisku, "Dengan harga segini, apa yang bisa aku dapatkan? Apakah kandangnya terawat?". Tapi aku menepis pikiran itu. Bagi Zakiya, harga yang merakyat ini adalah poin plus luar biasa karena menjadikan edukasi satwa bisa diakses oleh semua kalangan. Melihat bapak-bapak yang menggendong anaknya dengan wajah sumringah memegang tiket, aku jadi terharu. Wisata tidak harus mahal untuk menciptakan kenangan, bukan?
Melangkah Masuk: Oase Hijau yang Mengejutkan
Begitu melewati pintu masuk, persepsiku tentang "Surabaya yang panas" seketika berubah. KBS ini ternyata bukan sekadar kumpulan kandang hewan, tapi lebih tepat disebut sebagai hutan kota. Pohon-pohon trembesi raksasa yang mungkin usianya sudah puluhan atau ratusan tahun memayungi jalan setapak.
Suasananya langsung adem. Sinar matahari yang tadinya menyengat kini hanya menerobos malu-malu lewat celah dedaunan, menciptakan efek ray of light yang cantik banget buat difoto. Aku berjalan perlahan, menikmati transisi dari bisingnya jalan raya Wonokromo ke suara kicauan burung yang mulai terdengar.
Ada perasaan nostalgik yang menyeruak. Desain jalan setapaknya, pagar-pagarnya, memang terasa old school. Tidak se-modern kebun binatang di kota-kota besar luar negeri, tapi justru di situ letak keunikannya. Ada jiwa sejarah di setiap sudutnya. Aku merasa seperti berjalan di lorong waktu, membayangkan bagaimana tempat ini sudah menghibur jutaan orang sejak zaman Belanda dulu.
Bertemu Para Penghuni: Pengalaman yang Personal
Nah, masuk ke menu utama: Satwa.
Aku tidak menargetkan untuk melihat semua hewan (karena luas KBS ini mencapai 15 hektar, gempor kalau dipaksakan!), jadi aku memilih beberapa spot favorit.
1. Sang Raja Hutan dan Sisi Emosionalnya Tujuanku pertama adalah kandang karnivora. Melihat Harimau Sumatera dari jarak yang cukup aman. Ada momen magis saat si harimau ini berjalan mendekat ke arah kaca pembatas. Besar, agung, dan mengintimidasi. Tapi, saat aku menatap matanya, ada ketenangan di sana. Aku sempat diam beberapa menit, hanya mengagumi corak lorengnya yang sempurna. Di sini aku belajar untuk lebih menghargai upaya konservasi. Mereka bukan sekadar tontonan, mereka adalah penyintas.
2. Komodo Dragon: The Real Beast Sebagai orang Indonesia, kita wajib bangga. KBS memiliki koleksi Komodo yang luar biasa, bahkan konon salah satu yang tersukses dalam pengembangbiakan di luar habitat aslinya. Melihat naga purba ini berjemur dengan lidah menjulur-julur memberikan sensasi ngeri-ngeri sedap. Aku sempat mengobrol sedikit dengan keeper yang sedang bersih-bersih di dekat sana. Beliau bercerita dengan antusias tentang nama-nama komodo tersebut. Ternyata, setiap hewan di sini punya kepribadian, lho! Mendengar cerita "orang dalam" seperti ini membuat pengalamanku jauh lebih kaya daripada sekadar baca papan informasi.
3. Aviary (Kubah Burung) yang Berisik tapi Candu Ini spot favoritku untuk foto-foto! Di area burung, suaranya riuh rendah. Ada Kakatua Jambul Kuning yang seolah-olah sedang "mengomel" pada pengunjung, ada Merak yang dengan sombongnya memamerkan ekor indahnya (sayang sekali aku tidak sempat merekam saat ekornya mekar sempurna). Warna-warni bulu mereka di bawah naungan pepohonan hijau benar-benar memanjakan mata.
Fasilitas: Klasik tapi Fungsional
Bicara soal fasilitas, aku harus objektif sebagai travel blogger. Jangan bayangkan fasilitas bintang lima yang super sleek. Toilet dan mushola di sini kondisinya standar, cukup bersih, meski di beberapa titik terlihat antrean karena jumlah pengunjung yang membludak di akhir pekan.
Namun, yang aku apresiasi adalah ketersediaan tempat duduk. Banyak bangku taman tersebar di bawah pohon. Ini penting banget buat kita yang kakinya mulai protes setelah jalan 5.000 langkah. Selain itu, papan petunjuk arah juga sudah diperbarui, jadi kemungkinan nyasar cukup kecil—kecuali kamu memang tipe yang buta arah seperti aku, haha.
Satu hal lagi, kebersihan. Aku melihat banyak petugas kebersihan yang standby. Tapi, masih ada saja satu-dua pengunjung bandel yang buang sampah sembarangan, padahal tempat sampah sudah disediakan tiap beberapa meter. Please ya sahabat Zakiya, kalau kalian main ke sini, jadilah pejalan yang bertanggung jawab. Malu dong sama monyet kalau kita buang sampah sembarangan!
Drama Kuliner dan Es Krim Legendaris
Setelah lelah berkeliling, perut mulai konser keroncongan. Di dalam area KBS tidak banyak restoran mewah, tapi banyak stand makanan ringan. Dan tentu saja, cuaca Surabaya menuntut kita untuk mencari yang dingin-dingin.
Aku dan temanku (si Nagita yang nanti bakal kasih komen di bawah) memutuskan untuk membeli es krim jadul dan air mineral dingin. Rasanya? Wah, surga dunia! Duduk di bangku taman, di bawah pohon rindang, sambil menjilat es krim yang mulai meleleh karena udara panas, sambil melihat Gajah Sumatera sedang dimandikan dari kejauhan. Itu adalah definisi simple happiness.
Kami tidak makan berat di dalam karena berencana kulineran di luar (nanti aku bahas di postingan lain soal Rujak Cingur ya!), tapi sekadar snacking di dalam area kebun binatang ternyata asyik juga. Harganya pun masih wajar, tidak "digetok" seperti di tempat wisata viral lainnya.
Momen Tak Terduga: Interaksi Manusia
Yang membuat perjalanan ini unik bukan cuma hewannya, tapi manusianya. Aku suka sekali mengamati orang (people watching). Ada satu momen lucu saat aku melihat sekelompok anak SD yang sedang study tour. Mereka berteriak-teriak heboh saat melihat Jerapah mengambil makan dari tangan petugas.
"Woy, dowo banget leher e rek!" (Woy, panjang banget lehernya, guys!) seru salah satu anak dengan logat medok.
Tawa mereka, antusiasme mereka, itu menular. Di KBS, aku merasakan atmosfer kebersamaan yang tulus. Tidak ada yang sibuk dengan gadget-nya masing-masing (kecuali buat foto). Semua mata tertuju pada alam. Orang tua sibuk menjelaskan ke anaknya, pasangan muda sibuk berdiskusi soal jenis burung, dan aku sibuk merekam semua memori ini di kepalaku.
Refleksi Zakiya: Lebih dari Sekadar Rekreasi
Menjelang sore, saat matahari mulai condong ke barat dan udara menjadi sedikit lebih bersahabat, aku berjalan menuju pintu keluar. Kunjunganku ke Kebun Binatang Surabaya kali ini memberikan perspektif baru.
Dulu, waktu kecil, aku ke sini hanya untuk melihat "hewan lucu". Sekarang, aku melihat KBS sebagai benteng terakhir bagi banyak spesies yang terancam punah. Aku melihat perjuangan para keeper dan dokter hewan di balik layar yang menjaga agar satwa-satwa ini tetap sehat. Aku melihat KBS sebagai paru-paru kota Surabaya yang harus kita jaga.
Meskipun bangunannya tua, meskipun mungkin tidak secanggih kebun binatang di Singapura atau Eropa, KBS punya jiwa. Ia punya karakter yang kuat dan membumi. Ia mengajarkan kita bahwa berwisata itu tidak perlu mewah untuk bisa bermakna.
Bagi kalian yang berencana ke Surabaya atau warga Surabaya yang sudah lama tidak mampir ke sini, please, luangkan waktu kalian. Datanglah pagi-pagi, pakai sepatu kets ternyaman kalian, bawa topi, dan nikmati setiap detiknya. Jangan hanya lewat dan foto, tapi perhatikan detailnya. Dengarkan suara alam di tengah kota ini.
Terima kasih Surabaya, terima kasih KBS, untuk pengalaman yang "membumi" dan menyenangkan ini. Kakiku memang pegal, tapi hatiku penuh. Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya!
Apa Kata Nagita? (Teman Perjalanan Zakiya)
"Aduh, Zak! Jujur ya, kakiku rasanya mau copot! Kamu jalannya semangat banget sih kayak lagi lomba lari maraton, padahal ini kan lagi wisata santai! Hahaha. Tapi overall, aku happy banget sih. Awalnya aku agak males karena mikir bakal panas banget dan bau, ternyata di dalem adem gara-gara banyak pohon gede. Paling berkesan sih pas kita liat beruang madu yang lagi mager (malas gerak), itu relate banget sama kehidupanku. Terus, tiketnya murah banget woy! Sisa duitnya bisa buat kita beli oleh-oleh Almond Crispy. Next time kalau ke sini lagi, ingetin aku bawa kipas portable dua biji ya, Zak. Surabaya panasnya nggak ada obat, tapi seru!"
.png)
.png)
.png)
.png)
