Gunung Prau: Mengejar Emas di Negeri Atas Awan dan Bukit Teletubbies yang Bikin Rindu

 

Gunung Prau: Mengejar Emas di Negeri Atas Awan dan Bukit Teletubbies yang Bikin Rindu

Halo, Sahabat Setia Zakiya!

Apa kabar kalian semua di sana? Semoga rutinitas harian tidak membuat semangat kalian layu, ya. Jujur saja, minggu ini rasanya berat sekali buatku. Hiruk-pikuk kota, kemacetan yang makin tidak masuk akal, dan email pekerjaan yang datang bertubi-tubi membuat kepalaku rasanya mau meledak. Di saat-saat seperti itulah, satu-satunya obat yang paling manjur adalah lari. Bukan lari dari kenyataan, tapi lari ke tempat di mana sinyal susah, udara dingin menusuk, dan mata dimanjakan oleh lukisan Tuhan yang no filter.

Ya, akhirnya bucket list-ku yang satu ini tercentang juga. Aku baru saja kembali dari Gunung Prau di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Gunung yang katanya "ramah pemula" tapi punya pemandangan kelas dunia. Siapkan selimut kalian (karena membaca ini saja mungkin bikin kalian merasa dingin) dan mari simak cerita perjalananku menembus kabut Dieng!



Mengapa Prau? Panggilan dari "Eropa-nya Jawa"

Kenapa harus Prau? Bukankah ada banyak gunung lain? Jawabannya klise tapi nyata: Aku rindu Golden Sunrise-nya yang legendaris. Banyak pendaki bilang, matahari terbit di Prau adalah salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Klaim yang cukup berani, kan? Makanya, Zakiya harus membuktikannya sendiri.

Selain itu, Dieng sendiri punya daya tarik magis. Suhu di sana bisa drop sampai mendekati titik beku, bahkan kadang muncul embun es (orang sana bilang "bun upas"). Rasanya seperti sedang tidak di Indonesia yang tropis, tapi seperti sedang di desa kecil di Eropa saat musim gugur. Aku butuh shock therapy dingin itu untuk menyegarkan otak yang sudah terlalu panas.

Menuju Patak Banteng: Markas Para Pemburu Awan

Kami memilih jalur pendakian via Patak Banteng. Ini adalah jalur paling populer, paling ramai, tapi juga jalur "tikus" alias paling cepat sampai puncak. Estimasi waktunya hanya 2-3 jam saja untuk sampai ke camp area. Cocok buat aku yang kakinya sedang agak manja dan mood-nya ingin trekking santai (walaupun kenyataannya, hmm, nanti kita bahas).

Perjalanan menuju Basecamp Patak Banteng dari Wonosobo adalah petualangan tersendiri. Jalanannya berkelok-kelok tajam membelah perkebunan sayur. Kanan kiri isinya cuma kabut dan hijau daun kentang.

Sesampainya di basecamp, suasana sudah ramai seperti pasar malam. Ratusan pendaki dengan tas carrier warna-warni berkumpul. Ada yang baru datang dengan wajah segar, ada yang baru turun dengan wajah kucel tapi bahagia. Aroma mi instan dan kopi panas menguar di udara, bercampur dengan udara dingin yang langsung menampar pipi begitu aku turun dari mobil. Brrr! Jaket tebal langsung terpasang otomatis.



Drama Registrasi dan Aturan yang Keren

Sebelum mulai mendaki, urusan administrasi (Simaksi) harus beres. Biayanya sangat terjangkau, sekitar Rp30.000 per orang (sudah termasuk tiket masuk dan asuransi). Tapi ada satu hal yang bikin aku salut banget sama pengelola Gunung Prau via Patak Banteng: Aturan Sampahnya.

Di sini, petugasnya galak—dalam artian positif. Mereka memeriksa barang bawaan kami. Botol air mineral dihitung, bungkus mi instan didata, bahkan tisu basah (wet wipes) itu haram hukumnya dibawa naik. Kenapa? Karena tisu basah susah terurai dan sering jadi sampah abadi di gunung. Kalau pas turun nanti sampah kita kurang dari daftar bawaan, kita harus balik lagi nyari sampah atau kena denda.

Ini pengalaman yang bikin aku sadar, mendaki gunung itu bukan cuma soal pamer foto di Instagram, tapi soal tanggung jawab. Rasanya jadi punya misi mulia: naik bersih, turun bersih.

Tangga Penyesalan di Awal Pendakian

"Katanya ramah pemula, Zak?" Itu pertanyaan yang aku teriakkan dalam hati saat baru jalan 15 menit.

Jalur Patak Banteng itu... to the point. Tidak ada basa-basi landai. Begitu lepas dari rumah penduduk, kita langsung disuguhi tangga-tangga yang disusun dari batu dan tanah. Di kalangan pendaki, ini sering disebut "Tangga Penyesalan".

Napas rasanya putus-putus. Jantung berdegup kencang seperti habis lari maraton. Tapi, treknya memang sudah tertata rapi. Di beberapa titik yang curam, ada tali pegangan (webbing) untuk membantu kita menarik badan.

Keunikan jalur ini adalah debunya. Karena aku mendaki di musim kemarau, debu tanah kering beterbangan setiap kali kaki melangkah. Rasanya seperti dibedaki pakai tanah liat. Masker buff wajib dipakai kalau nggak mau paru-paru penuh debu. Sesekali kami berhenti di warung-warung kecil yang ada di Pos 1 dan Pos 2. Ya, kalian nggak salah baca, ada warung di tengah jalur pendakian! Makan semangka potong segar di tengah tanjakan terjal itu rasanya surga dunia. Manisnya langsung nyesss di tenggorokan.



Akar Cinta dan Hutan yang Bernapas

Setelah melewati Pos 3, vegetasi mulai berubah. Kami masuk ke area hutan pinus dan pohon-pohon besar dengan akar yang menyembul ke permukaan tanah. Orang-orang menyebutnya "Akar Cinta" (entah kenapa segala sesuatu di gunung suka dikaitkan dengan cinta, mungkin karena pendaki itu romantis-romantis, ya? Haha).

Di sini suasananya lebih adem. Cahaya matahari mengintip malu-malu dari sela dedaunan. Meski kaki sudah pegal dan paha terasa panas, semangat kembali naik karena para pendaki yang turun memberi bocoran: "Semangat Mbak! Puncak tinggal di balik bukit itu!"

Dan benar saja. Setelah satu tanjakan terakhir yang kemiringannya bikin istighfar, hutan tiba-tiba terbuka. Langit biru membentang luas tanpa penghalang.

Sunrise Camp: Hotel Bintang Lima Miliar

Sampai di Sunrise Camp (area kemah), rasa lelah itu hilang. Lenyap. Digantikan oleh rasa takjub yang bikin mulut menganga.

Di depan mata, Gunung Sindoro dan Sumbing berdiri gagah berjejer, seolah-olah mengapung di atas lautan awan. Di kejauhan, puncak Merapi dan Merbabu juga terlihat menyapa. Pemandangannya benar-benar unreal. Seperti lukisan kanvas raksasa yang hidup.

Kami segera mendirikan tenda sebelum gelap. Mencari lapak datar di Prau itu gampang-gampang susah kalau sedang musim ramai. Rasanya seperti berebut lahan kavling perumahan. Tapi untungnya, kami dapat spot yang view-nya langsung menghadap ke Sindoro-Sumbing.

Sore itu, kami habiskan dengan duduk di depan tenda, menyeduh cokelat panas, dan melihat matahari perlahan tenggelam. Langit berubah warna dari biru, ke oranye, lalu ungu pekat. Udara dingin mulai menusuk tulang. Suhunya mungkin sekitar 5 derajat Celcius malam itu. Menggigil? Pasti. Tapi kehangatan obrolan bersama teman-teman membuat semuanya terasa nyaman.



Malam Bertabur Bintang (Milky Way)

Malam di Prau itu hening tapi ramai. Hening dari suara kendaraan, tapi ramai oleh suara angin dan obrolan sayup-sayup tenda tetangga.

Sekitar pukul 2 pagi, aku terbangun karena ingin buang air kecil (drama klasik anak gunung: nahan pipis karena malas keluar sleeping bag). Akhirnya aku memaksakan diri keluar tenda. Dan... Masya Allah.

Langit malam itu bersih tanpa awan. Ribuan, tidak, jutaan bintang bertaburan di atas kepala. Bahkan gurat putih Milky Way (Bimasakti) terlihat jelas dengan mata telanjang. Aku sampai lupa kalau sedang kebelet pipis. Aku berdiri diam di sana selama beberapa menit, menengadah ke langit sambil menahan dingin, merasa sangat kecil di hadapan semesta yang agung ini. Momen seperti inilah yang membuat candu naik gunung.

The Golden Sunrise: Waktu Seolah Berhenti

Pukul 04.30 pagi, alarm kehidupan berbunyi dari segala penjuru. Semua orang keluar tenda, membungkus diri dengan jaket tebal, sarung tangan, dan kupluk. Semua mata tertuju ke timur.

Perlahan, garis cakrawala mulai memerah. Matahari muncul perlahan-lahan dari balik lautan awan. Warnanya kuning keemasan, sangat intens. Cahayanya menyinari puncak Sindoro dan Sumbing, menciptakan bayangan yang dramatis.

Tidak ada yang bicara. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing atau kameranya masing-masing. Di momen itu, rasanya waktu berhenti. Hangat sinar matahari pagi menyentuh kulit wajah yang beku, memberikan sensasi hangat yang menenangkan. Inilah Golden Sunrise yang diceritakan orang-orang itu. Dan ya, rumor itu benar. Ini salah satu matahari terbit terindah yang pernah Zakiya lihat seumur hidup.

Bukit Teletubbies: Bermain di Taman Bunga

Setelah puas menikmati sunrise, kami tidak langsung turun. Kami jalan-jalan dulu ke arah puncak bukit. Di sinilah letak keunikan Prau yang lain: Bukit Teletubbies.

Puncak Prau itu bukan kerucut lancip, tapi memanjang dan berbukit-bukit hijau yang luas. Mirip sekali dengan bukit di acara Teletubbies waktu kita kecil dulu. Di musim ini, bukit-bukit itu dipenuhi oleh bunga Daisy (Lonceng) liar berwarna-warni. Ada yang putih, kuning, dan ungu.

Berjalan di antara bukit hijau dan bunga-bunga liar dengan latar belakang langit biru cerah membuatku merasa seperti ada di film Sound of Music. Aku, tentu saja, berlarian kecil (sambil ngos-ngosan dikit) dan berfoto ria. Udaranya segar sekali, bebas polusi. Paru-paru rasanya berterima kasih karena diberi asupan oksigen murni berkualitas premium.

Perjalanan Pulang dan Mie Ongklok

Menjelang siang, kabut mulai naik. Itu tanda kami harus turun sebelum pandangan tertutup total. Perjalanan turun jauh lebih cepat, tapi lebih menyiksa lutut. Kami harus menahan rem tubuh di turunan tanah yang licin.

Sampai kembali di Basecamp Patak Banteng, kami langsung "balas dendam" kuliner. Ke Dieng belum sah kalau belum makan Mie Ongklok. Mi rebus khas Wonosobo dengan kuah kental berkanji, disajikan dengan sate sapi dan tempe kemul. Rasanya gurih, manis, dan hangat. Cocok banget buat memulihkan tenaga. Tak lupa, aku beli oleh-oleh Carica (manisan pepaya gunung) buat orang rumah.

Penutup: Prau, Pendek tapi Berkesan

Gunung Prau mungkin bukan gunung tertinggi di Jawa. Treknya mungkin pendek. Tapi pengalaman yang ditawarkannya sungguh "tinggi". Dia paket lengkap: effort yang tidak terlalu menyiksa (dibanding gunung lain), pemandangan sunrise juara, bukit savana yang estetik, dan kuliner yang enak.

Buat kalian yang ragu mau mendaki karena takut capek, cobalah Prau. Rasa capeknya akan hilang begitu kalian melihat awan berarak di bawah kaki kalian. Gunung ini mengajarkan bahwa keindahan itu bisa dinikmati siapa saja yang mau melangkah keluar dari zona nyamannya.

Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya! Jangan lupa, jaga alam, dan bawa turun sampahmu!


Komentar Natasha:

"Zak, jujur ya, pas di 'Tangga Penyesalan' awal-awal itu gue udah mikir mau pura-pura pingsan aja biar dievakuasi turun! Sumpah itu tangga batu kayak nggak ada habisnya, mana debunya bikin muka gue cemong kayak donat gula halus tapi versi tanah. Gue masih inget banget lo bilang 'tenang Nat, bentar lagi landai', taunya bohong semua! Hahaha. Tapi, pas malem-malem gue kedinginan parah sampe gigi gemeretuk di tenda, terus lo bikinin mie rebus kuah susu panas... itu mi rebus terenak yang pernah gue makan seumur hidup. Dan gila sih, view pas pagi-pagi beneran bikin nangis bagusnya. Fix, tahun depan kita ke sini lagi, tapi gue mau latihan squad jump dulu sebulan!"

Lebih baru Lebih lama