Gunung Sumbing: Menjamah Punggung Naga dan Lautan Awan di Atap Jawa Tengah
Halo, Sahabat Setia Zakiya!
Apa kabar jiwa-jiwa petualang yang sedang terjebak di balik meja kerja? Semoga kopi di mejamu masih hangat, ya, walau hati mungkin sedang meronta ingin lari ke hutan. Kali ini, Zakiya kembali lagi! Setelah kemarin kita ngos-ngosan bareng di cerita Sindoro, rasanya nggak adil kalau kita tidak membahas "pasangannya". Ya, siapa lagi kalau bukan Gunung Sumbing. Gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah yang berdiri gagah memagari cakrawala Kabupaten Wonosobo, Temanggung, dan Magelang.
Kalau Sindoro sering dibilang "Gunung Susu" karena bentuknya yang kerucut sempurna, Sumbing ini beda. Dia lebih liar, lebih raw, dan punya punggung yang bergerigi tajam bak naga purba yang sedang tertidur. Perjalanan kali ini benar-benar menguji batas sabar dan kekuatan dengkul. Siapkan mental kalian, karena cerita ini mengandung unsur tanjakan tanpa akhlak dan keindahan yang bikin nangis!
Mengapa Sumbing? Karena Sindoro Saja Tak Cukup
Awalnya, aku cuma ingin "balas dendam". Waktu mendaki Sindoro bulan lalu, pemandangan paling menakjubkan yang aku lihat justru adalah Gunung Sumbing yang berdiri gagah di seberang. Dia terlihat begitu misterius dengan puncak-puncaknya yang tajam menusuk langit. Dari situ, rasanya seperti ada magnet yang menarikku. "Tunggu aku, ya," batinku waktu itu.
Dan di sinilah aku, di akhir pekan yang cerah (tapi dinginnya minta ampun), bersama ransel keril 60 liter yang rasanya makin berat seiring bertambahnya usia, haha! Kami memilih jalur pendakian via Garung, Wonosobo. Ini adalah jalur klasik, jalur sejuta umat, dan konon... jalur yang paling siap mematahkan semangat para pendaki pemula karena treknya yang to the point.
Basecamp Garung dan Drama "Ojek Racing"
Tiba di Basecamp Garung, suasana pendaki sangat terasa. Basecamp-nya rapi, berada tepat di pinggir jalan raya. Urusan administrasi di sini sudah sangat profesional.
Untuk tiket masuk atau Simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi), kami dikenakan biaya sekitar Rp30.000 per orang. Kami juga diberikan peta jalur pendakian dan kantong sampah (trash bag). Rules-nya ketat: sampah naik harus sama dengan sampah turun. Kalau ada item yang hilang dari daftar bawaan, siap-siap kena denda atau sanksi sosial bersih-bersih basecamp. Aku salut banget sama ketegasan pengelola di sini, bikin gunungnya tetap asri.
Nah, untuk menghemat waktu (dan tenaga), kami memutuskan menggunakan jasa ojek gunung. Di Garung, ojek ini legendaris. Dengan membayar Rp25.000 - Rp30.000, kita diantar dari basecamp sampai Pos 1.
Tapi, teman-teman, jangan bayangkan ini ojek nyaman seperti ojek online di kota. Ini adalah wahana uji nyali berkedok transportasi. Jalanannya aspal rusak dan batu makadam yang menanjak curam meliuk-liuk di antara ladang penduduk. Abang ojeknya? Luar biasa skill-nya. Mereka nge-gas motor bebek modifikasi itu layaknya pembalap sirkuit. Aku cuma bisa merem melek sambil memeluk erat abang ojeknya (maaf ya, Bang, reflek ketakutan!). Jantung rasanya ketinggalan di tikungan pertama. Tapi worth it, karena ini memangkas sekitar 1,5 jam jalan kaki.
Ladang Tembakau dan Tanjakan "Engkol-Engkolan"
Turun dari ojek di Pos 1, kami disambut hamparan ladang tembakau yang luas. Wangi daun tembakau segar bercampur tanah basah menjadi aroma khas Sumbing yang tak akan kutemukan di mall manapun.
Perjalanan sesungguhnya dimulai menuju Pos 2 (Gatuk) dan Pos 3. Di sinilah mental diuji. Trek via Garung ini terkenal dengan sebutan "Engkol-engkolan". Jalurnya berupa tanah yang dibentuk tangga-tangga alami dari akar pohon dan batu. Kemiringannya? Jangan ditanya. Lutut ketemu dada itu bukan kiasan lagi, tapi realita.
Sepanjang jalur ini, debu menjadi musuh utama. Karena ini musim kemarau, tanahnya kering dan berdebu halus. Setiap langkah kaki menciptakan kepul debu yang langsung menempel di wajah yang berkeringat. Zakiya yang tadinya glowing pakai sunscreen, mendadak jadi cemong kayak habis main di gudang arang. Tapi anehnya, kami tetap tertawa. Ada solidaritas aneh di antara pendaki yang sama-sama menderita di tanjakan. Saling menyemangati dengan kata sakti: "Semangat Mbak, Puncak 5 menit lagi!" (Padahal aslinya masih 3 jam, pembohongan publik yang halal di gunung).
Pestan: Berkemah di Balkon Alam Semesta
Kami menargetkan untuk berkemah di Pestan (Penyelamatan Hutan). Ini adalah area camp favorit sebelum puncak. Tempatnya terbuka, minim pepohonan, yang artinya: ANGINNYA KENCANG BANGET!
Begitu sampai di Pestan sore hari, kabut tebal sempat turun menyelimuti kami. Jarak pandang cuma 5 meter. Tapi begitu kabut lewat... Boom! Pemandangan di depan mata membuatku lupa kalau kakiku lecet.
Gunung Sindoro berdiri tepat di depan wajah kami. Besar, simetris, dan agung. Rasanya dekat sekali, seolah aku bisa melompat ke sana. Di bawahnya, hamparan awan putih bergulung-gulung seperti ombak samudera yang tenang. Kami mendirikan tenda menghadap langsung ke arah Sindoro. Ini adalah "hotel" bintang lima miliar yang sesungguhnya.
Malam itu, suhu drop drastis. Mungkin sekitar 4-6 derajat Celcius. Kami masak sup ayam instan dan menyeduh kopi panas. Makan malam sederhana ini rasanya lebih nikmat daripada fine dining di restoran mahal. Kami makan sambil melihat lampu-lampu kota Wonosobo yang mulai menyala di bawah sana, bersaing terang dengan jutaan bintang di langit. Momen hening di sini mahal harganya, momen di mana aku merasa kecil tapi sangat content, sangat cukup.
Summit Attack: Merayap di Dinding Batu
Pukul 3 pagi, kami bangun untuk summit attack. Perjalanan menuju puncak dari Pestan adalah babak final yang brutal.
Kami harus melewati Pasar Watu dan Watu Kotak. Jalurnya bukan lagi tanah, tapi bebatuan cadas yang tajam dan labil. Di beberapa titik, kami harus scrambling (memanjat menggunakan tangan dan kaki) karena jalurnya nyaris vertikal.
Napas rasanya pendek sekali karena oksigen yang makin tipis. Dinginnya angin subuh menembus jaket windbreaker-ku. Tapi, melihat semburat oranye di ufuk timur menjadi bahan bakar semangat.
Sampai di area Watu Kotak, langit mulai terang. Formasi batu-batu raksasa di sini sangat eksotis, mengingatkanku pada lanskap film fiksi ilmiah. Batu-batu ini tersusun abstrak, menjadi benteng alami dari angin badai.
Puncak Rajawali dan Kawah yang Bernapas
Setelah perjuangan merayap di batu-batu, akhirnya kami sampai di titik tertinggi: Puncak Rajawali.
Zakiya speechless.
Pemandangan dari Puncak Sumbing itu... gila! Berbeda dengan Sindoro yang punya satu kawah besar, Sumbing memiliki kaldera yang luas dengan tebing-tebing batu curam yang mengelilinginya. Di bawah sana, ada kawah aktif yang mengepulkan asap belerang dan genangan air berwarna hijau toska. Di sisi lain, ada sabana luas yang disebut "Sabana Segoro Banjaran".
Berdiri di Puncak Sumbing rasanya seperti berdiri di punggung naga. Di satu sisi jurang kawah, di sisi lain lautan awan. Di kejauhan, puncak Merapi, Merbabu, Lawu, dan Slamet menyembul dari balik awan seperti pulau-pulau di atas langit.
Aku duduk diam di batu puncak, membiarkan sinar matahari pagi menghangatkan pipi yang beku. Rasa lelah, pegal, dan kurang tidur terbayar lunas. Lunas selunas-lunasnya. Ada rasa haru yang menyeruak, bersyukur tubuh ini masih kuat diajak melihat kebesaran Tuhan seindah ini.
Perjalanan Pulang: Ujian Lutut Jilid 2
Tentu saja, hukum alam berlaku: apa yang naik, pasti akan turun. Dan perjalanan turun Sumbing via Garung adalah siksaan lutut yang hakiki.
Jalur batu yang terjal mengharuskan kami menahan berat badan terus-menerus. Ujung jari kaki mulai terasa sakit karena tertekan sepatu. Debu yang makin tebal di siang hari membuat perjalanan turun penuh dengan batuk-batuk kecil.
Tapi, sapaan ramah petani tembakau yang kami temui di ladang bawah menjadi pelipur lara. "Mpun dugi puncake, Mbak?" (Sudah sampai puncaknya, Mbak?) tanya seorang bapak tua yang memanggul keranjang rumput. Senyum tulus mereka mengingatkanku bahwa hidup itu sederhana. Kita saja yang sering membuatnya rumit.
Epilog: Sumbing, Kamu Keras tapi Ngangenin
Sumbing via Garung bukan gunung untuk orang yang manja. Dia menuntut fisik yang prima dan mental yang baja. Treknya tidak memberi ampun, debunya tidak santai, dan anginnya bisa bikin masuk angin akut.
Tapi, keindahan lanskap kawahnya yang purba dan pemandangan Sindoro dari tenda di Pestan adalah racun yang manis. Sakitnya badan akan hilang dalam 2-3 hari, tapi memori tentang sunrise di punggung naga itu akan menetap selamanya di kepala.
Buat kalian yang mau ke sini, tips dari Zakiya: Latihan fisik (terutama kaki) minimal seminggu sebelumnya, bawa buff ganda untuk debu, dan pastikan jaket kalian benar-benar windproof. Sumbing tidak main-main soal angin.
Terima kasih sudah membaca cerita panjang ini. Semoga bisa jadi referensi atau setidaknya hiburan di sela kesibukan kalian. Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya! Jangan lupa, alam raya adalah sekolah terbaik.
Salam Lestari!
Komentar Zulaikha:
"Zak, jujur ya, pas di 'Engkol-engkolan' itu gue udah hampir nangis darah rasanya! Gue sempet mikir mau gelinding aja ke bawah biar cepet sampe, hahaha. Sumpah itu tanjakan nggak ada akhlak banget, tegak lurus kayak tiang listrik! Mana pas malem di tenda gue ngerasa anginnya kayak mau nyabut tenda kita dan nerbangin kita ke Sindoro. Gue sampe nggak berani pipis keluar saking takutnya terbang kebawa angin. Tapi... pas liat kawah dari atas, gue langsung diem. Bagus banget woy! Cuma ya itu, abis turun dari sini kayaknya gue butuh tukang urut langganan plus libur jalan kaki seminggu. Kapok? Nggak sih, tapi kasih gue napas dulu setahun ya sebelum ngajak nanjak gila kayak gini lagi!"
.png)
.png)
.png)
.png)