Sindoro: Menantang "Si Kembar" dan Aroma Belerang yang Tak Terlupakan
Halo, Sahabat Setia Zakiya!
Selamat pagi, siang, atau malam kapan pun kalian membaca tulisan ini. Masih ingat janji saya untuk terus menjelajahi sudut-sudut cantik negeri ini, kan? Setelah kemarin kita sempat ngos-ngosan bareng lewat tulisan di gunung-gunung sebelumnya, kali ini Zakiya kembali dengan cerita baru yang baunya masih menempel di jaket—bau matahari, debu, dan tentu saja, belerang. Ya, akhirnya checklist itu tercentang juga: Gunung Sindoro via Kledung. Gunung yang sering disebut sebagai "gunung susu" oleh anak-anak 90-an karena bentuknya yang simetris sempurna, persis seperti gambar gunung legendaris di buku gambar SD. Siapkan camilan kalian, karena perjalanan kali ini penuh dengan drama ojek, lutut yang bergetar, dan lautan awan yang bikin hati meleleh.
Mengapa Sindoro? Sebuah Obsesi Simetris
Jujur saja, alasan utama aku memilih Sindoro sederhana: Gunung Sumbing. Lho, kok Sumbing? Iya, karena pemandangan terbaik melihat gagahnya Gunung Sumbing adalah dari lereng Sindoro. Mereka berdua seperti sepasang kekasih yang tak terpisahkan, berdiri berhadapan membelah langit Jawa Tengah, tepatnya di perbatasan Temanggung dan Wonosobo.
Selama ini aku cuma bisa melihat mereka dari jendela bus atau kereta saat melintas. Melihat puncaknya yang sering tertutup topi awan lentikularis dari kejauhan selalu bikin penasaran. "Gimana ya rasanya berdiri di sana?" tanya batinku. Dan akhir pekan lalu, pertanyaan itu terjawab lunas. Sindoro bukan sekadar gunung cantik yang enak dipandang, dia adalah "Lady" yang menuntut rasa hormat lewat treknya yang... well, mari kita bahas nanti.
Basecamp Kledung dan "Wahana" Ojek Maut
Kami memilih jalur pendakian via Kledung. Ini adalah jalur paling populer, ibarat "jalan tol"-nya Sindoro. Lokasi basecamp-nya sangat strategis, persis di pinggir jalan raya provinsi. Turun dari bus, tinggal jalan kaki sedikit, sampai deh.
Sistem registrasi di sini sudah sangat rapi. Biaya Simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) sekitar Rp30.000 per orang. Pengelola basecamp sangat ketat soal sampah. Semua barang bawaan yang berpotensi jadi sampah (bungkus madu rasa, botol air, tisu basah) dicatat satu per satu. Kalau pas turun jumlahnya kurang, siap-siap kena denda atau disuruh naik lagi buat nyari sampahmu. Keren, kan? Ini bikin gunungnya jadi resik banget.
Nah, ini bagian serunya. Di Kledung, ada fasilitas Ojek Gunung. Dengan membayar Rp25.000, kita bisa diantar dari basecamp sampai ke Pos 1 (atau bahkan batas Pos 1,5), memangkas waktu jalan kaki sekitar 1-1,5 jam.
Awalnya aku gengsi. "Masa anak gunung naik ojek?" pikirku sombong. Tapi melihat trek aspal menanjak di siang bolong, egoku runtuh. Aku, Naira, dan rombongan memutuskan naik ojek. Dan demi Tuhan, ini bukan ojek biasa. Ini wahana uji nyali!
Abang ojeknya lihai banget melibas jalanan berbatu yang curam dengan motor bebek modifikasi. Aku cuma bisa memeluk tas keril di pangkuan sambil berdoa komat-kamit. Motornya melompat-lompat di atas makadam, miring kanan-kiri menghindari lubang. Jantung rasanya mau copot, tapi seru! Sampai di batas pengantaran ojek, kakiku gemetar bukan karena capek jalan, tapi karena shock therapy barusan.
Menuju Sunrise Camp: Trek "Naga" yang Tak Putus
Setelah turun dari ojek, "penyiksaan" yang sebenarnya dimulai. Trek Sindoro via Kledung itu terkenal dengan karakteristiknya: terus menanjak dan minim "bonus" (jalan datar).
Dari Pos 2 menuju Pos 3, jalurnya berupa tanah padat dan bebatuan yang disusun rapi namun terjal. Orang-orang menyebutnya "Watu Tatah". Di sini, vegetasi mulai terbuka. Hutan rimbun berganti dengan semak belukar dan lamtoro. Keuntungannya? Angin sepoi-sepoi sering menyapa. Kerugiannya? Panas matahari langsung menyengat kulit. Jangan lupa sunblock, kawan!
Tantangan terberat ada di trek menuju Sunrise Camp (area kemah di Pos 3). Jalurnya makin miring, batunya makin besar-besar dan labil. Debu mulai menjadi teman akrab. Setiap langkah rasanya berat sekali. Aku sering berhenti, pura-pura membetulkan tali sepatu atau minum, padahal aslinya sedang menata napas yang sudah "Senin-Kamis".
Tapi, setiap kali aku menoleh ke belakang... Masya Allah. Gunung Sumbing berdiri raksasa di sana. Awan-awan berarak di kakinya, sementara puncaknya yang bergerigi terlihat tajam menusuk langit biru. Pemandangan itu seperti doping alami. Lelah hilang sesaat, digantikan rasa kagum. Sumbing benar-benar terlihat seperti lukisan dari sudut ini.
Malam di Kota Bintang
Kami sampai di Sunrise Camp tepat saat matahari mulai tergelincir ke barat. Area camp ini luas, tapi miring. Mencari lapak datar buat tenda itu seni tersendiri. Kalau salah pilih tempat, siap-siap tidur merosot ke ujung tenda sepanjang malam (dan itulah yang terjadi padaku, haha!).
Malam di Sindoro itu magis. Di bawah sana, lampu-lampu kota Wonosobo dan Temanggung berkelap-kelip seperti hamparan berlian yang tumpah. Di atas, langit bersih tanpa polusi cahaya memamerkan jutaan bintang. Kami memasak sup hangat dan kopi, duduk melingkar dengan jaket tebal, mengobrolkan hal-hal random mulai dari pekerjaan sampai konspirasi alam semesta.
Suhu malam itu mungkin sekitar 5-8 derajat Celcius. Dinginnya menusuk sampai ke tulang sumsum, bahkan sleeping bag tebal pun masih terasa kurang. Tapi kehangatan obrolan sahabat membuat malam itu terasa nyaman.
Summit Attack: Aroma Belerang dan Puncak Bayangan
Pukul 03.00 pagi, alarm berbunyi serentak dari berbagai tenda. Saatnya Summit Attack.
Perjalanan menuju puncak dari Sunrise Camp memakan waktu sekitar 3 jam. Dan ini adalah bagian terberat. Jalurnya bukan lagi tanah, tapi batu kerikil lepas dan pasir. Konsepnya "maju dua langkah, merosot satu langkah".
Di tengah kegelapan, senter kepala (headlamp) para pendaki terlihat mengular panjang ke atas seperti prosesi kunang-kunang. Semakin tinggi, bau menyengat mulai tercium. Bau khas telur busuk. Belerang. Masker gas atau buff tebal sangat diperlukan di sini karena asap belerang bisa bikin sesak napas dan mata perih jika angin mengarah ke kita.
Sindoro juga terkenal dengan "Puncak Bayangan"-nya. Kita pikir gundukan di depan itu sudah puncak, ternyata pas sampai sana, masih ada gundukan lain yang lebih tinggi. Ini ujian mental banget! "Kapan sampainya sih?" keluhku berkali-kali.
Vegetasi di sini didominasi oleh Edelweiss yang tumbuh subur di sela-sela batu cadas. Saat fajar mulai menyingsing, siluet bunga abadi ini terlihat sangat estetik dengan latar langit oranye. Cantik sekali.
Segoro Wedi: Kawah yang Bernyanyi
Pukul 06.00 pagi, akhirnya kaki ini menapak di tanah datar yang luas. Puncak Sindoro!
Puncak Sindoro itu unik. Dia punya kawah ganda. Kawah utamanya sangat besar dan aktif, mengeluarkan asap putih tebal yang membumbung tinggi. Suaranya gemuruh seperti suara pesawat jet yang tak kunjung lepas landas. Orang lokal menyebut area pasir luas di dekat kawah ini sebagai Segoro Wedi (Lautan Pasir).
Berdiri di bibir kawah Sindoro memberikan sensasi yang berbeda dari gunung lain. Ada rasa ngeri melihat aktivitas vulkanik yang begitu dekat, tapi juga rasa takjub. Dari sini, kita bisa melihat Gunung Sumbing, Merapi, Merbabu, Ungaran, Slamet, bahkan Ciremai di Jawa Barat jika cuaca sangat cerah. Kita benar-benar berada di atap Jawa Tengah.
Kami tidak berlama-lama di bibir kawah karena arah angin berubah membawa asap belerang ke arah jalur pendakian. Batuk-batuk mulai terdengar dari rombongan pendaki lain. Itu kode alam: "Sudah cukup fotonya, ayo turun."
Perjalanan Pulang: Perang Melawan Debu
Turun dari Sindoro adalah cerita tentang debu. Karena treknya tanah kering dan pasir, perjalanan turun bikin kita semua berubah jadi "manusia abu". Debu masuk ke hidung, telinga, bahkan sela-sela rambut.
Lutut bekerja ekstra keras menahan rem tubuh. Di sinilah trekking pole (tongkat hiking) sangat berjasa menyelamatkan sendi-sendi kaki. Tapi, pemandangan kebun tembakau dan ladang sayur yang hijau di kejauhan membuat perjalanan turun terasa lebih ringan. Dan tentu saja, bayangan akan es teh manis di basecamp menjadi motivasi terbesar.
Epilog: Sindoro, Kamu Cantik tapi Galak
Mendaki Sindoro via Kledung memberikan pelajaran berharga buatku. Bahwa keindahan Sumbing yang kita kejar itu hanya bisa didapat dengan memunggungi Sumbing itu sendiri saat mendaki. Kita harus bersusah payah menanjak di sisi seberang untuk bisa menikmati keindahannya secara utuh.
Gunung ini paket lengkap: ada ojek buat yang mau hemat tenaga (tapi boros jantung), ada camp area dengan citylight terbaik, ada trek batu yang menantang, dan ada puncak kawah aktif yang eksotis. Buat kalian yang mau ke sini, persiapkan fisik terutama untuk paha dan lutut, serta bawa masker yang proper untuk asap belerang.
Terima kasih, Sindoro, sudah mengizinkan Zakiya bertamu. Debu di sepatuku mungkin bisa dicuci, tapi kenangan sunrise di lerengmu akan abadi.
Sampai jumpa di petualangan selanjutnya! Jangan lupa main keluar!
Komentar Naira:
"Zak, sumpah ya, gue nggak akan lupa sama pengalaman naik ojek di awal pendakian itu! Gue kira gue bakal mati konyol jatuh ke kebon tembakau orang, abangnya nge-gas kayak lagi balapan MotoGP di jalan makadam! Terus pas tidur di tenda, gue denger lo ngigau minta tolong ambilin selimut padahal lo udah pake sleeping bag, jaket gue, sama kaos kaki gue, hahaha. Dinginnya Sindoro emang nggak ada akhlak sih, tapi pas kita sampe puncak dan liat kawahnya yang berisik itu... gila, keren banget. Worth it lah sama dengkul gue yang sekarang rasanya kayak mau copot. Next time kita cari gunung yang landai-landai aja ya, plis?"
.png)
.png)
.png)
.png)