Menatap Wajah Sang "Bapak" dari Dekat: Sebuah Perjalanan Emosional ke Pasar Bubrah, Gunung Merapi

 

Menatap Wajah Sang "Bapak" dari Dekat: Sebuah Perjalanan Emosional ke Pasar Bubrah, Gunung Merapi

Halo, Sahabat Setia Zakiya!

Apa kabar hati dan pikiran kalian hari ini? Semoga masih tersisa ruang untuk mimpi-mimpi liar di sela tumpukan deadline yang tak ada habisnya, ya. Sudah cukup lama rasanya aku tidak duduk diam dan menumpahkan isi kepala ke dalam tulisan yang panjang begini. Kali ini, aku membawa oleh-oleh cerita yang sedikit berbeda. Bukan tentang pantai yang menenangkan atau bukit hijau yang healing, melainkan tentang sebuah perjalanan mendebarkan menuju salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia—bahkan mungkin di dunia.

Ya, kali ini aku membawa ranselku ke Gunung Merapi.

Ada perasaan campur aduk saat memutuskan untuk pergi ke sini. Takut? Pasti. Siapa yang tidak gentar mendengar nama Merapi? Tapi ada rasa penasaran yang lebih besar, sebuah panggilan purba untuk melihat langsung kemegahan "Sang Bapak" yang berdiri gagah menjaga tanah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Simak baik-baik ya, karena ini bukan sekadar catatan perjalanan, tapi sebuah refleksi tentang keberanian, batasan diri, dan debu vulkanik.



Antara Nyali dan Regulasi: Memahami "Siaga"

Sebelum aku masuk ke cerita pendakian, aku harus jujur soal satu hal: mendaki Merapi itu tidak sama dengan mendaki gunung lain. Status aktivitas vulkaniknya yang sering berada di level "Waspada" atau "Siaga" membuat pendakian ke sini penuh dengan aturan ketat.

Saat aku dan tim kecilku merencanakan ini, kami sadar betul bahwa Puncak Garuda atau kawah itu adalah zona terlarang. Big No. Larangan ini bukan sekadar aturan birokrasi, tapi soal nyawa. Jadi, target kami "hanya" sampai Pasar Bubrah. Sebuah area luas berpasir sebelum tanjakan puncak yang legendaris itu.

Banyak yang bilang, "Yah, nggak muncak dong?" Hei, buang jauh-jauh ego itu. Di Merapi, bisa menapakkan kaki di Pasar Bubrah saja sudah merupakan privilese luar biasa. Gunung ini mengajarkan kita bahwa pendakian bukan soal menaklukkan puncak tertinggi, tapi soal pulang dengan selamat dan menghormati alam yang sedang "bernafas".



Drama Registrasi dan Pesona New Selo

Perjalanan dimulai dari Basecamp New Selo, Boyolali. Akses ke sini sekarang sudah sangat mulus, meskipun tanjakannya bikin mobil kami meraung-raung minta ampun. Pemandangan dari basecamp saja sudah bikin speechless. Di depan mata, Gunung Merbabu berdiri angkuh, seolah menantang Merapi untuk beradu gagah.

Urusan perizinan sekarang sudah modern. Booking online lewat situs Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) itu wajib hukumnya. Jangan harap bisa go show alias datang langsung daftar, apalagi di akhir pekan. Kuotanya sangat dibatasi demi mitigasi bencana.

Biaya retribusi dan asuransinya sangat terjangkau, sekitar Rp15.000 - Rp20.000 per orang untuk wisatawan nusantara (weekday/weekend beda tipis). Proses pemeriksaan di pintu masuk (bar code scan) cukup ketat. Ranger memeriksa barang bawaan kami, memastikan kami tidak membawa tisu basah (yang susah terurai) dan memastikan kami membawa perlengkapan safety standar. Mereka juga mewanti-wanti dengan wajah serius: "Mbak, Mas, batas aman cuma sampai Pasar Bubrah. Jangan nekat naik ke kawah kalau nggak mau dijemput tim SAR." Kalimat itu sukses bikin bulu kuduk merinding sekaligus memacu adrenalin.

"Jalur Aspal Neraka" dan Napas yang Putus-Putus

Pendakian dimulai. Dan kejutan pertama langsung menyambut kami: Jalur Aspal/Cor.

Banyak pendaki yang mengeluh soal trek awal Merapi via Selo ini. Bayangkan jalan setapak yang sudah dicor semen, tapi kemiringannya sungguh tidak manusiawi. Ini bukan tanjakan landai, ini tanjakan yang memaksa betis bekerja keras sejak langkah pertama. Tidak ada pemanasan, langsung "hajar bleh".

Uniknya, di sepanjang jalur awal ini, kami berpapasan dengan warga lokal yang mencari rumput atau kayu. Mereka berjalan santai dengan beban berat di punggung, menyapa kami dengan senyum ramah dan bahasa Jawa halus, "Monggo, Mbak.. ati-ati." Sementara aku? Napas sudah ngos-ngosan seperti lokomotif uap tua.

Yang menarik dari Merapi adalah vegetasinya. Di bagian bawah, hutan masih cukup rapat. Pohon-pohon akasia dan perdu melindungi kami dari sengatan matahari siang. Tapi semakin ke atas, suasananya perlahan berubah menjadi sunyi dan gersang. Tidak ada suara burung yang ramai seperti di gunung lain. Hening. Hanya suara gesekan sepatu boot kami dengan tanah berdebu.



Pos 1 ke Pos 2: Menguji Kesabaran di Jalur Berbatu

Setelah melewati gerbang "Joglo" yang ikonik dan Pos 1, jalur berubah menjadi tanah padat bercampur bebatuan vulkanik. Di sinilah mental mulai diuji. Treknya menanjak konsisten tanpa banyak "bonus" (jalan datar).

Debu di Merapi itu khas. Warnanya abu-abu gelap, sisa-sisa erupsi masa lalu. Jika ada angin berhembus atau pendaki lain yang berlari turun, debu langsung beterbangan menampar wajah. Masker dan kacamata hitam adalah penyelamat hidup di sini. Aku sempat berhenti beberapa kali, bukan hanya karena capek, tapi untuk membersihkan debu yang menempel di bulu mata.

Di perjalanan menuju Pos 2, aku merasakan atmosfer yang berbeda. Agak... mistis, mungkin? Merapi punya aura wibawa yang sangat kuat. Ada perasaan diawasi oleh sesuatu yang besar. Bukan hantu atau hal gaib (meski banyak cerita horor beredar), tapi lebih kepada perasaan kecil di hadapan kekuatan alam yang mahadahsyat. Batu-batu besar sisa letusan tersebar di pinggir jalur, menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya ketika gunung ini "batuk".

Pasar Bubrah: Lanskap Planet Lain

Perjuangan sesungguhnya ada di trek menuju Pasar Bubrah. Pohon-pohon tinggi sudah hilang, berganti dengan cantigi kerdil dan hamparan batu cadas. Angin bertiup kencang tanpa penghalang. Dinginnya mulai menusuk tulang meskipun matahari bersinar terik—kombinasi aneh yang sering bikin pendaki terkena sunburn tanpa sadar.

Dan akhirnya... sampailah kami.

Pasar Bubrah.

Zakiya kehabisan kata-kata saat pertama kali menginjakkan kaki di sini. Ini bukan seperti sabana hijau di Merbabu atau alun-alun Surya Kencana di Gede. Ini adalah hamparan pasir dan batu vulkanik abu-abu yang luas, tandus, dan gersang. Rasanya seperti mendarat di Bulan atau Mars. Sunyi, dingin, dan mencekam, tapi indah luar biasa.

Di depan kami, berdiri dinding puncak Merapi yang mengeluarkan asap solfatara putih. Suara gemuruh pelan terkadang terdengar dari arah kawah, seperti suara pesawat jet yang melintas jauh di atas langit, tapi asalnya dari dalam perut bumi. Deg-degan? Jelas. Itu adalah pengingat bahwa gunung ini hidup. Dia tidak tidur, dia hanya sedang beristirahat sejenak.

Kami mendirikan tenda di sela-sela bebatuan besar untuk berlindung dari angin badai yang terkenal ganas di Pasar Bubrah. Tidak ada sumber air di sini, jadi setiap tetes air yang kami bawa dari bawah terasa sangat berharga.



Malam di Bawah Bayangan Raksasa

Malam di Pasar Bubrah adalah pengalaman spiritual tersendiri. Angin menderu-deru menabrak tenda flysheet kami tanpa ampun. Suara kretek-kretek kerikil yang terbawa angin menjadi musik pengantar tidur.

Aku keluar sebentar dari tenda sekitar pukul 2 pagi. Langit bersih tanpa awan. Bimasakti (Milky Way) terlihat membentang jelas di atas kawah yang mengepul. Di arah utara, lampu-lampu kota Magelang dan Boyolali berkedip-kedip seperti kunang-kunang. Kontras sekali: di bawah sana kehidupan modern yang sibuk, di sini keheningan purba yang mematikan.

Melihat puncak Merapi di malam hari memberikan sensasi ngeri-ngeri sedap. Ada rasa takut, tapi juga rasa kagum yang mendalam. Aku merasa seperti tamu kecil yang diizinkan duduk di ruang tamu seorang raksasa yang sedang tidur. Jangan berisik, jangan macam-macam, atau sang raksasa akan terbangun.

Pagi yang Magis dan Larangan ke Puncak

Pagi harinya, matahari terbit dari balik Gunung Lawu di kejauhan. Cahaya emas menyinari hamparan pasir abu-abu Pasar Bubrah, mengubah warnanya menjadi keemasan. Momen sunrise di sini magis banget! Pemandangan Gunung Merbabu di seberang sana terlihat sangat jelas, seolah-olah kita bisa melompat ke sana.

Di momen ini, godaan untuk naik ke puncak (zona kawah) sangat besar. Jalur pasir menuju puncak terlihat jelas di depan mata. Beberapa pendaki "bandel" terlihat nekat naik. Tapi aku dan Rifqi saling berpandangan dan menggeleng. "Cukup sampai sini," batinku.

Kami memilih menikmati kopi panas sambil duduk di atas batu, memandang asap kawah yang membumbung. Menahan diri untuk tidak muncak adalah bentuk rasa hormat kami pada Merapi. Lagipula, dari Pasar Bubrah saja pemandangannya sudah juara dunia. Keindahan itu tidak selalu harus dilihat dari titik tertinggi, kan?

Perjalanan Pulang: Lutut Bertemu Gravitasi

Kata orang, naik gunung itu capek, tapi turun gunung itu menyakitkan. Dan itu 100% benar di Merapi. Jalur berbatu dan berpasir yang licin membuat perjalanan turun menjadi tantangan keseimbangan.

Salah injak sedikit, bisa tergelincir. Lutut harus menahan beban tubuh dan gravitasi sekaligus. Ujung-ujung jari kaki mulai terasa sakit karena terus-menerus menekan bagian depan sepatu. Debu yang tadi siang terasa mengganggu, sekarang makin menjadi-jadi karena banyak pendaki yang turun bersamaan.

Sampai kembali di New Selo, rasanya kakiku mau copot. Celana dan jaket sudah berubah warna jadi abu-abu total. Muka kami cemong parah. Tapi anehnya, ada senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. Kami berhasil. Kami baru saja bertamu ke rumah salah satu kekuatan alam terbesar di bumi dan pulang dengan selamat.

Refleksi Akhir: Mengapa Merapi?

Bagi Zakiya, perjalanan ke Merapi via Selo ini mengajarkan tentang kerendahan hati. Di hadapan gunung berapi aktif, kita sadar betapa rapuhnya manusia. Tidak ada tempat untuk kesombongan. Kita hanya debu di hadapan alam semesta.

Merapi itu keras, gersang, dan berpotensi bahaya. Dia tidak menawarkan kenyamanan padang bunga atau danau yang tenang. Tapi di situlah letak pesonanya. Dia menawarkan kejujuran alam yang raw. Keindahan yang intimidatif.

Buat kalian yang ingin ke sini, persiapkan fisik sebaik mungkin. Latihan kaki itu wajib! Dan yang terpenting, patuhi aturan. Kalau dilarang ke puncak, ya jangan ke puncak. Gunung tidak akan lari, tapi nyawa kita cuma satu.

Sampai jumpa di petualangan Zakiya selanjutnya! Tetaplah liar, tapi tetaplah waspada.

Salam Rimba!


Komentar Rifqi:

"Waduh, kalau inget trek dari Pos 2 ke Pasar Bubrah, dengkul gue rasanya masih ngilu sampe sekarang, Zak! Hahaha. Tapi bener sih kata lo, suasananya beda banget sama gunung lain. Yang paling nggak bisa gue lupain itu pas malem-malem kita lagi masak mi instan, tiba-tiba denger suara gemuruh pelan dari kawah. Itu mi instan rasanya jadi hambar saking tegangnya gue! Gue kira mau meletus saat itu juga, padahal cuma aktivitas normalnya dia. Merapi emang punya aura 'alpha' yang kuat banget sih. Serem tapi bikin kangen. Next time kita gas lagi lah, tapi tunggu kaki gue sembuh total dulu ya!"

Lebih baru Lebih lama