Merbabu dan Dialog Sunyi di Antara Sabana: Sebuah Catatan Kaki yang Berdebu
Halo, Sahabat Setia Zakiya!
Apa kabar kalian semua? Semoga semangat kalian masih menyala-nyala, ya, seperti api unggun yang enggan padam ditiup angin gunung. Sudah lama rasanya jemari ini tidak menari di atas keyboard untuk menceritakan kisah perjalanan yang raw, jujur, dan apa adanya. Jujur saja, beberapa bulan terakhir ini rutinitas kota rasanya seperti gulungan ombak yang tak henti-hentinya menghantam, membuatku sedikit lupa caranya bernapas lega. Sampai akhirnya, sebuah ajakan impulsif (dan sedikit nekat) membawa aku dan tas keril kesayanganku kembali ke pelukan ketinggian. Kali ini, tujuannya adalah atap Jawa Tengah yang terkenal dengan sabananya yang magis: Gunung Merbabu via Selo. Siapkan kopi hangat kalian, karena cerita kali ini cukup panjang, penuh peluh, dan tentu saja, sedikit drama napas yang "senin-kamis".
Mengapa Merbabu? Sebuah Panggilan yang Tak Terjelaskan
Kenapa harus Merbabu? Pertanyaan ini sempat melintas di benakku saat sedang packing di H-1 keberangkatan. Padahal, ada banyak gunung lain yang mungkin treknya lebih bersahabat untuk kaki yang sudah lama "hibernasi" ini. Tapi, entah kenapa, bayangan akan padang sabana luas dengan latar belakang Gunung Merapi yang gagah selalu menghantui feed Instagram dan mimpi tidurku.
Merbabu itu unik. Dia tidak se-agresif tetangganya, Merapi, yang berapi-api. Merbabu itu tenang, seperti seorang ibu yang merentangkan tangannya lebar-lebar untuk memeluk siapa saja yang datang. Namun, jangan salah sangka, di balik ketenangannya, trek via Selo menyimpan "kejutan" yang sanggup membuat betis berteriak minta ampun. Keinginanku sederhana: aku ingin berdiri di Sabana 2, melihat Merapi dari jarak pandang terbaik, dan merasakan angin gunung menampar pipi, menyadarkanku bahwa dunia ini luas dan masalahku itu kecil.
Drama Tiket dan "Simaksi Online" yang Menegangkan
Sebelum kita bicara soal indahnya pemandangan, mari kita bicara soal realita mendaki gunung zaman now. Kalau dulu kita bisa datang, daftar di tempat, lalu nanjak, sekarang ceritanya beda. Merbabu menerapkan sistem booking online yang ketat.
Jujur, proses ini sempat bikin aku dan teman-teman deg-degan. Slot pendakian via Selo itu ibarat tiket konser K-Pop; lengah sedikit, sold out! Kami harus standby di depan laptop tepat saat kuota dibuka. Ada sensasi panik yang aneh saat me-refresh halaman web, takut rencana yang sudah disusun rapi batal hanya karena kalah cepat mengeklik tombol. Tapi, sistem ini sebenarnya bagus. Kuota pendaki jadi terkontrol, jalur tidak macet parah (seperti pasar malam), dan kelestarian alam lebih terjaga.
Tiket masuknya sendiri cukup terjangkau untuk pengalaman semewah ini. Untuk wisatawan domestik, harganya berkisar di angka Rp15.000 hingga Rp20.000 per orang (tergantung hari kerja atau libur), ditambah asuransi. Murah banget, kan? Tapi ingat, perjuangan mendapatkan slot-nya itu yang mahal!
Langkah Awal: Hutan Pinus dan Debu yang Akrab
Perjalanan dimulai dari Basecamp Selo. Begitu turun dari mobil, udara dingin khas Boyolali langsung menyergap. Wangi tanah basah bercampur aroma hutan pinus menjadi aromaterapi alami yang seketika menenangkan saraf-saraf yang tegang.
Trek awal via Selo ini sebenarnya cukup "sopan". Kita tidak langsung dihajar tanjakan curam. Jalurnya landai, melipir di antara ladang penduduk dan hutan pinus. Tapi, ada satu hal yang menjadi musuh utama di musim kemarau: debu.
Ya ampun, debunya! Setiap langkah kaki menciptakan kepul-kepul debu halus yang siap menempel di mana saja—di bulu mata, di baju, bahkan masuk ke sela-sela gigi. Rasanya seperti sedang bedakan pakai tanah. Di sinilah masker buff bukan lagi sekadar gaya, tapi kebutuhan vital. Aku sempat tertawa melihat temanku, Letisha, yang baru jalan 30 menit tapi mukanya sudah cemong seperti habis main di tambang batu bara. Tapi anehnya, kami menikmatinya. Ada rasa kebersamaan saat kita sama-sama kotor dan bau matahari.
Pos Bayangan Menuju Neraka Tanjakan
Masuk ke Pos 1 (Dok Malang) menuju Pos 2 (Pandean), "keramahan" Merbabu mulai luntur. Jalur mulai menanjak konsisten. Di fase ini, obrolan yang tadinya riuh rendah mulai berkurang. Suara tawa berganti dengan suara napas yang memburu.
Aku ingat momen saat duduk bersandar di akar pohon besar sebelum Pos 3. Kakiku rasanya berat sekali, seperti ada pemberat besi yang diikatkan di pergelangan kaki. Pundak mulai terasa panas karena beban carrier. Di momen seperti inilah mental diuji. Pikiran-pikiran negatif mulai muncul: "Ngapain sih capek-capek begini? Enakan juga rebahan di kasur nonton Netflix."
Tapi kemudian, aku menengadah. Di sela-sela rimbunnya daun, langit biru mengintip. Burung-burung berkicau seolah menyemangati. Gunung itu mengajarkan kita untuk mindful. Fokus pada satu langkah di depan mata, jangan terlalu pusing memikirkan puncak yang masih jauh.
Tanjakan dari Pos 3 (Watu Tulis) menuju Sabana 1 adalah ujian sesungguhnya. Jalurnya tanah merah yang licin dan terjal. Orang-orang sering menyebutnya tanjakan "penghancur lutut". Aku harus berhenti setiap 10 langkah untuk mengatur napas. Jantungku berdegup kencang seakan mau melompat keluar dari dada. Tapi setiap kali aku menoleh ke belakang, pemandangan Gunung Merapi yang mulai terlihat utuh menjadi bensin yang membakar semangatku lagi.
Sabana: Surga yang Terhampar di Depan Mata
Dan sampailah kami di momen magical itu. Momen ketika hutan tertutup tiba-tiba terbuka lebar.
Selamat datang di Sabana 1.
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak (dalam hati, karena napas sudah habis). Pemandangannya... Masya Allah. Bukit-bukit hijau bergelombang seperti punggung naga raksasa yang sedang tidur. Rumput-rumput bergoyang ditiup angin kencang. Dan di seberang sana, Gunung Merapi berdiri angkuh dengan puncaknya yang mengeluarkan asap tipis.
Rasa lelah, pegal, dan kesal pada tanjakan tadi lenyap seketika. Hilang. Zero.
Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di Sabana 2 karena areanya lebih luas dan pemandangannya lebih terbuka. Berjalan dari Sabana 1 ke Sabana 2 adalah bagian favoritku. Jalurnya landai, membelah padang rumput. Rasanya seperti berjalan di lukisan Bob Ross atau adegan film Sound of Music. Langit sore mulai berubah warna, dari biru menjadi gradasi oranye dan ungu. Cahaya matahari senja jatuh di permukaan rumput, membuatnya berkilauan seperti emas.
Di Sabana 2, suasananya hening tapi ramai. Hening dari suara mesin kota, tapi ramai oleh suara angin. Malam itu, kami memasak mi instan (makanan wajib anak gunung) dan menyeduh kopi. Duduk di depan tenda, beratapkan jutaan bintang yang terlihat sangat jelas karena minim polusi cahaya, sambil menatap siluet Merapi yang gelap. Itu adalah pengalaman spiritual yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rasanya aku begitu kecil, namun di saat yang sama, merasa begitu terhubung dengan semesta.
Menjemput Matahari di Kenteng Songo
Pagi buta, sekitar pukul 03.30, alarm berbunyi. Udara dinginnya menusuk tulang, mungkin sekitar 5-8 derajat Celcius. Dengan malas tapi semangat, kami bersiap summit attack.
Perjalanan menuju puncak Triangulasi dan Kenteng Songo tidak main-main. Jalurnya curam dan berpasir. Satu langkah naik, setengah langkah merosot turun. Tapi langit di ufuk timur yang mulai memerah memaksa kami terus bergerak.
Ketika akhirnya kaki ini menapak di Puncak Kenteng Songo, matahari baru saja menyembul malu-malu. Lautan awan terhampar di bawah kami, menutupi kota-kota di bawah sana. Dari kejauhan, puncak Gunung Sindoro dan Sumbing terlihat menyembul dari balik awan seperti pulau melayang. Di sisi lain, Gunung Lawu terlihat samar-samar.
Aku duduk diam di batu puncak, membiarkan sinar matahari pagi menghangatkan wajahku yang beku. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyeruak. Bukan karena aku berhasil menaklukkan gunung ini—karena sejatinya gunung tak pernah bisa ditaklukkan, kita hanya menaklukkan ego diri sendiri—tapi karena aku sadar, tubuhku mampu melakukan hal hebat ini. Aku berterima kasih pada kakiku, pada paru-paruku, dan pada tekadku.
Catatan Kecil tentang "Sampah" dan Etika
Satu hal yang ingin aku tekankan dari pengalaman ini adalah soal kebersihan. Sepanjang jalur via Selo, aku cukup senang melihat kondisinya relatif bersih dibandingkan beberapa gunung populer lainnya. Ranger dan pengelola Merbabu sangat ketat soal aturan "bawa turun sampahmu". Bahkan saat pemeriksaan di basecamp sebelum pulang, sampah kami dicek satu per satu sesuai daftar bawaan (trash check).
Ini pengalaman baru bagiku yang sangat positif. Rasanya lega melihat sabana seindah itu tidak ternoda oleh bungkus permen atau botol plastik. Sebagai tamu, sudah sewajarnya kita menjaga rumah tuan rumah, kan?
Penutup: Pulang dengan Hati Penuh
Turun dari Merbabu rasanya jauh lebih ringan, meski lutut mulai protes minta dipijat. Perjalanan ini bukan sekadar tentang foto estetik untuk media sosial. Ini adalah tentang jeda. Tentang memberi waktu bagi jiwa untuk berdialog dengan sunyi. Tentang menyadari bahwa di luar rutinitas 9-to-5, ada dunia yang luar biasa indahnya yang menunggu untuk disapa.
Bagi kalian yang ragu untuk mendaki Merbabu, pesanku cuma satu: Berangkatlah. Persiapkan fisik, urus perizinan jauh-jauh hari, dan ajak teman-teman yang asik. Lelahnya akan hilang dalam hitungan hari, tapi kenangannya? Itu abadi.
Sampai jumpa di cerita petualangan Zakiya selanjutnya! Jangan lupa main keluar, ya!
Komentar Letisha:
"Zak, jujur ya, pas di tanjakan Pos 3 gue udah sempet mikir mau pura-pura pingsan aja biar digotong ranger turun, sumpah itu tanjakan nggak ada akhlak banget! Kaki gue rasanya kayak bukan punya gue lagi, gemeteran parah. Mana debunya bikin gue ngerasa kayak adonan kue yang ditepungin. Tapi... pas pagi-pagi kita buka tenda di Sabana 2 terus liat Merapi gagah banget di depan muka sambil nyeruput kopi panas lo, gue langsung ngebatin, 'Oke, gue maafin semua tanjakan tadi.' Gila sih, cantiknya nggak masuk akal. Besok-besok kalau lo ajak gue lagi... kasih gue waktu sebulan buat latihan squad jump dulu ya, tapi gue pasti mau ikut lagi sih, hahaha! Thanks udah nyeret gue ke sini!"
.png)
.png)
.png)
.png)