Indahnya Menapaki Pendakian ke Gunung Gede, Cianjur, Pengalaman yang Mengagumkan

Indahnya Menapaki Pendakian ke Gunung Gede, Cianjur, Pengalaman yang Mengagumkan


 Halo, teman-teman pembaca setia! Zakiya kembali lagi di sini. Apa kabar kalian semua? Semoga semangat petualangan di hati kalian masih menyala-nyala, ya. Kali ini, aku membawa cerita yang agak berbeda dari biasanya. Kalau biasanya aku mengulas kafe estetik di pinggiran kota atau staycation manja di hotel butik, kali ini aku memutuskan untuk keluar jauh—sangat jauh—dari zona nyamanku. Yap, aku baru saja menyelesaikan misi "penyiksaan diri" yang berujung manis di salah satu atap Jawa Barat. Duduk manis, seduh kopi kalian, karena aku bakal bercerita panjang lebar soal pengalaman pertamaku menjejakkan kaki di Gunung Gede, Cianjur.




Mengapa Gunung Gede? Sebuah Keputusan Impulsif

Jujur saja, ide ini muncul begitu saja saat aku dan sahabatku, Catlin, sedang scroll media sosial di tengah malam buta. Kami melihat foto hamparan bunga Edelweis yang begitu magis dengan latar langit biru yang bersih. Itu adalah Alun-Alun Suryakencana di Gunung Gede. Tanpa pikir panjang, dan dengan modal nekat (serta fisik yang sebenarnya jarang olahraga), kami memutuskan: "Oke, bulan depan kita ke sana!"

Gunung Gede memang primadona. Ia seperti selebritinya gunung di Jawa Barat. Tapi bagi pendaki pemula (baca: amatir) seperti aku, nama Gunung Gede terdengar mengintimidasi sekaligus menantang. Bukan hanya soal ketinggian 2.958 mdpl-nya, tapi soal cerita-cerita mistis dan fisik yang katanya harus prima. Tapi, rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Aku ingin merasakan sendiri, bukan hanya melihat dari layar ponsel, bagaimana rasanya berdiri di atas awan.

Drama "War" Tiket dan Birokrasi Pendakian

Sebelum kita bicara soal keringat dan air mata di jalur pendakian, mari bicara soal tantangan pertamanya: Birokrasi. Ternyata, mendaki gunung zaman now itu tidak bisa asal datang bawa tas keril. Kita harus booking online atau dikenal dengan istilah SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi).

Sistem booking-nya itu mirip war tiket konser K-Pop! Kuotanya cepat sekali habis, terutama untuk tanggal merah atau akhir pekan. Aku dan Catlin harus standby di depan laptop jam 12 malam teng untuk mengamankan slot pendakian via Putri. Kenapa via Putri? Katanya sih lebih cepat sampai ke Suryakencana, meskipun jalurnya terkenal "jahat" karena tanjakannya yang tanpa ampun.

Selain tiket, ada satu hal lagi yang unik: Surat Keterangan Sehat. Kami tidak bisa sembarangan bawa surat dokter. Pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) sangat ketat soal ini. Kami harus cek tensi dan memastikan kondisi fisik layak. Rasanya seperti mau ikut tes masuk militer, tapi ini demi keamanan kami sendiri juga, sih.



Sambutan Hangat di Jalur Putri

Hari H tiba. Kami tiba di basecamp Putri dini hari. Udara dingin Cianjur langsung menampar pipi, membangunkan setiap sel tubuh yang masih mengantuk. Suasana di basecamp sangat hidup. Ada ratusan pendaki lain yang sedang packing ulang, makan mie instan, atau sekadar merokok sambil ngopi.

Begitu kami mulai berjalan, pemandangan pertama yang menyambut bukanlah hutan lebat, melainkan ladang sayur warga. Wangi tanah basah bercampur dengan bau pupuk kandang (yang anehnya terasa homey) menemani langkah awal kami. Trek awal ini masih ramah, tapi itu cuma jebakan. Begitu masuk batas hutan, "siksaan" yang sesungguhnya dimulai.

Jalur Putri itu tidak kenal kata "bonus" (istilah pendaki untuk jalan datar). Hampir 80% jalurnya adalah tanjakan akar pohon yang curam. Lututku rasanya berteriak protes setiap kali harus melangkah naik setinggi pinggang. Nafasku ngos-ngosan parah. Di sini mental benar-benar diuji. Aku sempat berpikir, "Ngapain sih aku nyusahin diri sendiri begini? Enakan juga rebahan di kasur." Tapi setiap kali melihat pendaki lain—ada yang sudah tua, bahkan ada yang bawa balita—semangatku terpacu lagi. Masak aku kalah?

Keajaiban di Pos Bayangan: "Warung" di Atas Awan

Ini bagian yang paling bikin aku kaget dan takjub. Di Gunung Gede, kamu tidak akan kelaparan (asal bawa uang tunai). Di beberapa pos perhentian, ada warga lokal yang berjualan! Bayangkan, di tengah hutan rimba, di ketinggian ribuan meter, ada bapak-bapak yang jual gorengan hangat, semangka potong, nasi uduk, sampai kopi panas.

Kami berhenti di salah satu pos untuk beli semangka dan gorengan. Rasanya? Masya Allah. Itu adalah semangka termanis dan gorengan terenak yang pernah aku makan seumur hidup. Mungkin karena faktor lapar dan lelah, tapi sensasi makan gorengan panas sambil menggigil kedinginan di tengah hutan berkabut itu pengalaman kuliner yang tidak bisa dibeli di restoran bintang lima manapun. Salut banget buat para pedagang yang setiap hari naik-turun gunung memanggul dagangan mereka. Fisik mereka gokil!

Suryakencana: Surga yang Nyata

Setelah berjam-jam (aku nggak mau sebut berapa jam karena malu saking lamanya) "merayap" di jalur akar, akhirnya kami sampai di pintu gerbang Alun-Alun Suryakencana. Saat itu hari sudah sore, kabut mulai turun.

Teman-teman, percayalah, semua rasa capek, pegal, dan emosi di jalur tadi langsung lenyap seketika.

Suryakencana itu luas sekali. Hamparan padang rumput (sabana) seluas 50 hektar terbentang di depan mata, dikelilingi dinding tebing kawah yang gagah. Dan yang paling ikonik: Bunga Edelweis. Bunga abadi itu tumbuh subur di mana-mana. Ingat ya, jangan dipetik! Cukup dinikmati dengan mata dan kamera.

Kami mendirikan tenda di sana. Suasananya magis. Saat malam tiba, karena cuaca sedang cerah, langit berubah menjadi atap bertabur jutaan bintang (milky way). Aku berbaring di rerumputan (pakai matras tentunya, dingin banget soalnya!), menatap langit sambil ngobrol ngalor-ngidul sama Catlin. Tidak ada sinyal HP, tidak ada notifikasi email kerjaan, tidak ada kebisingan kota. Cuma ada suara angin dan obrolan sayup-sayup tenda tetangga. Itu adalah momen healing terbaik yang pernah aku rasakan. Rasanya damai sekali. Kita jadi merasa kecil di hadapan alam semesta, dan masalah-masalah hidup yang biasanya bikin pusing tiba-tiba terasa sepele.



Puncak Gede dan Aroma Belerang

Keesokan paginya, sebelum subuh, kami summit attack menuju puncak Gede. Dari Suryakencana, perjalannya tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 30-45 menit, tapi jalurnya berpasir dan berbatu.

Sampai di puncak tepat saat matahari mulai mengintip (Sunrise). Pemandangannya? Spektakuler. Kami bisa melihat Gunung Pangrango yang berdiri gagah di sebelahnya, kawah Gunung Gede yang masih aktif mengepulkan asap belerang, dan lautan awan yang menutupi kota-kota di bawahnya. Bau belerangnya cukup menyengat, jadi masker sangat disarankan di sini.

Berdiri di ketinggian 2.958 mdpl membuatku sadar satu hal: Proses tidak akan mengkhianati hasil. Klise memang, tapi benar adanya. Perjuangan nanjak via Putri yang bikin mau nangis itu terbayar lunas dengan pemandangan di puncak ini. Ada rasa bangga yang meledak di dada. "Gila, gue bisa ternyata!"

Jalan Pulang via Cibodas: Lutut Bertemu Batu

Untuk turun, kami memilih jalur Cibodas. Kalau via Putri itu nanjak terus, via Cibodas ini jalurnya lebih landai tapi puanjaaaang sekali. Dan yang paling menyiksa adalah tangganya. Jalur Cibodas didominasi oleh susunan batu yang rapi. Awalnya kelihatan enak, tapi lama-lama lutut rasanya mau copot karena benturan konstan dengan batu keras.

Tapi, jalur Cibodas punya pesona sendiri. Kami melewati hutan tropis yang rimbun, air terjun air panas (iya, airnya panas beneran!), dan jembatan-jembatan kayu yang estetik. Suara burung dan gemericik air menemani perjalanan turun kami yang memakan waktu hampir 6 jam karena kami jalan santai sambil menikmati suasana.

Satu tips dariku: Jangan remehkan perjalanan turun. Seringkali kecelakaan terjadi justru saat turun karena kaki sudah lemas dan konsentrasi buyar. Tongkat pendakian (trekking pole) sangat membantu menyelamatkan lutut kami di fase ini.

Refleksi Zakiya

Pengalaman mendaki Gunung Gede ini mengajarkanku banyak hal. Bahwa batasan diri itu seringkali cuma ada di kepala. Bahwa alam Indonesia itu indahnya keterlaluan. Dan yang terpenting, mendaki gunung itu bukan soal menaklukkan alam, tapi menaklukkan ego diri sendiri.

Apakah aku kapok? Saat di jalur Putri aku sempat bilang kapok. Tapi begitu sampai di rumah, melihat foto-foto di galeri, kok rasanya kangen ya? Kangen dinginnya, kangen capeknya, kangen mie instan di tendanya. Sepertinya aku sudah mulai tertular virus pendaki gunung. Hati-hati ya, virus ini menular!

Buat kalian yang masih ragu, ayo coba sekali saja. Persiapkan fisik, lengkapi gear, ajak teman yang asik, dan berangkatlah. Gunung Gede bisa jadi guru yang baik untuk pendakian pertamamu.




Nah, sebelum aku tutup artikel ini, aku sempat minta sedikit testimoni dari teman seperjuanganku, Catlin, yang notabene adalah anak rumahan sejati yang biasanya paling anti kena debu. Begini katanya saat kami sudah sampai di mobil untuk pulang:

"Zak, jujur ya, pas di tanjakan 'setan' tadi gue sempet mikir mau pura-pura pingsan aja biar dievakuasi ranger, sumpah itu capeknya nggak ngotak! Kaki gue rasanya kayak bukan punya gue lagi, gemeteran parah. Tapi... pas kita duduk diem di depan tenda malem-malem, ngeliat bintang segitu banyaknya sambil nyeruput cokelat panas, gue ngerasa 'hidup' banget. Kayak, it's worth every pain. Tapi kalau disuruh naik lagi minggu depan, NGGAK DULU DEH! Kasih jeda sebulan buat recovery kaki, abis itu ayo gass lagi! Hahaha."

Sampai jumpa di cerita petualangan Zakiya selanjutnya! Jangan lupa jaga kebersihan alam kita, bawa turun sampahmu! Salam lestari!

Lebih baru Lebih lama