Menggapai Atap Jawa Barat: Pertarungan Napas dan Magis di Gunung Ciremai via Apuy
Halo, Sahabat Langkah Zakiya!
Apa kabar kalian semua? Semoga notifikasi blog ini muncul saat kalian sedang bahagia, sehat, dan dompetnya tebal ya, hehehe. It’s been a while! Rasanya baru kemarin aku curhat panjang lebar soal betis yang mau meledak di Jawa Tengah, eh, sekarang jari-jariku sudah gatal lagi ingin menumpahkan cerita baru. Kali ini, aku membawa kalian "pindah" provinsi, sedikit menggeser kompas ke arah barat. Ya, setelah drama dan air mata di gunung sebelumnya, entah setan mana yang merasuki—maksudku, motivasi mana yang mendorongku—untuk menjajal atap tertinggi di Tanah Pasundan. Benar sekali, kawan! Kali ini aku akan bercerita tentang pengalaman "kencan buta" pertamaku dengan Gunung Ciremai (3.078 mdpl) via jalur Apuy, Majalengka. Siapkan camilan, posisi duduk yang nyaman, dan inhaler (siapa tahu kalian ikut sesak napas baca ceritaku), karena perjalanan ini benar-benar menguji kewarasan!
Mengapa Ciremai? Sebuah Panggilan yang Aneh
Jujur, Ciremai tidak pernah ada di top list prioritas pendakianku tahun ini. Reputasinya sebagai gunung dengan aura mistis yang kental dan trek yang "jahat" sempat membuat nyaliku ciut. Tapi, ada pepatah di kalangan pendaki: "Gunung itu memanggil, bukan kita yang memilih."
Semua bermula dari ajakan Nadine, teman seperjuanganku yang kali ini menggantikan posisi Silvi (yang katanya masih trauma tangga kantor setelah pendakian terakhir). Nadine, dengan wajah tanpa dosa, mengirim foto pemandangan kawah Ciremai yang eksotis. "Zak, ini atap Jawa Barat lho. Masa kamu ngaku anak gunung tapi belum sungkem sama Ciremai?" tantangnya.
Terprovokasi? Tentu saja. Maka, disinilah kami. Memutuskan untuk mengambil jalur Apuy di Majalengka. Kenapa Apuy? Riset kecil-kecilan kami mengatakan jalur ini durasinya "sedikit" lebih pendek dibanding jalur Linggarjati atau Palutungan yang katanya bisa bikin lutut copot dan minta pensiun dini. Apuy diklaim lebih ramah, meski belakangan aku sadar, kata "ramah" dalam kamus pendaki itu definisinya sangat bias.
Menuju Majalengka: Pesona Terasering Panyaweuyan
Perjalanan dimulai dari titik kumpul kami di Jakarta menuju Majalengka. Satu hal yang membuatku jatuh cinta bahkan sebelum menyentuh kaki gunung adalah pemandangan di sekitar Basecamp Apuy.
Basecamp ini terletak di Desa Argamukti, Argapura. Kawan, kalau kalian pernah lihat foto-foto viral terasering bawang yang berundak-undak hijau rapi seperti di Ubud atau Vietnam, itu adanya di sini! Terasering Panyaweuyan menyambut kami dengan hamparan karpet hijau raksasa. Udara dingin nan segar langsung menampar wajah, menghapus sisa polusi ibu kota yang menempel di paru-paru.
Kami sampai di Basecamp Apuy sekitar pukul 10 pagi. Suasananya ramai, tapi tertib. Ada banyak warung warga yang menyediakan nasi timbel, gorengan, dan kopi. Zakiya, seperti biasa, tidak bisa menolak godaan bakwan hangat. "Isi tenaga dulu, Nad. Nanti di atas kita makannya cuma angin," dalihku pada Nadine yang sibuk mengecek ulang packing-an kerilnya.
Ritual Registrasi dan Drama Tensi Darah
Sebelum mulai mendaki, ada ritual birokrasi yang wajib dan tidak boleh ditawar: Simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi).
Booking Online: Ini penting! Ciremai sekarang sudah canggih. Kita harus booking slot pendakian jauh-jauh hari lewat website resmi Taman Nasional Gunung Ciremai. Jangan harap bisa "go show" kalau kuota penuh.
Biaya: Total biaya registrasi, asuransi, dan cek kesehatan sekitar Rp 75.000 per orang (harga bisa berubah sewaktu-waktu ya).
Cek Kesehatan: Ini bagian paling menegangkan. Di sebuah pos kesehatan sederhana, tensi darah kami diperiksa. Petugasnya tegas, tidak main-main. Kalau tensi terlalu tinggi atau terlalu rendah, izin mendaki bisa ditahan.
Jantungku berdegup kencang saat manset tensi melilit lengan. "Mbak, rileks ya. Jangan mikirin mantan," canda petugas medisnya. Syukurlah, tensiku normal. Nadine juga lolos. Surat keterangan sehat di tangan, tiket sudah dipegang. Tapi tunggu, tantangan pertama bukan mendaki, melainkan menaiki "taksi" lokal.
Dari Basecamp ke titik awal pendakian (Pos Berod), kami harus naik mobil bak terbuka (pickup). Jalannya? Astaga naga! Menanjak curam, berbatu, dan ngebut! Kami duduk berdesakan di bak belakang, terlempar ke sana ke mari seperti karung beras, sambil tertawa histeris campur takut. Ini wahana rollercoaster kearifan lokal yang sesungguhnya.
Pos Berod ke Pos 3: Pemanasan yang Menipu
Pendakian dimulai dari Pos Berod (1.450 mdpl). Di sini, vegetasi masih hutan damar dan pinus. Jalurnya masih tanah padat yang landai. Aku dan Nadine masih bisa ngobrol santai, membahas gosip kantor, bahkan sempat touch up sunblock.
"Wah, kalau treknya begini terus, kita bisa lari sampai puncak, Nad!" ujarku sombong. Alam sepertinya mendengar kesombonganku dan tertawa.
Masuk ke Pos 1 (Arban) menuju Pos 2 (Tegal Pasang), "wajah asli" Ciremai mulai terlihat. Akar-akar pohon besar mulai melintang di jalur, membentuk tangga alami yang tingginya seringkali tidak masuk akal untuk ukuran kaki manusiaku yang pendek ini. Tanah yang tadinya padat berubah menjadi debu halus karena saat itu musim kemarau.
Debu Ciremai itu legendaris. Ia tidak cuma menempel di sepatu, tapi masuk ke hidung, telinga, bahkan sela-sela gigi. Setiap langkah kaki Nadine di depanku selalu diikuti kepulan debu cokelat yang langsung menampar wajahku. Buff atau masker adalah nyawa di sini. Tanpa masker, paru-parumu akan jadi filter debu alami.
Pos 4 ke Pos 5: Ujian Mental di Hutan Mati
Dari Pos 3 (Tegal Masawa) ke Pos 4 (Tegal Jamuju), hutan semakin rapat. Sinar matahari sulit menembus kanopi pohon. Di sini, keheningan mulai terasa berbeda. Kalian tahu kan cerita-cerita tentang suara gamelan atau langkah kaki tak terlihat di Ciremai?
Aku berusaha tidak memikirkannya, tapi suasana hutan yang lembap dan lumut yang menggantung di dahan pohon menciptakan atmosfer "purba". Jalur semakin terjal. Lutut mulai berteriak protes. Istilah "dengkul ketemu dagu" bukan lagi metafora, tapi realita. Kami harus mengangkat kaki tinggi-tinggi untuk memanjat akar.
Menuju Pos 5 (Sanghyang Rangkah), mental kami benar-benar diuji. Kami berjalan di antara batuan cadas. Napas sudah Senin-Kamis. Nadine yang biasanya cerewet mulai diam seribu bahasa, fokus mengatur napas. "Break bentar, Zak. Aku mau muntah," keluh Nadine. Gejala altitude sickness ringan mulai menyerang. Kami berhenti, memakan cokelat batang, dan minum air madu.
Pos 5 ini adalah batas vegetasi yang cukup jelas. Banyak pendaki via Apuy yang mendirikan tenda di sini karena lahannya cukup luas, meski miring. Tapi kami memutuskan untuk push sedikit lagi ke area yang lebih dekat dengan Simpang Apuy agar summit attack besok tidak terlalu jauh.
Malam itu, kami mendirikan tenda di sela-sela akar pohon besar. Angin Ciremai bertiup kencang, suaranya menderu seperti pesawat terbang yang lewat di atas kepala. Dinginnya menusuk tulang, menembus sleeping bag tebal yang kubawa. Tidak banyak obrolan malam itu, kami langsung pingsan karena kelelahan.
Summit Attack: Menggempur Jalur Lahar
Pukul 03.00 dini hari. Suara alarm terasa seperti terompet sangkakala. Malas sekali rasanya keluar dari kehangatan sleeping bag. Tapi puncak sudah dekat. Dengan hanya membawa daypack berisi air dan kamera, kami mulai bergerak menembus kegelapan.
Jalur menuju puncak dari arah Apuy bertemu dengan jalur Palutungan di sebuah persimpangan yang dinamakan Simpang Apuy. Dari sini, trek berubah total. Tidak ada lagi pohon. Yang ada hanya hamparan batu vulkanik, kerikil, dan pasir.
Ini adalah bagian tersulit. Medannya terbuka, angin menghantam tubuh tanpa ampun. Setiap kali melangkah di pasir berbatu, kaki merosot lagi ke bawah. Mirip seperti berjalan di treadmill yang dipasang di tanjakan maksimal. Satu langkah, tarik napas. Dua langkah, berhenti. Di kejauhan, lampu-lampu kota Majalengka dan Cirebon berkelap-kelip indah, memberi sedikit hiburan di tengah penderitaan ini.
Ada satu momen di mana aku hampir menyerah. Kaki rasanya berat seperti digelayuti beton. "Ayo Zak, dikit lagi! Itu udah kelihatan benderanya!" teriak Nadine yang entah dapat energi dari mana, tiba-tiba sudah 10 meter di depanku. Bohong kalau pendaki bilang "dikit lagi" itu artinya 5 menit. "Dikit lagi" dalam bahasa gunung bisa berarti 45 menit penderitaan.
Puncak 3.078 mdpl: Kawah Ganda yang Menghipnotis
Tepat saat matahari mulai mengintip dari ufuk timur, semburat oranye membelah langit yang biru pekat. Pukul 06.00 pagi, kaki kami akhirnya menapak di bibir kawah.
Alhamdulillah... Rasa lelah itu menguap seketika. Pemandangan di depan mata membuatku lupa cara berkedip. Kawah Gunung Ciremai itu unik dan gila indahnya. Ia memiliki kawah ganda (Barat dan Timur) yang sisa letusannya membentuk lubang raksasa yang menganga lebar. Dinding kawahnya curam dan berbatu, dengan asap belerang tipis yang mengepul malu-malu.
Kami berjalan menyusuri bibir kawah menuju tugu puncak. Angin di sini kencang sekali, bisa menerbangkan topi kalau tidak hati-hati. Dari ketinggian 3.078 mdpl ini, aku bisa melihat Gunung Slamet yang gagah di kejauhan, seolah menyapaku, "Halo Zakiya, sudah sampai sini ya?". Di sisi lain, garis pantai utara Jawa terlihat samar-samar.
Kami duduk bersandar di batu, menyeduh kopi sachet (yang airnya sudah agak dingin, tapi rasanya tetap heaven). Nadine menangis haru. Aku pun berkaca-kaca. Ada perasaan kecil, tidak berdaya, namun sekaligus bangga yang membuncah di dada. Di atas awan ini, semua masalah pekerjaan, tagihan, dan drama kehidupan terasa tidak relevan. Yang ada hanya rasa syukur.
Kami juga menemukan hamparan Bunga Edelweiss di area turun sedikit dari puncak. Bunga abadi itu tumbuh subur, seolah menjadi penjaga setia sang atap Jawa Barat. Ingat ya kawan, JANGAN DIPETIK! Biarkan dia abadi di sana, bukan layu di kamar kostmu.
Perjalanan Turun: Siksa Lutut Jilid Dua
Puas berfoto dan menyerap energi matahari, kami memutuskan turun sebelum asap belerang naik dan angin makin kencang. Turun gunung selalu menjadi paradoks. Napas lebih lega, tapi kaki bekerja dua kali lipat menahan berat badan. Trek berdebu yang licin membuatku terpeleset beberapa kali.
"Aduh! Pantatku!" teriakku saat mendarat mulus di atas tanah berdebu. Celana kotor, tangan lecet, muka cemong. Penampilan kami saat turun sudah tidak ada estetiknya sama sekali. Mirip zombie yang baru bangkit dari kubur, bedanya zombie ini kelaparan ingin makan nasi padang.
Sampai kembali di Basecamp Apuy sore harinya, hal pertama yang kami lakukan adalah lari ke kamar mandi, lalu memesan teh manis panas. Kakiku gemetar hebat saat duduk, efek after-hike yang selalu kurindukan (aneh kan?).
Tips Zakiya untuk Calon Pendaki Ciremai
Sebelum menutup cerita panjang ini, Zakiya punya sedikit wejangan buat kalian yang mau ke sini:
Gaiters adalah Koentji: Serius, pakai gaiters (pelindung sepatu). Kerikil dan pasir di jalur summit itu nakal banget masuk ke sepatu.
Manajemen Air: Tidak ada sumber air yang melimpah di jalur Apuy (kecuali di basecamp). Bawa air lebih, minimal 3-4 liter per orang.
Latihan Otot Kaki: Jangan cuma kardio lari, latihan squat dan lunges. Tangga-tangga akar Ciremai itu tinggi-tinggi banget!
Sikap Sopan: Ini klise tapi nyata. Ciremai punya aura yang "sepuh". Jaga bicara, jangan teriak-teriak sembarangan, dan jangan buang sampah sekecil apapun.
Perjalanan ke Gunung Ciremai memberiku pelajaran baru tentang batas diri. Ia bukan gunung yang bisa diremehkan hanya karena "lebih pendek" dari Semeru atau Rinjani. Ia punya karakter yang keras, tegas, namun menyajikan kelembutan luar biasa saat kita berhasil mencium kawahnya.
Saat perjalanan pulang di dalam mobil, aku menoleh ke Nadine yang sedang memijat betisnya dengan minyak gosok. "Nad, gimana rasanya kencan sama Ciremai?" tanyaku.
Nadine tertawa kecil, matanya setengah terpejam menahan kantuk. "Gila sih, Zak. Itu tanjakan sebelum Pos 5 beneran bikin aku inget dosa-dosa masa lalu. Rasanya mau nangis, mau marah, campur aduk. Lututku kayaknya perlu di-servis habis ini. Tapi..." Dia berhenti sejenak, melihat layar ponselnya yang menampilkan foto kami berdua di puncak dengan latar kawah raksasa. "Tapi pas lihat kawah tadi, rasanya kayak dibayar lunas. Ciremai itu kayak dosen killer yang ngasih nilai A di akhir semester. Galak di jalan, tapi manis di ingatan. Next, kita kemana lagi?"
Sampai jumpa di jejak langkah Zakiya selanjutnya! Jangan lupa main keluar, karena Indonesia itu indah banget!
.png)
.png)
.png)
.png)