Menyapa Atap Jawa Tengah: Kisah Inspirasi, Perjalanan Berkesan, dan Lautan Awan di Gunung Slamet

 

Menyapa Atap Jawa Tengah: Kisah Inspirasi, Perjalanan Berkesan, dan Lautan Awan di Gunung Slamet

Halo, Sahabat Jelajah Zakiya!

Assalamu’alaikum, selamat pagi, siang, atau malam kapanpun kalian mampir ke "rumah" maya ini. Apa kabar hari ini? Semoga semangat kalian masih membara, se-membara betisku yang rasanya masih "berkonde" setelah perjalanan panjang minggu lalu. Jujur saja, saat mengetik tulisan ini, aku masih menempelkan koyo cabe di punggung dan betis. Kenapa? Karena kali ini aku baru saja nekat menantang diri sendiri untuk mendaki atap tertinggi di Jawa Tengah. Ya, benar sekali. Gunung Slamet! Gunung yang katanya "seram" tapi bikin rindu, gunung yang berdiri gagah di ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kalau kalian pengikut setia blog ini, kalian pasti tahu aku biasanya lebih suka pantai atau bukit-bukit santai. Tapi entah kenapa, bisikan angin Banyumas memanggil-manggil namaku kali ini. Jadi, siapkan kopi kalian, duduk yang manis, karena aku akan bercerita panjang lebar tentang perjuangan, debu, dan keindahan magis yang tak akan kulupakan.



Mengapa Gunung Slamet?

Pertanyaan ini sempat muncul di kepala Silvi, teman perjalananku kali ini, saat aku mengajaknya. "Zak, kamu yakin? Itu 'Slamet' lho. Treknya ampun-ampunan!" serunya waktu itu. Memang, Gunung Slamet dikenal sebagai gunung tunggal yang memisahkan diri dari rombongan gunung lain di Jawa Tengah. Bentuknya kerucut sempurna, besar, dan intimidatif.

Tapi justru di situ letak seninya. Aku ingin merasakan sensasi berdiri di tanah tertinggi provinsi ini. Aku ingin tahu, apakah benar treknya se-"jahat" yang orang bilang? Dan ternyata, kawan, spoiler sedikit: treknya memang tidak punya akhlak, tapi pemandangannya sungguh membayar lunas semua sumpah serapah yang keluar dalam hati.



Menuju Basecamp Bambangan: Gerbang Awal

Perjalanan kami dimulai dari jalur yang paling populer, yaitu via Bambangan, Purbalingga (dekat perbatasan Banyumas). Sampai di Basecamp Bambangan, hawa dingin langsung menyergap tanpa permisi. Suasananya khas pedesaan dataran tinggi; wangi tanah basah bercampur aroma sayuran segar dari ladang warga.

Satu hal yang unik di sini adalah keramahan warga lokalnya. "Basecamp" di sini bukan sekadar pos lapor, tapi rumah-rumah warga yang disulap menjadi tempat istirahat pendaki. Kami sampai sore hari, memutuskan untuk menginap semalam demi aklimatisasi. Suasana basecamp riuh rendah oleh pendaki dari berbagai kota. Ada yang sibuk packing ulang keril, ada yang gitaran, ada juga yang wajahnya sudah pucat membayangkan trek besok. Aku dan Silvi? Kami sibuk menghabiskan mendoan hangat. Serius, mendoan di kaki Gunung Slamet rasanya berkali-kali lipat lebih enak!

Tiket Masuk dan Ritual Birokrasi

Sebelum melangkah, tentu ada urusan administrasi. Jangan bayangkan ribet, tapi harus teliti.

  • Tiket Masuk (Simaksi): Sekitar Rp 25.000 per orang. Ini sudah termasuk asuransi.

  • Surat Sehat: Ini wajib! Kalau kalian tidak bawa dari daerah asal, di dekat basecamp ada klinik sederhana yang melayani pemeriksaan tensi dan surat sehat dengan biaya sekitar Rp 20.000 - Rp 25.000.

  • Logistik: Pastikan air cukup. Di Slamet via Bambangan, sumber air sangat terbatas (hanya ada di Pos 5 dan itu pun kadang kering atau keruh). Jadi manajemen air adalah kunci hidup dan mati—atau setidaknya kunci agar tidak dehidrasi di tengah hutan.

Drama "Ojek" dan Hutan Damar

Keesokan paginya, kami memulai pendakian. Nah, ada satu hack yang sangat menggoda iman di Bambangan: Ojek Pendaki. Ojek ini bisa mengantar kita dari Basecamp sampai ke batas pintu rimba (sebelum Pos 1). Jaraknya lumayan jauh kalau jalan kaki, bisa memangkas waktu sekitar 30-45 menit.

Sebagai pendaki yang (mengaku) idealis, awalnya aku ingin jalan kaki. Tapi melihat tanjakan aspal yang curam di depan mata, idealisme itu runtuh seketika. "Pak, Ojek!" teriakku. Dengan membayar sekitar Rp 30.000, kami diantar ngebut melewati ladang sayur. Adrenalin sudah dipacu bahkan sebelum mendaki karena abang ojeknya berasa pembalap MotoGP di jalur tanah.

Sampai di pintu rimba, hutan damar menyambut. Pohon-pohon tinggi menjulang, sinar matahari menerobos malu-malu lewat celah dedaunan. Indah sekali. Tapi jangan terlena, karena dari sini, "pesta" yang sebenarnya baru dimulai.

Pos Demi Pos: Ujian Kesabaran

Gunung Slamet via Bambangan memiliki 9 Pos. Ya, sembilan! Angka yang bikin mental sedikit down kalau diingat-ingat.

  • Pos 1 ke Pos 2: Masih landai, "bonus" (jalan datar) masih bisa ditemukan. Kami masih bisa tertawa-tawa, bikin video story, dan menyapa pendaki lain dengan senyum lebar.

  • Pos 3 ke Pos 5: Di sinilah senyum mulai hilang. Vegetasi berubah menjadi hutan lumut yang rapat. Akar-akar pohon melintang di jalur setapak, memaksa kami mengangkat kaki lebih tinggi. Napas mulai memburu. Di Pos 5 ada mata air, dan di sini juga ada warung warga (saat weekend). Menemukan semangka potong di ketinggian ini rasanya seperti menemukan berlian. Segar luar biasa!



Samarantantu dan Mitos yang Terasa Nyata

Salah satu bagian yang paling membekas di ingatanku adalah perjalanan menuju Pos 4, yang dikenal dengan nama Samarantantu. Konon, ini adalah pos yang paling angker. Ada dua pohon besar yang menyerupai gerbang. Mitosnya, kita tidak boleh berhenti atau mendirikan tenda di sini.

Entah sugesti atau bukan, saat melewati area ini, suasana memang terasa lebih hening. Kabut turun perlahan, membuat hutan menjadi remang-remang meski hari masih siang. Suara burung yang tadi ramai mendadak sunyi. Aku mempercepat langkah, menarik tangan Silvi agar tidak melamun. Kami hanya mengangguk hormat, "Numpang lewat, Mbah," bisikku dalam hati. Pengalaman mistis? Alhamdulillah tidak ada yang nampak mata, tapi vibes-nya memang bikin bulu kuduk sedikit merinding.

Pos 7: Hotel Bintang Seribu

Kami memutuskan mendirikan tenda di Pos 7. Area ini cukup luas dan terlindung dari angin badai dibandingkan Pos 8 atau 9 yang lebih terbuka. Sore itu, kami disuguhi pemandangan sunset yang malu-malu tertutup kabut.

Malam di Pos 7 adalah ujian ketahanan tubuh. Dinginnya bukan main! Jaket tebal, sleeping bag, dan kaos kaki rangkap dua rasanya masih tembus. Kami masak mie instan dan kopi panas. Di momen inilah, obrolan-obrolan deep talk terjadi. Jauh dari sinyal HP, jauh dari deadline pekerjaan, hanya ada aku, Silvi, dan suara angin yang menghantam tenda. Rasanya damai, tapi juga mencekam.

Summit Attack: Pasir, Kerikil, dan Putus Asa

Pukul 02.30 dini hari. Alarm berbunyi. Ini dia menu utamanya: Summit Attack. Kami meninggalkan tenda dan barang berat, hanya membawa daypack berisi air dan cokelat.

Perjalanan dari Pos 7 ke Pos 9 (Plawangan) masih berupa tanah padat dan akar. Tapi begitu lepas dari batas vegetasi (Pos 9), dunia berubah drastis. Tidak ada lagi pohon. Yang ada hanya hamparan batu, kerikil, dan pasir merah yang membentang luas ke atas.

Angin bertiup kencang tanpa penghalang. Debu vulkanik beterbangan. Di sinilah mental diuji habis-habisan. Treknya terkenal dengan istilah "maju satu langkah, merosot dua langkah." Pasirnya gembur. Setiap kali kaki memijak, rasanya sia-sia karena merosot lagi ke bawah.

Silvi sempat mogok di tengah jalur pasir. "Zak, aku nggak kuat. Kamu duluan aja," katanya dengan napas tersengal. Wajahnya tertutup masker dan kacamata debu, tapi aku tahu dia hampir menangis. "Nggak! Kita naik bareng, turun bareng. Pelan-pelan aja, Sil. Itu puncaknya udah kelihatan," bujukku.

Padahal, itu bohong. Puncak Slamet itu terkenal dengan "Puncak Prank". Kita melihat gundukan tanah tertinggi di depan mata, kita pikir itu puncak. Begitu sampai sana, ternyata masih ada gundukan lain yang lebih tinggi di belakangnya. Itu terjadi berkali-kali sampai rasanya ingin banting trekking pole.



Suronegara: Tangis di Atas Awan

Setelah hampir 4 jam merangkak (harfiah merangkak, kadang pakai tangan saking curamnya), bau belerang mulai menyengat hidung. Asap putih mengepul pekat. Dan akhirnya... Puncak Suronegara!

Pukul 06.15 pagi, kami berdiri di titik tertinggi Jawa Tengah. Rasa lelah, dingin, pegal, dan emosi yang tadi meluap, lenyap seketika digantikan rasa haru yang membuncah.

Pemandangannya? MasyaAllah. Lautan awan membentang sejauh mata memandang. Di kejauhan, puncak Gunung Sindoro dan Sumbing menyembul seperti pulau kecil di tengah samudra kapas. Di sisi lain, kawah Gunung Slamet yang aktif menganga lebar, mengeluarkan asap solfatara yang bergemuruh. Suara gemuruh kawah itu terdengar seperti napas raksasa yang sedang tidur. Mengerikan, tapi eksotis.

Aku duduk bersimpuh di bibir kawah (jaga jarak aman, tentu saja), menyesap sisa air minum. Rasanya kecil sekali diri ini. Di kota kita merasa penting dengan segala jabatan dan status, tapi di sini? Kita hanya debu di hadapan ciptaan Tuhan yang megah ini. Ada rasa spiritual yang sulit dijelaskan, sebuah pengalaman batin yang tidak akan didapat di mall atau kafe manapun.

Jalan Pulang yang Menyiksa

Euforia puncak memang manis, tapi perjalanan pulang adalah "siksa kubur" yang nyata. Turun dari jalur pasir memang cepat—bisa main perosotan—tapi debunya masuk ke segala celah pakaian dan tubuh. Sepatu penuh pasir, hidung hitam legam meski pakai masker.

Dan perjalanan dari Pos 9 kembali ke Basecamp terasa 3 kali lipat lebih lama. Lutut rasanya mau copot. Jempol kaki mulai terasa nyut-nyutan menahan beban tubuh saat turunan. Di sinilah kesabaran sesungguhnya diuji. Teman-teman pendaki sering bilang, "Naik karena ambisi, turun karena rindu rumah." Itu benar adanya. Bayangan kasur empuk dan bakso hangat menjadi motivasi utama untuk terus melangkah meski kaki serasa diseret.

Tips Tambahan dari Zakiya

Sebelum aku tutup, ada beberapa catatan kecil buat kalian yang mau ke sini:

  1. Gunakan Gaiters: Wajib! Untuk mencegah pasir dan kerikil masuk ke sepatu saat summit. Kalau tidak, kakimu akan lecet parah.

  2. Masker & Kacamata: Debu di jalur puncak sangat ganas. Jangan cuma bawa satu masker.

  3. Latihan Fisik: Jangan nekat ke Slamet tanpa olahraga. Treknya panjang dan endurance sangat dibutuhkan.

  4. Hormati Alam: Jangan buang sampah sembarangan, dan jangan bicara sompral. Gunung punya aturannya sendiri.


Perjalanan ke Gunung Slamet bukan sekadar wisata, ini adalah perjalanan spiritual dan fisik. Ia mengajarkan bahwa untuk mencapai sesuatu yang indah, ada proses berdarah-darah (atau setidaknya berpegal-pegal) yang harus dilalui. Slamet mungkin tidak menawarkan pemandangan sabana indah ala Merbabu di sepanjang jalan, tapi ia menawarkan kemegahan dan kebanggaan yang berbeda.

Di akhir perjalanan, saat kami sudah bersih-bersih di basecamp dan menunggu bus pulang, aku bertanya pada Silvi. "Sil, gimana? Kapok nggak?"

Silvi menyeruput teh manis panasnya, matanya masih terlihat lelah tapi ada kilatan jenaka di sana. "Jujur, Zak. Pas di jalur pasir tadi aku udah sumpah serapah nggak mau naik gunung lagi. Lututku rasanya kayak engsel pintu karatan. Tapi pas udah di bawah gini, lihat fotonya lagi... kok kangen ya? Kayaknya tahun depan aku mau lagi, tapi please, cari gunung yang ada eskalatornya dikit napa!" ujarnya sambil tertawa lepas. Ya, begitulah gunung. Selalu ada benci yang berakhir rindu.

Sampai jumpa di petualangan Zakiya berikutnya! Salam lestari!

Lebih baru Lebih lama